Sukses

Lifestyle

Skotlandia akan Jadi Negara Pertama yang Menggratiskan Tampon dan Pembalut

ringkasan

  • Perempuan di seluruh dunia harus mengeluarkan uang yang begitu banyak untuk kebutuhan sanitasi.
  • Namun, pemerintah Skotlandia akan segera menggratiskan biaya tampon dan pembalut untuk perempuan di sana.
  • Jika sudah disahkan, Skotlandia akan menjadi negara pertama yang menggratiskan tampon dan pembalut di dunia.

Fimela.com, Jakarta Ditakdirkan sebagai perempuan itu bukan hanya memiliki begitu banyak peran. Tetapi juga dianugerahi berjibun kebutuhan. Salah satunya, kebutuhan sanitasi pada saat menstruasi. Huffington Post menulis, perempuan di dunia memiliki banyak kebutuhan selama masa haid. Mulai dari obat pereda nyeri haid, obat jerawat, cokelat untuk meredam emosi, hingga tampon dan pembalut yang harganya tidak murah. 

Di Amerika Serikat, tulis Huffington Post, rata-rata perempuan menghabiskan 1.773 dolar AS atau sekitar Rp25 juta (456 kali siklus haid) untuk membeli tampon. Sementara di Singapura, harga yang harus dibayarkan perempuan untuk membeli tampon atau pembalut selama 33 tahun sekitar 4.752 dolar Singapura atau sekitar Rp48 juta. 

Begitu mahalnya biaya sanitasi perempuan, Fast Company melaporkan, pemerintah Skotlandia baru saja mengumumkan akan menggratiskan biaya tampon dan pembalut untuk perempuan Skotlandia. Mereka bisa mendapatkannya secara cuma-cuma di apotek atau juga berbagai pusat komunitas. 

Gratis Tampon dan Pembalut di Sekolah dan Universitas

Sebelumnya, dua tahun lalu pemerintah Skotlandia telah memberikan tampon dan pembalut gratis di sekolah-sekolah dan universitas. Namun, RUU Skotlandia mengenai masalah sanitasi ini belum resmi diputuskan. Namun, hal ini menjadi sinyal baik bagi orang-orang di Skotlandia, sekaligus menandakan betapa seriusnya parlemen menangani masalah kesetaraan gender. RUU tersebut diusulkan oleh anggota parlemen Monica Lennon. 

"Ini sinyal nyata bagi orang-orang di negara ini bahwa betapa seriusnya parlemen menangani kesetaraan gender, kata Monica, seperti yang dikutip dari Fast Company. 

#ChangeMaker

Loading