Sukses

Lifestyle

Terlalu Lama Menutup Diri Berakibat Buruk pada Cara Kita Menilai Karakter Sendiri

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Asafin Napitupulu

Semenjak kecil saya masuk ke golongan anak berkulit kotor (suka main di bawah sinar matahari) dan dekil. Kelas 2 SD saya baru pindah dari kampung dengan taman bermain alam di mana kegiatan selepas sekolah itu wajib berkumpul bersama anak-anak kampung bermain ke sawah dan sungai. Lalu menuju kota di mana taman bermain adalah kursus dan tempat les yang lebih mirip tempat penitipan anak, karena dari pukul enam sore sampai sepuluh malam anak-anak berada di sana.

Saya kepikiran kok saya masih kecil, keringat saya kok banyak ya, rambut saya itu bahkan beberapa jam habis keramas langsung berminyak. Lari-lari sebentar saja udah seperti habis lari marathon. Saya terkenal dengan julukan aneh, pendiam, rambut acak-acakan. Syukurlah saya cukup cerdas hehehe. Dan di umur belum sepuluh tahun saya sudah merasa cukup buruk apalagi perilaku saya bukan tipe yang gampang bergaul.

Ternyata bukan cuma di rumah, beberapa anak di sekolah dan kursus juga menyadari dan mulai membicarakan saya. Ada beberapa anak yang cukup berani untuk mengatakannya, tapi tidak membuat saya banyak berubah. Sampai di masa saya menginjak remaja, kesepian dan butuh teman. Saya tidak menyadari betapa sukanya saya memikirkan banyak hal dan membicarakannya seolah-olah menceritakan kembali semua buku yang saya lahap, saya aslinya cerewet di lingkungan berjumlah kecil. Perlahan-lahan sikap acuh saya berubah menjadi self-intimidate dan orang di depan cermin yang saya lihat setiap pagi itu kelihatan semakin hari semakin menyedihkan.

Saya tidak percaya orang memuji saya, itu karena mereka ada maunya dan saya akan begitu juga kepada orang lain. Saya kehilangan identitas diri, tidak tahu kelebihan saya, menyalahkan diri sendiri dan mendorong semua orang menjauh. Saya sangat membenci semua bagian diri saya terlebih karena saya dulu kerap mengalami pelecehan. Tapi saya tahu kesalahan terbesarnya bukan faktor-faktor lainnya, tapi karena saya menutup diri dari awal. Saya belajar tentang citra diri dari buku, mengikuti kampanye mencintai diri tapi masih menutup diri, bisa ditebak usaha saya gagal.

Suatu hari, mama dan saya berdua berdiskusi tentang masa depan saya dan adik-adik. Kami jarang membicarakan hal-hal mendalam apa pun karena kami jarang berkumpul bersama dan terbuka tentang hal-hal pribadi. Sifat ini ternyata turunan. Kami membicarakan pandangan, nilai-nilai dan cita-cita, walaupun mama saya masih menutup bagiannya untuk dirinya sendiri.

Di satu sesi akhirnya saya terbuka tentang pandangan saya tentang pribadi saya, sambil bercanda dan tertawa saya membicarakan tentang betapa sangat buruknya saya dengan pekerjaan rumah, membandingkan bentuk tubuh saya yang rata padahal bentuk tubuh mama saya curvy, membicarakan betapa bencinya saya pada barisan gigi saya yang berjarang, kenapa rambut saya tipis dan berminyak dan mengeluh tentang wajah saya.

 

Cantik

Tiba-tiba mama saya dengan raut muka serius memandang saya, “Siapa yang bilang? Kau itu cantik!” Hari itu saya tahu saya baru saja melukai hati mama saya, sangat menyesal dan berjanji tidak akan mengatakan hal seperti itu lagi walau sebagian besar masih menjadi masalah pribadi saya.

Ketika mendengar pengakuan dari mama saya hari itu walau mama saya memang sering mengatakan saya cantik, saya mendapat energi dan kepercayaan diri baru. Sebenarnya tidak pernah orang benar-benar mengatakan saya jelek, walau masih ada yang mengatakan si anu lebih cantik. Saya yang berpikir seperti itu, semua hal buruk yang saya pikirkan karena saya menyimpannya sendiri selama ini.

Saya sudah jarang mengatakan betapa bencinya saya terhadap orang yang saya lihat di cermin setip pagi ini. Kadang saya mengatakannya karena saya baru melakukan tindakan bodoh. Setelah menapaki usia dewasa saya baru menyadari bahwa semua orang itu cantik, unik dengan pesonanya masing-masing, orang yang lebih cantik banyak.

Untuk menjadi cantik buat yang ngak dari masa kecilnya dilahirkan cantik ada make up. Bekerja lebih rajin agar bisa perawatan mahal, lebih ekstrem plastic surgery. Kalau anda memang tidak punya hati yang cantik anda akan tetap merasa jelek sampai kapan pun.

Plastic surgery itu salah satu cara untuk menghargai diri sama seperti make up, tidak masalah karena kamu memang cantik. Tapi kalau kamu merasa tetap buruk bukan wajah dan penampilan kita yang salah tapi hati kita, mungkin kita sudah tenggelam dalam penilaian sendiri tentang betapa buruknya kita.

Mama saya benar, siapa yang bilang kita buruk? Akui saja, tidak ada yang benar-benar mengatakannya. Go, talk to someone! Kita sudah berlarut-larut dengan diri kita, terlalu lama menutup diri berakibat buruk dengan cara kita menilai diri kita dan orang lain.

Saya kini sering mengobrol. Kadang-kadang kami saling mencela, tapi tidak ada perasaan buruk di sana. Sakit hati itu tanda-tanda kita masih tertutup dengan penilaian orang lain dan berlarut-larut dengan penilaian kita. Ketika saya kembali kekaca dengan emosi labil memandang diri saya buruk rupa, saya selalu mengingat kata-kata mama saya, kata mamaku aku cantik.

 

#ChangeMaker

;
Loading