Sukses

Lifestyle

Menjalani Hidup Sepeninggal Ayah Tidaklah Mudah, tapi Tetap Perlu Ikhlas

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Widya - Samarinda

Tahun baru ini menjadikanku pribadi yang lebih dewasa dan bijak dalam menyikapi hidup. Hidup yang penuh dengan tantangan tapi sarat makna. Mewarnai perjalanan hidup kita yang kelak kita jadikan bahan cerita untuk anak cucu kita di masa yang akan datang. Dan menjadi bahan perenungan untuk bersikap lebih baik lagi, lebih peka dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari kehilangan papa, meraih gelar sarjana tepat waktu, dan masih banyak lagi. Beberapa sudah ada yang terwujud walau ditempuh dengan cara yang sangat tidak mudah.

Kisah ini bermula di kehidupan kami semenjak di tinggal papa untuk selama-lamanya. Tepatnya tahun 2008, saat itu saya yang masih kuliah di sebuah universitas negeri di kota saya. Papa meninggalkan kami selama-lamanya , tepatnya tanggal 05 Januari 2008. Di rumah eyang saya di Yogyakarta.

Saya pun tak bisa berpikir kenapa secepat itu papa meninggalkan saya dan mama. Memang papa meninggal tidak di hadapan kami karena kami berbeda kota. Ya, dua bulan sebelumnya papa minta pulang ke kota kelahirannya, Yogyakarta.

Awalnya, mama melarang karena tidak mau merepotkan keluarga. Tapi, papa bersikeras ingin di sana dekat dengan orangtua dan keluarga. Dan ingin berobat serta didampingi keluarga besar. Akhirnya, mama menyerah dan menyuruh salah satu keluarga ke kota kami karena kondisi papa yang harus didampingi selama perjalanan jauh. Diputuskan kakak ipar mama datang ke kota kami untuk menemani papa dari Bandara Sepinggan ke Bandara Adi Sutjipto. Dan memang benar, tidak mudah membawa orang sakit ke bandara dan ada beberapa prosedur yang harus dipenuhi selama di pesawat. Tidak salah, keluarga menyuruh kakak ipar mama karena kakak ipar mama dulu berprofesi sebagai pramugara jadi dia bisa meng-handle papa selama di pesawat.

Pakde saya menyebutnya, menghubungi kami setelah tiba di Bandara Adi Sutjipto dan keluarga di sana sudah siap menjemput papa dan pakde saya. Setiap hari, kami menelepon untuk mengecek kondisi dan saya juga masih kuliah di tingkat akhir. Selama di sana saya dan mama merasa kesepian karena selama ini kami selalu bertiga, tidak pernah terpisah agak lama.

Alhasil, tagihan telepon membengkak. Tapi, buat mama tidak menjadi masalah karena kesehatan dan kondisi papa lebih penting. Saya pun jadi termotivasi ingin cepat lulus kuliah setelah itu kami menyusul papa ke Yogyakarta. Tapi, di luar dugaan semenjak jauh dari kami, kesehatan papa drop. Apalagi satu minggu sebelum papa meninggal, papa tidak mau makan, maunya ngemil buah saja, susu yang dibikinkan si mbak saja tidak pernah diminum.

Kondisi Papa Terus Menurun

Eyang menelepon mengabari kondisi papa agak menyusut semenjak baru datang dari Samarinda. Mama, akhirnya ngobrol sama papa lewat telepon dan benar saja papa kangen sama kami dan berharap menyusul ke Yogyakarta. Mama, mendengar hal itu langsung berjanji minggu depan menyusul ke Yogyakarta karena harga tiket mahal masuk liburan Natal dan Tahun Baru. Papa pun menyetujui dan menunggu kami.

Malam tahun baru kami menelepon papa mengucapkan selamat tahun baru dan semoga Papa cepat sembuh. Papa pun tak kalah antusias ingin sekali melihat saya diwisuda. Apalagi tidak sampai satu tahun saya lulus kuliah. Benar-benar percakapan telepon yang sangat memorable alias tak bisa dilupakan.

Kami menghabiskan tahun baru di rumah saudara jauh sejenak untuk melupakan kesedihan karena tahun baru pertama tanpa papa karena berbeda kota. Selain itu, papa juga berobat agar bisa sembuh dari sakit yang selama ini papa derita. Namun, kenyataan berkata lain.

Sekitar dua hari kami tidak menelepon papa karena mama nerima pesanan katering tetangga, untuk tambahan uang saku kami ke Yogyakarta. Karena mama sudah berjanji setelah tahun baru kami menyusul ke Yogyakarta menengok papa. Maka, saya pun membantu memasak pesanan katering dibantu dengan beberapa tetangga agar cepat selesai. Jadi, kami tidak menelepon papa.

