Sukses

Lifestyle

2020: Aku Ingin Berdamai dengan Diriku Sendiri

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Jannah - Tangerang

Page 1 of 366 telah dimulai. Di tahun yang baru dan semangat baru ini, aku ingin mencoba untuk berdamai dengan diriku sendiri. Selama tiga tahun belakangan ini, aku selalu dihantui oleh rasa bersalah dan penyesalan yang mendalam, karena aku gagal dalam mendapatkan beasiswa untuk berkuliah. Karena kondisi perekonomian keluarga yang semakin memburuk, aku memutuskan untuk bekerja di luar kota. Namun, lagi-lagi, aku harus mengalami susahnya mencari pekerjaan.

Mulai dari pekerjaan harian hingga pekerjaan kontrak yang sekarang sedang aku jalani, aku belajar mengenai roda kehidupan. Mulai dari pekerjaan kasar yang sebagian besar dikerjakan oleh laki-laki sudah pernah aku jalani. Rasanya ingin menjerit, menangis, dan menyerah saja dengan mimpiku. Mungkin di saat itulah aku merasa berada di titik terbawah dalam hidupku.

Selama hampir 3 tahun bekerja di pabrik, aku bertemu dengan banyak orang dari daerah yang berbeda. Masing-masing individu memiliki latar belakang yang berbeda. Begitu juga dengan karakternya, ada yang ramah, baik hati, suka membantu, pemarah, sombong dan sebagainya. Dari situ, aku belajar untuk menghargai orang lain. Dari situ pula, aku belajar tentang dunia dan kehidupan yang sesungguhnya. Tentang realita sosial yang sesungguhnya terjadi dalam masyarakat kita.

Sejak kecil aku lahir dan tumbuh besar hingga berusia 19 tahun, di sebuah kota kecil di Jawa Tengah. Tak ayal, jika aksen bicaraku sedikit agak medhok. Aku sering dikata-katai dengan sebutan jawir, jawa metal, jawa medhok dan sebagainya. Tak sampai di situ, aku juga sering di-bully tentang kondisi fisikku. Yang katanya jelek, item, pendek , kampungan, norak, tonggos, bahkan ada satu kata yang paling aku ingat sampai sekarang, ada yang pernah mengatakan kalau aku adalah produk NG alias produk gagal.

 

Tak Mempedulikan Cibiran dan Nyinyiran Orang Lain

Pada awalnya, aku merasa biasa saja. Aku pikir, ah paling itu bercanda saja biar lebih akrab. Namun, lama-kelamaan aku merasa risih. It's okay sebenarnya kalau ngatain aku jawir, jawa metal dan sebagainya, aku nggak masalah. Toh aku emang bener aku dari jawa, cara ngomong aku juga gitu ke jawa-jawaan. Tapi, kalau sudah membahas fisik, sesungguhnya aku merasa sedih.

Dari situ, aku menjadi sangat pemalu, pendiam dan mulai asosial. Kadang aku takut buat nyapa orang duluan, aku takut mereka nggak bakalan nerima aku apa adanya. Aku takut dekat sama orang. Aku takut kalau dekat sama orang, orang itu bakal mem-bully aku lagi. Aku takut bertemu orang banyak. Ketika ke warung atau ke tempat lainnya, aku lebih memilih untuk berjalan di jalan yang sepi.

Rasanya malu dan nggak mau ketemu orang banyak. Bahkan aku pernah muter jauh banget, gara-gara ada cowok-cowok yang lagi nongkrong. Aku juga nggak pede kalau diajak foto atau diajak main sama temen-temen kerjaku. Entah mengapa, aku lebih menyukai kesendirian ini. Aku lebih suka jalan-jalan sendiri, main sendiri, dan bekerja sendiri. Apalagi, aku hidup jauh dari keluarga dan sudah terbiasa melakukan apa-apa sendiri. Namun, aku sadar sesungguhnya aku adalah makhluk sosial yang tidak bisa hidup sendiri dan butuh bantuan orang lain.

Terkadang, aku menyalahkan diri sendiri. Mungkin kalau aku bisa kuliah, aku nggak bakalan kerja kasar kaya gini. Mungkin, kalau dulu aku lebih nekat buat dapet beasiswa, aku nggak bakalan hidup di lingkungan orang-orang yang seperti ini. Namun, Allah sangat sayang kepadaku dengan selalu menegur dan menuntunku kembali ke jalan-Nya, dengan membuat aku merasa bersyukur.

Di tahun yang baru ini, aku ingin sekali berubah menjadi individu lebih baik lagi. Aku ingin belajar menerima keadaanku yang sekarang dan mulai bersosialisasi dengan orang-orang di sekitarku. Aku ingin membuka diri dan berteman dengan orang-orang yang mau menerimaku apa adanya. Selama tiga tahun ini, aku merasa menjadi seorang pengecut dan penakut. Aku takut keluar dari zona nyamanku, karena aku takut gagal lagi.

Tapi sekarang, aku sadar bahwasanya hal itu hanya membuat aku jalan di tempat dan tidak maju-maju. Di tahun 2020 ini, aku ingin lebih berani dalam mengambil keputusan untuk hidupku. Aku ingin teguh dalam pendirian dan tidak mudah terpengaruh dengan omongan orang lain. Semoga target-targetku di tahun 2019 yang belum terwujud, bisa aku raih di tahun 2020 ini. Dan semoga, Allah SWT selalu memudahkan jalanku. Aamiin.

 

#GrowFearless with FIMELA

;
Loading