Sukses

Lifestyle

Kedua Orangtua Kita tak Bisa Kembali Muda, Jangan Buat Mereka Kecewa

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Irma Yani - Medan

Menyandang status sebagai seorang mahasiswa tentunya memiliki banyak suka duka. Belajar di kampus besar dan ternama yang menjadi idaman banyak orang, di satu sisi memberikan rasa bangga dan di sisi lainnya justru memberikan banyak tantangan. Masih teringat jelas beratnya perjuangan untuk bisa sampai di titik ini, namun ternyata tidak lebih berat dari perjuangan yang harus dihadapi ketika menjalani satu per satu semester yang teramat membosankan. Tumpukan tugas yang harus dikumpulkan setiap pertemuan, laporan observasi dan catatan, serta berbagai tuntutan dari dosen yang menurut sebagian besar mahasiswa terkesan ‘aneh’. Seperti inilah gambaran kasar kehidupan yang harus dijalani setiap harinya hingga perlahan waktu terus berlalu.

Aku hampir sampai di penghujung ceritaku, tapi telah telanjur lelah. Kondisi fisik, batin, dan mental sudah mencapai fase ‘ingin menyerah’ meskipun garis finish tinggal selangkah. Rasanya enggan melanjutkan semuanya, aku mengalami tekanan dan stres hebat. Aku tak ingin lagi membahas tentang pendidikanku, ingin merasakan kehidupan yang sebebas mungkin, mencari-cari alasan agar tidak menyentuh segala hal yang berkaitan tugas akhirku. Ketika terbersit niat untuk belajar, selalu saja ada alasan yang terlintas dalam benakku agar semua gagal. Masih terlalu pagi untuk belajar, sudah siang saatnya istirahat, sore hari masih sibuk-sibuknya, begitu hingga malam tiba dan terlalu lelah untuk melawan rasa kantuk bila harus belajar lagi.

Aku tenggelam dalam kehidupan tanpa beban. Gadget adalah teman setiaku dari mulai bangun pagi hingga tidur lagi di malam hari, tak pernah sekalipun lepas dari genggaman. What's App, Instagram, dan YouTube selalu menjadi penghibur sekaligus penguras keuanganku. Bagaimana tidak, bayangkan saja berapa banyak kuota habis setiap harinya sebagai sumber tenaga ‘mereka’. Jika aku lapar, aku tinggal menggoyang jempol dan meminta abang ojek online mengantar semua makanan kesukaanku. Terkadang aku jenuh dengan suasana kamar kos lalu pergi mengelilingi tempat-tempat yang sedang hits bersama orang dekatku. Sungguh hidup yang begitu membahagiakan tanpa peduli apa sebenarnya tugas yang harus kuselesaikan.

Kembali Tersadarkan

Suatu hari uangku habis sehingga terpaksa kembali ke rumah di desa. Orangtuaku tidak memberikan kiriman uang lagi, dalam keadaan demikian jangankan untuk mencari kesenangan, untuk makan saja sudah amat sangat terancam. Aku pulang dengan rasa yang entah bagaimana, mungkin lebih condong ke arah sedih sebab aku harus meninggalkan semua kesenanganku di kota.

Berselang beberapa jam perjalanan, akhirnya aku tiba dan disambut penuh suka cita oleh keluarga, terkecuali aku sendiri yang merasa pulang bagai sebuah duka. Semuanya terasa membosankan setelahnya, aku bahkan masih menjalankan sikap bermalas-malasanku seperti saat masih tinggal di tempat kos. Setiap hari aku bangun terlambat dan membiarkan ibuku menyiapkan semua pekerjaan rumah sendirian, sepanjang hari bermain gadget atau hanya sekadar rebahan, persis seperti seorang anak yang tidak berguna.

Suatu ketika, aku menonton sebuah film yang menyentuh hatiku. Film itu bercerita bagaimana besarnya kasih dan perjuangan orangtua membesarkan anak-anak mereka tanpa kenal lelah. Namun, pada akhirnya, tugas sang orangtua selesai dan dipanggil kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Aku tak dapat berdusta film tersebut membuat hatiku terasa sesak. Perasaanku campur aduk, antara takut, sedih, khawatir, dan gelisah semuanya menjadi satu. Sekalipun aku berusaha melupakannya, bagian-bagian yang menyayat dalam film tersebut masih saja memenuhi pikiranku. Kita tidak pernah tahu seberapa lama waktu yang dimiliki di dunia, lalu bagaimana jika esok atau lusa mereka sudah tiada?

