Sukses

Lifestyle

Pasangan Berubah setelah Menikah, Bukan Berarti Cinta Luntur Begitu Saja

Fimela.com, Jakarta Mencintai diri sendiri bukanlah tindakan egois. Justru dengan mencintai diri sendiri, kita bisa menjalani hidup dengan lebih baik. Di antara kita ada yang harus melewati banyak hal berat dalam hidup sampai rasanya sudah tak punya harapan apa-apa lagi. Namun, dengan kembali mencintai diri sendiri dan membenahi diri, cahaya baru dalam hidup akan kembali bersinar. Melalui salah satu tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba My Self-Love Story: Caramu untuk Mencintai Diri ini kita akan memetik sebuah inspirasi baru yang dapat mencerahkan kembali hidup kita.

***

Oleh: Maria Kemi Simarmata

Apakah pasangan berubah setelah menikah? Waktu pacaran romantis, sabar, perhatian dan hangat sepanjang waktu tapi setelah menikah? Beberapa wanita pasti mengalaminya. Merasa tidak dicintai, merasa suami tidak mebahagiakannya. Lalu kenapa tidak mencintai diri sendiri sebelum berharap pasangan mencintai dan membahagiakan kita.

Sebelum menikah suamiku adalah kekasih yang romantis, sabar dan perhatian. Apalagi untuk momen–momen tertentu seperti ulang tahun dia tidak lupa memberi hadiah dan suprise. Di momen lain waktu aku sakit dia selalu menelepon menanyakan keadaanku dan datang menjenguk dengan membawa makanan apa kesukaanku. Di momen Valentine tidak lupa cokelat dan bunga, makan malam yang romantis, juga perhatian-perhatian yang lain. Dengan semua perhatianya itu, kebaikan dan sikap dewasanya aku memutuskan menerima lamarannya.

Dua tahun pernikahan semua hal itu hilang, suamiku selalu sibuk dengan pekerjaannya, bahkan di rumah pun dia selalu membawa pekerjaannya. Di hari ulang tahunku hanya ucapan yang kuterima begitu juga dengan anniversary, tidak ada lagi momen romantis itu. Bahkan setiap tugas keluar negeri dia tidak pernah sekalipun mengajakku. Padahal banyak negara yang dia kunjungi seperti Amerika, Hongkong, Filipina, Malaysia dan negara-negara lainnya. Aku menyimpan semua perubahan-perubahan pasangan dalam hati. Dan tidak pernah sekalipun mencurigainya. Aku pikir aku harus mempercayainya, karena aku pun bekerja jadi setidaknya aku mempunyai kesibukan tersendiri.

Perubahan yang Terjadi setelah Pernikahan

Tahun-tahun berganti kami dianugerahi satu anak laki-laki dan satu anak perempuan. Suamiku masih sama. Apa yang aku harapkan tidak kunjung tiba. Setiap aku memberitahunya apa yang aku inginkan, seperti makan malam berdua, nonton atau dia mengajak kami traveling, dia malah marah mengatakan tidak ada waktu dan hanya menghabiskan uang saja. Dan pada saat aku menyinggung hadiah ulang tahun, dia seperti kesal dan menganggapku seperti anak kecil. Daripada menimbulkan pertengkaran-pertengkaran kecil di antara kami jika aku mengungkit hal-hal terrsebut, aku akhirnya hanya menyimpan keinginan-keingananku dalam hati. Lama-lama aku menyimpannya dalam buku kecurigaan semakin ditambah jadi tenggelam dalam emosi dan fantasi paranoid.

Yang paling menyedihkan saat anakku panasnya tak kunjung turun walaupun sudah aku beri obat panas. Suamiku sibuk di kantor, aku menunggunya untuk membawa anakku yang sedang sakit ke rumah sakit. Waktu itu hari sudah malam, aku menunggu sesuai janjinya tapi dia tak kunjung tiba karena masih ada meeting di kantor. Akhirnya aku membawanya sendiri ke rumah sakit. Begitu juga ketika aku sakit dirawat di rumah sakit. Dia tidak pernah menemaniku, hanya menjengukku disaat pulang kantor tidak pernah menemaniku di rumah sakit, menyedihkan bukan?

Semua itu semakin menyiksaku, apalagi kalau mendengar cerita sahabat-sahabatku, suaminya begitu perhatian. Menghadiahkan sebuah gelang di hari anniversary, sahabat yang lain bercerita dihadiahkan sebuah tas cantik dihari ulang tahunnya. Sahabatku yang lain diberi bunga di Hari Valentine. Hatiku semakin iri saat melihat Facebook foto-foto liburan sahabat-sahabatku beserta suami dan anak-anaknya. Sementara suamiku tidak pernah mengajak kami liburan, tidak ada perhatian, tidak ada hadiah bahkan hal yang sederhana mengajak jalan aku dan anak-anak.

