Sukses

Lifestyle

Setelah Menjadi Ibu, Tetaplah Penting Menyayangi Diri Sendiri

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: P - Sampit

Seperti tahun-tahun sebelumnya, hampir setiap orang mempunyai target untuk satu tahun ke depan. Tahun kemarin merupakan tahun yang cukup berat buatku, dari pindah tempat tugas sampai LDR lagi dengan suami. Dulu kami memang beberapa kali LDR sewaktu masih pacaran, tapi ini LDR pertama kami setelah 5 tahun menikah, dan semoga LDR terakhir kami.

Sebagai seorang istri dan seorang ibu, aku rasa di tahun-tahun sebelumnya aku masih sering egois. Masih sering baper dan tidak mau mengalah. Ditegur pun kadang-kadang aku masih ngambek. Mood-ku pun seakan naik turun sepanjang tahun kemarin, entah karena capek pulang pergi ke luar kota atau karena pergantian situasi dan kondisi sehari-hari. Aku yang biasanya di kota, tiba-tiba harus pindah ke desa yang di situ tidak ada jalur listrik maupun internet. Aku rasa satu tahun kemarin adalah masa penyesuaian yang cukup berat buatku, juga buat anak dan suamiki.

Tahun-tahun sebelum ini aku seakan lupa untuk menyayangi dan merawat diriku. Aku begitu sibuk dengan urusan kerjaan dan waktuku bantak tersita di perjalanan karena aku harus bolak-balik keluar kota hampir setiap minggu atau paling tidak dua minggu sekali. Meski jaraknya bisa ditempuh dalam tiga jam tapi jalur angkutan yang sulit membuat perjalanan terasa melelahkan. Pun dengan kegiatan mengajar sambil menjaga anak disekolah bukanlah hal yang mudah.

Perlahan aku mulai lupa menyayangi diriku, jika ada waktu aku lebih memprioritaskan pada menghabiskan waktu dengan anakku. Aku tidak lagi pergi ke salon atau melakukan perawatan sendiri di rumah. Kupikir tidak penting lagi tampil cantik secara fisik seperti masih gadis dulu, asal baju bersih dan wangi saja cukup.

Tubuh dan Pikiran Perlu Dijaga

Sampai akhirnya pada satu momen, aku ingat kata-kata ibuku bahwa jika sudah menjadi ibu harus tetap menjaga diri. Bukan cuma menjaga hati tapi juga fisik. Aku seakan tersadar bahwa suamiku juga butuh aku, tidak cuma anakku saja yang butuh aku. Ayah dari anakku juga mempunyai hak melihat istrinya cantik secara fisik seperti sewaktu di pinangnya dulu. Egois kalau aku merampas haknya untuk memanjakan mata dengan melihat istrinya.

Sementara di luar sana, dia yang berprofesi sebagai dosen sehari-hari bertemu dengan rekan-rekan kerjanya yang indah dipandang mata, tak kalah lagi dengan mahasiswi-mahasiswi zaman sekarang yang fashionable sekali. Oleh karenanya aku mulai memperhatikan penampilanku lagi, mulai merawat diri lagi. Selain untuk menghargai diriku sendiri juga untuk memenuhi kewajibanku sebagai istri.

Aku tekan pemikiran-pemikiran bahwa tidak apa tampil acak-acakan di depan ayahnya anakku. Di tahun yang baru ini aku ingin kembali menyayangi tubuhku seperti dulu ketika aku belum menikah. Tak apa jika berat badan tak seringan dulu, perut tak setipis dulu tapi merawat diri tetap perlu. Aku menanamkan itu di benakku lagi setelah beberapa tahun terlena.

Tidak adil rasanya kalau hanya memperhatikan fisik, jiwa juga harus tetap diperhatikan. Biar bagaimana pun, sehat jasmani dan rohani adalah satu kesatuan untuk hidup lebih bahagia. Sebagai seorang ibu dengan anak yang sudah berusia tiga tahun, aku sadar selama ini masih sering kelepasan marah dan tidak sabar. Bukan cuma menghadapi anak, suami, mertua bahkan mamaku sendiri.

Bahagia Bersama-sama

Aku pernah dengar untuk sehat jiwa aku harus membersihkan hatiku dahulu. Untuk bisa menerima nasihat aku harus membuka pikiranku dahulu. Mengawali tahun ini aku mulai berusaha lebih banyak membaca dan belajar hal-hal baru. Dengan begitu aku berharap pikiranku menjadi lebih terbuka. Tak melulu soal akademik yang berhubungan dengan pekerjaan, tahun ini aku ingin lebih fokus pada hal-hal, bacaan-bacaan, nasihat-nasihat yang bisa memperluas hati. Kupikir semakin bertambah umurku, aku sebaiknya lebih banyak mendengarkan.

Aku yang beberapa tahun ini merasa agak kendor beribadah, mulai lagi mengencangkan ikat pinggang. Bagaimana bisa aku yang sudah berumur tiga puluh tahun tidak lebih baik dalam hal beribadah dibandingkan dengan aku yang dulu masih SMA. Bagaimanapun aku masih seorang anak yang wajib mendoakan orang tuaku, apalagi ayahku yang sudah tiada. Anakku juga butuh ibu yang dekat dengan Tuhan, yang tenteram jiwa dan raganya.

Aku tidak mengubur niatku untuk melanjutkan pendidikan magister, tapi tahun ini aku harus menjadi pribadi yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Berniat memang mudah tapi semoga usaha untuk berubah yang sudah kumulai di awal tahun ini akan bertahan sampai tahun berganti. Tak apa tak banyak yang berubah tapi semoga perubahan yang terjadi membawa manfaat dan membahagiakan, paling tidak untuk orang-orang terdekatku.

#GrowFearless with FIMELA

;
Loading