Sukses

Lifestyle

Dilanda Rasa Bingung setelah Melahirkan, Wajar Dialami Seorang Ibu

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Annisa Nurrahmah - Cimahi

Jauh sebelum menikah, aku sudah membayangkan kelak jika berumah tangga akan memiliki banyak anak yang lucu, pintar, dan menggemaskan. Aku bersedia untuk tidak bekerja di luar rumah demi membersamai mereka nanti. Ya untukku itulah gambaran baik seorang ibu. Menjadi orang pertama yang selalu berada di sisi anak, memastikan proses tumbuh kembang mereka baik.

Pada kenyataannya, pekan pertama menjadi ibu, yaitu saat anak pertamaku lahir, aku mulai merasakan baby blues syndrome. Aku merasa sedih, kacau, gagal menjadi ibu karena ternyata menyusui, memandikan, menidurkan bayi sungguhlah tidak mudah. Proses melahirkan yang melelahkan membuatku ingin tertidur saja seharian. Sementara bayiku menangis setiap saat, terutama malam. Ia mungkin lapar, pipis, atau gumoh.

Bayiku hanya bisa tertidur sambil aku gendong berdiri. Jika kutidurkan di kasur, ia kembali terbangun. Hingga akhirnya aku tidurkan bayiku di atas dadaku, agar aku bisa ikut tertidur sambil bersandar di bantal yang kutumpuk ke dinding. Aku bisa menangis bahkan berteriak menghadapi bayiku.

Memiliki anak memang suatu impian terbesar semua wanita yang telah menikah. Sebesar apa pun kesiapan berumah tangga dan keinginan memiliki anak, wanita akan dihadapkan fase adaptasi dalam menjalankan peran sebagai ibu. Jadi wajar saja jika awalnya seorang ibu yang baru melahirkan anak pertamanya akan merasa bingung dan mulai dihinggapi berbagai emosi negatif. Ketika ibu sadar akan hal tersebut, segeralah bertindak, karena kesedihan yang berlarut akan menimbulkan depresi berkepanjangan dan mempengaruhi tumbuh kembang anak.

Depresi Pasca Melahirkan

Dalam jangka waktu sebulan pertama setelah melahirkan, aku menyadari bahwa gejala depresi pasca melahirkan mulai menguasai diriku. Segera aku mencari berbagai artikel untuk mengetahui cara menanganinya. Saat itu juga aku sampaikan perasaanku pada suami, sehingga ia bisa membantu melawan perasaan negatif dalam diriku. Selain itu aku merasa tertolong dengan kegemaran menulis catatan harian.

Setiap hari aku mulai menulis tentang kegalauan dan perkembangan bayiku dari hari ke hari. Lama kelamaan aku mulai bisa membuang emosi negatif, seiring dengan meningkatkan rasa percaya diri dan kemampuan dalam mengurus bayi. Aku juga bergabung dengan komunitas para ibu di media sosial, sehingga meski aku jarang bahkan hampir tidak pernah keluar rumah, tetap bisa terhubung dan belajar banyak dari pada ibu di luar sana.

Kondisi ibu pasca melahirkan memang dipengaruhi juga oleh perubahan hormon, fisik yang lelah, dan kurangnya beribadah karena sedang nifas. Hal tersebut aku sadari dapat mempengaruhi kondisi hati dan pikiran. Oleh karena itu, seorang ibu yang sedang nifas harus tetap mengoneksikan hatinya pada Allah dengan cara menjaga zikir, berdoa, membaca buku agama, dan senantiasa bersyukur dalam setiap keadaan.

Menjadi ibu yang sesungguhnya memanglah tidak mudah. Membersamai anak adalah proses panjang untuk senantiasa memperbaiki diri demi tumbung kembang terbaik ananda. Semangat para ibu, siapa pun engkau, adalah yang terbaik untuk putra putrimu!

#GrowFearless with FIMELA

;
Loading