Sukses

Lifestyle

Susah Dapat Pekerjaan, yang Disesali adalah Belum Bisa Membahagiakan Ibu

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: A

Keinginan merantau ke luar kota kembali itu begitu kuat. Nasib masih tidak memperkenankan untuk mengais rezeki ke sana. Mengirim email ke sana ke sini, sia-sia belaka tidak ada satu pun panggilan masuk ataupun jawaban dari email. Hingga kini, di kampung saya hanya kerja serabutan saja. Apa saja yang penting bisa untuk membeli kuota internet dan kebutuhan kecil saya. Kalau dibandingkan kerja di luar kota dulu, gaji yang saya dulu dapatkan bisa untuk membeli apa pun bisa untuk jalan-jalan ke mana pun. Sungguh berbeda sekali dengan kondisi sekarang.

Ditambah COVID 19 jadi makin sulit mau cari kerjaan di luar. Kesempatan kerja itu semakin tertutup. Banyak perusahaan yang merumahkan karyawannya bahkan parahnya mem-PHK mereka. Orang-orang kehilangan pekerjaan. Sungguh biang kerok memang masa pandemi ini. Sektor perekonomian menjadi terpuruk. Akan sampai kapan ya kayak gini, belum ada tanda-tanda akan berakhir. Ketidakpastian ini makin membingungkan, akan sampai kapan saya bisa meraih mimpi mendapat kerjaan di luar kota dan memiliki gaji gede seperti dulu?

Susah Hidup Masa Pandemi

Bertahan di kampung dan bertahan di rumah saja, itu yang saya lakukan hingga kini. Saya tinggal di kampung bersama ibu dan kakak. Kondisi di masa pandemi dengan penghasilan yang ala kadarnya membuat saya merasa menjadi beban bagi ibu saya. Seperti Ramadan yang sudah-sudah, banyak kebutuhan di bulan itu meningkat dibanding bulan biasanya. Ramadhan ini rasanya hati ini mangkel banget. Rasanya tidak bisa berbakti, tidak bisa memberikan apa-apa ke ibu.

Ibu yang mengurus kebutuhan kami di dapur kerap mengeluhkan stok pangan di rumah yang makin berkurang seperti beras. Saking tak ada lagi yang akan dimakan esuk harinya, ibu berkeinginan kembali kerja ke pasar. Sudah hampir setahun ibu tidak kerja di pasar lagi karena sakit kaki yang dideritanya. Ibu yang bersiap akan berangkat, kami cegah agar bertahan di rumah saya. Kakak masih bisa menanggung kebutuhan rumah. Dikatakan, "Nggak apa-apa kita makan apa saja." Ya Ramadan ini kami sekeluarga makan serba apa adanya, tidak seperti Ramadan lalu yang bisa mencicipi takjil enak.

Padahal tahun lalu, rezeki saya lancar bisa membantu ibu. Job yang makin berkurang membuat saya berkurang penghasilan. Tinggal serumah dengan ibu, saya merasa seperti numpang saja, tanpa memberikan imbalan apa pun. Tiap ibu mengeluh masalah dapur, saya cuma terdiam di dalam kamar. Mau bagaimana, satu rupiah tak bisa saya kasih. Rasanya sama saja dengan pengangguran.

Di Bulan Ramadan ini saya berdoa kepada Allah SWT, semoga saya diberikan rezeki untuk membantu ibu. Tak henti-hentinya dalam ibadah Ramadan ini saya memanjatkan banyak doa seperti itu. Sayangnya hingga Idulfitri datang, saya tidak diberikan apa-apa. Agak kecewa sih kenapa Allah SWT tidak mendengarkan suara hati saya. Namun campur tangan-Nya benar-benar beda. Bantuan yang saya harapkan itu saya yang lakukan, malah datang dari orang-orang luar yang begitu peduli kepada kami.

Keluarga saya bisa digolongkan yang tidak mampu di lingkungan kami. Saya bersyukur orang-orang masih memiliki jiwa kepedulian tinggi. Saya pikir di masa susah ini orang-orang tidak akan memberikan kebaikan. Tak henti sembako kami terima hingga Ramadhan berakhir. Seperti beras, minyak, gula, mi instan. Bantuan uang pun datang kepada ibu, tak hanya dari tetangga dan saudara juga dana bansos dari pemerintah. Bersyukur terus menerus saya sampaikan atas kenikmatan ini. Sungguh pemberian di Bulan Ramadan ini lebih banyak kami terima dibandingkan tahun-tahun lalu.

Bersyukur Hidup di Kampung

Hidup di masa pandemi ini memang susah namun selama kita mengingat Allah SWT, Dia akan mengingat kita. Ramadan tahun ini menyadarkan kita semestinya bersyukur atas apa yang sudah Allah SWT berikan selama ini. Sekecil apa pun yang kita dapatkan itu adalah rahmat.

Berasa di kampung, kalau dipikir-pikir sih ya sungguh beruntung saya. Dibandingkan mereka yang harus bertahan hidup di kota, yang susah tidak tak berpenghasilan namun masih punya tanggungan membayar kontrak rumah atau sewa. Saudara saya yang di perantauan mengeluhkan kondisi keuangan yang membutuhkan bantuan. Entah kenapa dia kehilangan uang, padahal dia butuh untuk membayar uang DP untuk KPR. Tahun ini dia berniat tidak lagi mengontrak rumah lagi. Namun kondisi ini pun susah untuk mendapatkan pinjaman dari siapapun apalagi jumlah besar yang diinginkannya. Sedangkan kami yang disambati di kampung tak bisa membantu apa-apa.

Alhamdulilah, Ramadan ini saya bisa mencicipinya hingga tetes terakhir bersama keluarga. Sudah lama saya tidak bersama mereka selama tiga puluh hari Ramadan sepenuhnya. Semenjak kuliah, saya tidak bisa puasa dari awal Ramadan bersama mereka karena masih harus ngampus di perantauan. Bahkan saat kerja pun hampir saya tak bisa pulang karena kesulitan mencari transportasi yang sudah penuh. Saya tidak bisa membayangkan jika tidak bisa lebaran bersama keluarga. Sedih saat mendengarkan curahan hati teman yang tidak bisa merasakan suasana lebaran bersama keluarga di kampung tahun ini.

Selama sebulan di rumah pun saya bisa menikmati ibadah dengan hati yang tenang. Kalau mengingat masa kerja di pabrik dan tinggal di mess saat kerja di luar kota, sungguh susah mencuri waktu untuk beribadah maksimal di bulan Ramadan. Bisa dihitung berapa kali saya tidak bisa salat tarawih di masjid karena jadwal kerja harus masuk shift malam. Mau khatam Al-Qur'an pun susah. Beruntung sekali, Ramadan berada di rumah saya bisa menikmati momen khusyuk dengan bulan penuh kemuliaan ini bersama keluarga.

 

#ChangeMaker

;
Loading