Sukses

Lifestyle

Posesif Berlebihan Itu Bukan Tanda Cinta 

Fimela.com, Jakarta Tak pernah ada yang bisa baik-baik saja saat terjebak dalam hubungan yang beracun (toxic relationship). Baik dalam hubungan keluarga, kerja, pertemanan, hingga hubungan cinta, terjebak dengan seseorang yang memberi kita luka jelas membuat kita menderita. Namun, selalu ada cara dan celah untuk bisa lepas dari hubungan yang beracun tersebut. Selalu ada pengalaman yang bisa diambil hikmahnya dari hal tersebut. Simak kisah Sahabat Fimela berikut yang diikutsertakan dalam Lomba Let Go of Toxic Lover ini untuk kembali menyadarkan kita bahwa harapan yang lebih baik itu selalu ada.

***

Oleh: Anggraini Sarah Sulistiyani

Kejadian ini kualaki tatkala aku duduk di bangku kelas 3 SMA. Aku menjalani hubungan percintaan dengan pria yang berusia 2 tahun di atasku.

Hari demi hari berjalan dengan indahnya, meski terkadang ada beberapa kerikil mengganjal dalam kisah percintaan kami. Aku yang saat itu masih sangat awam dalam masalah percintaan merasa berbunga-bunga sekali tatkala pria itu membatasi hampir semua gerakku.

Dia harus tahu ke mana aku pergi. Dia harus tahu apa pun yang kulakukan dan dengan siapa aku saat itu. Dia selalu mengecek ponselku setiap saat kami sedang bersama. Bahkan dia juga membatasi dengan siapa aku boleh berteman. Pria itu meyakinkan berkali-kali bahwa hal itu ia lakukan karena ia sangat mencintaiku dan tak mau kehilanganku. Sedangkan berkali-kali pula kerabatku mengatakan bahwa hubungan kami tidak sehat. Pria itu terlalu posesif untuk sekedar hubungan pacaran. Namun kutepis semua anggapan kerabatku itu. Aku terlalu merasa bahagia dengan segala perhatian dan proteksi yang pria itu lakukan kepadaku.

Hubungan kami berjalan selama 2 tahun pada saat semuanya masih berjalan dengan baik-baik saja. Semua komitmen dan janji-janji semakin mengukuhkan hubungan kami. Semua masih terasa indah dan manis sekali. Hingga akhirnya di tahun ketiga hubungan kami terjadilah badai prahara itu.

Mendapat Pendamping Hidup yang Lebih Baik

Aku tidak habis pikir bagaimana pria itu bisa dengan teganya berselingkuh di belakangku. Apa pun itu masih bisa kumaafkan kecuali yang namanya pengkhianatan dan kebohongan. Kukira segala rasa sayang, kepercayaan, waktu, pikiran, dan energi sudah habis kucurahkan pada hubungan kami, tapi ternyata apa balasannya? Pria itu dengan gampangnya meluluhlantakkan semua. Hancur sekali hatiku. Rasanya aku tak sanggup menjalani kehidupanku. Sakit sekali.

Betapa bodohnya aku yang mau dikekang habis-habisan oleh pria semacam itu dan bisa-bisanya aku menyalahartikan itu semua sebagai rasa cintanya yang begitu besar kepadaku. Aku sudah terlalu sakit. Sia-sia belaka kuhabiskan 3 tahun lamanya untuk pria semacam itu. 

Hingga akhirnya dua tahun kemudian aku dipertemukan dengan pria baik hati yang mampu mengetuk pintu hatiku. Pria yang sekarang menjadi suami dan ayah dari anakku. Sungguh aku beruntung memilikinya. Seorang pria yang bertanggung jawab kepada keluarga. Dan tentunya seorang pria yang setia. Tak terasa usia pernikahan kami hampir menginjak 5 tahun. Aku benar-benar tak menyangka sama sekali aku menikah dengan suamiku ini dan kami bisa bertahan sejauh ini tanpa ada rintangan berarti.

Ternyata kuasa Tuhan sehebat ini. Aku percaya, segala hal pasti ada hikmahnya. Di balik rasa sakit yang kurasakan karena telah menjalani hubungan toxic di masa lalu, pada akhirnya itu semua akan digantikan dengan sebuah hubungan yang penuh cinta dengan pria yang  kini menjadi pendamping hidupku. Dan aku percaya bahwa setelah hujan badai pasti akan selalu muncul pelangi yang indah sebagai pertanda datangnya hari bahagia.

#ChangeMaker

Loading
Artikel Selanjutnya
Cinta Bertepuk Sebelah Tangan yang Menjadi Racun Perlu Dibiarkan Pergi
Artikel Selanjutnya
Cinta Sebaiknya Diiringi dengan Kemampuan Menerima Apa Adanya