Lebih Banyak Bersyukur

Suatu saat aku bertemu dengan sahabatku. Dia menceritakan bahwa suaminya selingkuh dan dia tidak bisa berbuat apa-apa karena tergantung secara finansial, dan dia mempertahankan pernikahan demi anak-anaknya. Kejadian yang menimpah sahabatku membuka mata dan hatiku. Suami yang begitu perhatian, begitu romantis sekalipun bisa selingkuh. Apa yang indah diliat tidak sesuai dengan realita. Lalu kenapa aku mempermasalahkan hal-hal kecil, seharusnya aku masih bersyukur suamiku tidak selingkuh dan pernikahan kami baik-baik saja. Karena suamiku masih mencintai pekerjaannya bukan wanita lain.

Aku mulai berdamai dengan hatiku, lebih bersyukur dan belajar mencintai hidup ini, terlebih mencintai diri sendiri. Daripada menyiksa diri sendiri dengan pikiran-pikiran negatif dan galau dengan keinginan-keinginan terhadap suami yang tidak terpenuhi. Daripada mempermasalahan hal-hal kecil yang akan menciptakan pertengkaran, dan selalu mengharapkan suami seperti suami-suami sahabatku yang penuh perhatian. Lebih baik aku fokus pada diri sendiri. Daripada aku selalu berharap suami membahagiakanku? Bukankah lebih baik adalah membahagiakan diri sendiri, mencintai diri sendiri dulu sebelum pasangan mencintai sesuai standart kita. Karena yang paling bisa mencintai dan membahagaikan kita adalah diri kita sendiri.

Aku akan belajar menangapi perubahannya pasangan dengan lebih wajar, sehingga aku tidak perlu ribet memusingkan pasangan yang berubah. Aku harus berubah belajar untuk mempercayai pasangan. Aku mulai menghilangkan pikiran-pikiran negatif mengenai suamiku. Aku tidak lagi terlalu memikirkan apa yang bisa dia lakukan untuk menyenangkanku namun aku mulai berbuat terlebih dahulu.

Di hari ulang tahunnya aku membuat suprise dengan menyediakan kue ulang tahun dan memberinya hadiah. Aku juga mulai menyenangkan hartiku sendiri dengan membeli barang-barang yang kuinginkan tanpa berharap suami yang membelikannya. Aku bersyukur, aku bekerja sehingga mempunyai penghasilan sendiri. Dengan uangku, aku membeli barang-barang yang kuinginkan; tas, sepatu, baju, perhiasan, dan barang-barang lain yang suamiku tidak pernah membelikannya.

Mencintai Diri Sendiri

Aku juga mulai ikut kelas yoga dan lebih sering ke salon. Aku mulai mengembangkan hobiku dengan mendekor sendiri ruangan-ruangan di rumahku juga kamar anak-anak. Membuat mereka nyaman dan betah di kamarnya merupakan kebahagian tersendiri bagiku. Aku mulai menikmati me time-ku dengan menulis, baca novel atau nonton dramkor. Aku juga traveling dengan teman kantor ke Bromo tetapi pastinya atas izin suami. Dan semua itu membuatku lebih bahagia. Yang terpenting aku lebih banyak meluangkan waktu untuk anak-anak dan suami. Ternyata membuat suami dan anak-anak bahagia juga merupakan kebahagian tersendiri bagiku.

Banyak cara untuk menghargai diri sendiri, banyak cara untuk mencintai diri sendiri. Intinya jangan menghabiskan waktu dengan sia-sia yang pastinya akan menguras energi. Selalu berpikiran positif mengenai pasangan membuatku lebih nyaman. Bagiku dengan melakukan semua hal yang membuat aku bahagia adalah bukti bahwa aku mencintai diri sendiri. Karena kebahagiaan sebuah keluarga terletak pada istri yang bahagia.

Aku juga mulai belajar selalu berusaha bersyukur untuk apa yang aku miliki. Ketika suamiku sibuk bekerja di rumah, aku mengajak anak-anak ke mal, berenang dan ketaman hiburan meski tanpa suami. Dan pada akhirnya suami mau juga diajak jalan sekali-kali berenang atau sekedar makan keluar. Yang terakhir aku juga merencanakan sendiri liburan kami ke Bali, aku memberitahu suami kemudian, kalau sudah begitu dia tidak akan menolak karena semua sudah aku siapkan. Hanya itu satu-satuya cara agar kami bisa liburan sekeluarga. Karena menunggu dia tidak akan pernah terlaksana.

Kalau pasangan tidak bisa mencintai dan memberi perhatian sesuai yang kita inginkan? Tetaplah berusaha dengan mencintai diri sendiri. Dan jangan lelah untuk mencintai dan memberi perhatian kepada suami. Sampai dia sadar bahwa istrinya adalah wanita yang memang pantas untuk dicintai dan diperhatikan.

 

#ChangeMaker

;
Loading