Aku menyesali semua perbuatanku, semua hal yang telah kulakukan dan telah kuabaikan. Aku keluar kamar menuju ruang tengah, mendapati mereka sedang bercerita sambil menonton televisi. Aku ikut duduk, sambil menatap wajah mereka. Seringkali mereka mengajakku untuk bercerita atau sekedar makan bersama, tapi aku tak pernah datang. Aku membiarkan semuanya terjadi tanpa menyentuh apa pun, bahkan untuk sekedar bersih-bersih saja aku tak dapat diandalkan.

Begitu indah rasanya menghabiskan waktu dengan gadget-ku, sampai aku tak ingin menghabiskan waktu dengan mereka yang mencintaiku. Mereka bahkan tak pernah menuntut atau memaksaku menyelesaikan tugas akhirku, padahal jika tidak selesai dalam waktu segera maka harus menelan biaya yang lebih banyak lagi. “Selesaikan saja sebisamu, jangan dipaksa jika tidak mampu, kami tidak mau kamu sakit karena itu,” ucapnya, padahal sebenarnya merekalah yang sedang aku sakiti. Tugas akhir itu tidak akan pernah bisa selesai sendiri.

Tidak Bermalas-malasan Lagi

Aku tidak kuat menahan tangisku. Aku kemudian berjalan menuju kamar mandi sambil menghidupkan kran air agar tidak siapa pun dapat mendengar suara tangisku tersedu-sedu. Kudapati sehelai rambut panjang berwarna putih di tepi bak penampungan air, rambut ibuku. Rambut yang menandakan bahwa mereka sudah tidak muda lagi, menua bersama usia. Tanpa kenal lelah mereka selalu mengusahakan yang terbaik bagi anak-anaknya. Bertahan di teriknya panas atau diterpa hujan sekali pun, mereka tetap bertahan demi sesuap nasi dan pundi-pundi rupiah. Segala cara agar anaknya dapat sekolah. Apa yang kuberi sebagai balasan? Jangankan sebuah bantuan, sebuah doa untuk kesehatan dan umur panjang mereka saja tak pernah kupanjatkan. Kupandang kembali wajah mereka, rasanya seperti terkena tamparan keras.

Bak sebuah keajaiban, satu kisah mengubahku hanya dalam hitungan jam. Aku mulai menemani ibuku di dapur, memasak, bersih-bersih hingga mencuci. Aku menemukan kembali semangat belajar yang telah hilang. Aku menyiakan-nyiakan begitu banyak waktu. Di luar sana mungkin banyak yang ingin ada di posisiku namun tidak cukup beruntung, sedangkan aku? Tugasku hanya belajar namun aku malah bermalas-malasan. Aku tidak disuruh bekerja, tidak disuruh mencari uang, hanya disuruh belajar. Belajar satu-satunya tugas terberatku tapi dengan teganya aku malah bermain-main dengan hasil keringat orangtuaku. Aku berubah. Aku hilangkan semua kebiasaan burukku.

Sekarang aku berteman dengan banyak buku dan berbagi canda tawa bersama keluargaku. Aku juga menjaga jarak dari gadget dan menyadari ternyata menjauh dari gadget tidak akan membuhuhku. Menjauh dari segala hal yang tidak mendukung kemajuanku. Gadget sampai membuatku lupa untuk beribadah dan mengucap syukur atas semua yang kumilliki. Tugas akhirku hampir selesai sekarang, setelah melewati berbagai drama dan kesulitan bercampur air mata.

Wisuda di depan mata dan aku tinggal menunggu gelar sarjana. Dapat kubayangkan cita-citaku kini sudah semakin dekat untuk diraih. Akhirnya sebentar lagi aku bisa menggandeng kedua orangtuaku di hari bahagia dan membuat mereka bangga. Kini kubuktikan peribahasa, “Tidak pernah ada kata terlambat untuk memperbaiki semuanya." Jika aku saja bisa berubah, pasti siapa pun bisa. Jangan tunda untuk berusaha, lakukan saat ini juga!

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Bergerak dari Zona Nyaman Menuju Perubahan yang Lebih Baik
Artikel Selanjutnya
Jangan Menyalahkan Tuhan Atas Satu Hal yang Belum Dia Beri