Sukses

Lifestyle

Keguguran Jadi Pengingat bahwa Anak adalah Titipan Tuhan

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Yani Silvia Dewi - Medan

Payung tidak akan pernah dapat menghentikan hujan, namun payunglah yang dapat kita pakai agar kita tidak basah oleh hujan. Tahun 2019 penuh tantangan dan derai air mata. Terjatuh dan mencoba bangkit dari kegagalan dan rasa kecewa yang mendera. Kehilangan calon anak di usia kehamilan 8 bulan cukup menyakitkan dan meninggalkan luka yang sangat dalam. Tanggal 30 November 2019 saya harus kehilangan bayi yang saya dan suami tunggu selama 3 tahun usia pernikahan kami.

Menerima kenyataan pahit kehilangan anak yang sangat dinantikan membuat saya merasa kecewa, patah semangat, dan marah pada kenyataan, bahkan saya bertanya kepada Tuhan, kenapa harus saya yang menerima kenyataan ini. Saya marah dan memberontak.

Anak pertama yang tidak sempat saya lihat wajahnya, saya dan suami idamkan selama berumah tangga. Banyak pertanyaan bahkan menyalahkan kami kenapa belum juga dikaruniai anak. Pergumulan menghadapi pertanyaan keluarga besar sempat membuat saya patah semangat dan menganggap kami punya masalah kesuburan. Ditambah lagi saya memang sudah tiga tahun mengidap penyakit diabetes tipe 2.

Namun penuh keyakinan dan iman, kami mencoba menerima ketentuan Tuhan, bahwa belum waktunya kami diberi momongan. Syukurlah suami sangat pengertian dan sabar serta memberi dorngan bahwa kami bisa punya anak.

Doa kami pun dijawab Yang Maha Kuasa, tanpa diduga saya dinyatakan positif hamil. Kami menyambut dengan penuh sukacita dan rasa syukur. Karena saya memiliki masalah kesehatan, kami memilih dokter kandungan yang terbaik. Rutin memeriksa perkembangan buah hati kami.

Syukurlah sampai kehamilan 7 bulan, semua terkontrol dengan baik, dan anak kami tumbuh dengan baik dalam kandungan. Tidak pernah kami lalai memeriksa kandungan, walau selama masa kehamilan, saya banyak menghadapi persoalan dan masalah dalam keluarga, termasuk selama hamil, dua anggota keluarga besar kami ada yang meninggal dunia. Yang saya akui itu cukup menggangu kestabilan emosi.

Menelan Pil Pahit

Memasuki usia kehamilan delapan bulan, kenyataan pahit itu membenturkan saya ke dalam lubang kenyataan pahit. Tanpa ada gejala dan keluhan yang cukup berarti dokter mengatakan kepada suami saya bahwa anak dalam kandungan saya meninggal sudah 3 hari.

Hingga pada tanggal 30 November setengah jam sebelum saya diminta menandatangi surat persetujuan operasi caesar, saya baru tahu anak saya meninggal dalam kandungan. Bagai disambar petir siang hari, saya menjerit histeris dan memberontak tidak ingin berpisah dengan bayi saya. Saat itu yang ada di pikiran saya, biarlah saya mati saja bersama dengan anak saya. Namun saya harus menghadapi kenyaatan, walau dengan penuh linangan air mata, saya berpisah tanpa sempat bertemu dengan buah hati saya.

Menutup tahun 2019, saya masih tidak percaya dan tidak mau menerima kenyataan pahit ini. Saya membangun fantasi bahwa ini hanya mimpi, dan saya masih tertidur. Saya tidak mau berdamai dengan kenyataan dan takdir Tuhan.

Keluarga terdekat, terutama suamilah yang membangunkan saya, bahwa ini adalah kenyataan yang menjadi ketetapan dan seizin Tuhan. Tidak ada yang perlu disalahkan, apalagi disesali atas kepergian anak kami.

Bayi lelaki kami yang sangat kami dambakan setiap hari, bukan kepunyaan kami. Dia milik Tuhan yang sebentar dititipkan dalam rahim saya. sebagai tanda saya dan suami tidaklah mandul. Kehamilan saya boleh terjadi karena itu mukjizat Tuhan dan selama saya hamil delapan bulan, saya diberi kesempatan untuk merasakan menjadi ibu walau belum sempurna.

Ikhlas Melepas

Pelajaran yang kami ambil dalam perjalanan rumah tangga, kami belajar untuk ikhlas melepas. Melepaskan yang adalah hak milik Tuhan seutuhnya. Anak bukanlah milik kita, dia hanya titipan. Melepas kepergian milik Sang Khalik, Tuhan yang saya sembah dan imani. Anak kami adalah permata hati kami. Tapi hanya sebentarlah kami berhak menikmati waktu bersamanya.

Saat Dia yang empunya kuasa mengambilnya, rasa terenggut dan dipaksa untuk melepas bayi kami begitu menancap kuat melukai. Tapi Tuhan tetap memberi hati yang kuat dan tegar dalam ketentuan Tuhan yang harus kami hadapi.

Memasuki tahun 2020, saya harus melangkah dengan semangat baru dan tetap percaya bahwa hidup ini harus dijalani dengan iklas. Karena selama kita hidup di dunia ini, kita terus harus berjuang untuk dapat menghadapi tantangan dan persoalan hidup.

Hidup punya caranya sendiri, mungkin hari ini saya punya beban hidup yang berat, luka dan kepedihan yang saat ini saya pikul, mungkin bagi orang lain belum seberapa. Saat rasa kehilangan anak yang terus menghantui tertatih tatih mengumpulkan keberanian diri untuk menghadapi kenyaataan, memungut sisa sisa harapan agar berani mengatakan pada dunia ini kita harus berjuang menghadapi apapun. Dan kami tahu anak kami adalah malaikat mungil kami yang sudah senang berada di surga.

Kami mencintaimu buah hati kami, tapi Tuhan jauh lebih sayang akan engkau. Aku bersyukur engkau pernah menjadi bagian dalam hidup kami, tumbuh dalam rahimku.

Tuhan memang tidak pernah menjanjikan bahwa hujan tidak akan ada dalam kehidupan ini, tapi Tuhan memberikan payung agar kita bisa berlindung. Berlindung dalam kepasrahan kepada-Nya.

Tuhan tahu bahwa kita pasti sanggup menanngung segala persoalan sesuai dengan kekuatan kita. Tidak akan diberi kesusahan melebihi kekuatan kita. 2019 memang mengukir banyak cerita, dan kusongsong 2020 dengan keyakinan bahwa Tuhan terus menemani hidupku, dan akan kutuliskan cerita kembali.

#GrowFearless with FIMELA

;
Loading