Setelah itu kami membeli tiket pesawat dan berangkat ke Yogyakarta. Tepat, di tanggal 05 Januari 2008 pagi, telepon pun berdering tapi kami tidak menghiraukan karena masih repot. Tapi, feeling kami tidak bisa dibohongi karena seharian kami memasak dengan perasaan sedih. Entah firasat atau bagaimana, lampu kamar papa tiba-tiba mati padahal lampu baru saja diganti, terus saya sama mama ingin cepat-cepat selesai karena setelah ini mau pesan tiket pesawat. Dan, feeling kami terbukti, sore sesudah Asar setelah semua pekerjaan masak selesai saya sama mama baru membuka handphone. Ada 100 panggilan tidak terjawab. Deg, jantung rasanya berhenti, ada apa ini?

Lalu saya memberanikan diri untuk menelepon balik namun tidak diangkat. Perasaan tidak karuan bercampur aduk. Tak lama telepon pun berbunyi dan saya beranikan diri untuk mengangkat dan benar saja bude menelepon mengabarkan kondisi papa kritis. Bagai tersambar petir saya mendengar kabar itu.

Kepergian Ayah untuk Selamanya

Mama yang berada di samping saya tak kuasa menahan tangis. Tangis pun pecah, mama dan saya berpelukan. Setelah itu mama salat Magrib dan saya pun menelepon keluarga jauh untuk datang ke rumah kami. Tak lama om datang menemui kami, saya saat itu lagi dalam kondisi haid jadi tidak salat dan menunggu berita dari bude.

Selama mama salat Magrib, pandangan saya standby di depan handphone. Cemas dan khawatir jadi satu. Benar saja, lima menit kemudian bude menelepon dan mengabarkan bahwa papa baru saja meninggal dunia. Dunia serasa kiamat. Mama yang sudah selesai salat magrib berada di samping saya langsung teriak histeris dan om yang berada dekat kami langsung memeluk kami. Handphone masih di tangan saya, tapi saya tak kuasa bicara. Kami menangis cukup lama. Setelah itu, baru saya menenangkan diri untuk berbicara dengan bude kalau besoknya kami akan ke Yogyakarta.

Om pun tak tinggal diam dan langsung memesan tiket pesawat PP Balikpapan-Yogyakarta. Dan pesanan katering di-handle sama tetangga yang membantu kita. Keesokan harinya kami terbang penerbangan pertama. Dalam pesawat yang hanya kami lakukan berdoa dan menangis sepanjang perjalanan.

Setelah kami sampai di Yogyakarta kami dijemput sama keluarga. Satu jam perjalanan dari bandara menuju rumah eyang. Setiba di sana, kami disambut tangis dan saya langsung melihat jenazah papa dalam peti. Saya tahan agar tangisan tidak pecah. Saya langsung mengusap pipi papa yang chubby dan wajah papa terlihat lebih cakep, gemuk, dan putih.

Saya mencium pipi papa tak terhitung berapa kali. Kangen dan sedih harus bertemu di saat kondisi papa sudah tidak ada lagi. Jadi, kami harus menerima dengan ikhlas. Jenazah papa sudah suci alias siap disalatkan jadi mama tidak diperbolehkan menyentuh jenazah papa. Teringat kenangan kehidupan semenjak masih ada papa begitu mudah dan indahnya. Saya begitu dekat dengan papa. Papa selama hidup begitu memanjakan saya. Rasanya dunia serasa hancur saat papa meninggal. Akankah saya kuat menjalani hidup tanpa papa yang begitu cepat? Saya berusaha bangkit dari keterpurukan apalagi setelah kami balik dari Yogyakarta.

Pandangan mata tetangga terhadap mama yang seorang janda dianggap sinis. Saya yang akhirnya membuka mata mereka kalau mama adalah janda terhormat. Alhamdulillah saya lulus kuliah sebelum waktunya dengan prediket IPK cumlaude 3,85. Dan tak lama setelah lulus, saya bekerja di perusahaan sawit.

Tidak mudah menjalani kehidupan tanpa papa. Aku dan mama ke mana-mana dianggap sebelah mata. Saya pun merasa terasing di lingkungan sekitar. Padahal kami tidak pernah mengusik kehidupan mereka apalagi mengganggu. Syukurlah, tak lama kami pindah dekat dengan tempat saya kerja. Walaupun mengontrak kami bahagia dan bersyukur. Karena semua aset terjual untuk pengobatan papa yang biayanya tidak murah sampai obatnya didatangkan dari Amerika Serikat. Tapi, kami semua ikhlas menjalani ini semua. Bukankah Allah memberi cobaan karena Allah tahu kita kuat? Allah tidak menguji suatu hamba-Nya di luar batas kemampuan hamba-Nya.

 

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Memilih Berpisah dan Hidup Sendiri daripada Terus Tersakiti
Artikel Selanjutnya
Terima Kasih Menyadarkanku Bahwa tidak Perlu Membandingkan Orang