Sukses

Lifestyle

Menjaga Rindu, Terpisah Jarak Bisa Membuat Cinta Tumbuh Lebih Kuat

Fimela.com, Jakarta Punya kisah atau kesan tak terlupakan terkait bulan Ramadan? Atau mungkin punya harapan khusus di bulan Ramadan? Bulan Ramadan memang bulan yang istimewa. Masing-masing dari kita pun punya kisah atau pengalaman tak terlupakan yang berkaitan dengan bulan ini. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam My Ramadan Story: Berbagi Kisah di Bulan yang Suci ini.

***

Oleh: N

Déjà vu, itulah yang kurasakan saat melalui Ramadan di tengah pandemi Covid-19 dan harus berjauhan dengan pasangan. Jauh sebelum adanya pandemi Covid-19 di bumi pertiwi, aku dan pasanganku pernah melewati situasi Ramadan seperti ini. Hanya saja saat itu belum ada pandemi. Yang membuatnya sama adalah saat kami harus saling berjauhan selama Ramadan bahkan sampai Lebaran pun kami tak kunjung dapat berdekatan dan bertatap mata langsung tanpa jarak ataupun layar ponsel sebagai perantaranya.

Akhir tahun 2014, pasanganku mengabarkan bahwa ia berhak atas sebuah slot studi ke luar negeri. That was great news for us, especially for him. He really deserves it. Setelah melewati beberapa rangkaian persiapan yang cukup melelahkan, awal tahun 2015 ia berangkat meninggalkan negeri ini, ribuan mil jauhnya menuju suatu tempat di belahan bumi bagian barat sana. Sebentar lagi yang kami hadapi bukan hanya bentangan jarak yang keterlaluan jauhnya, ada juga perbedaan waktu yang siap jadi kendala utama hingga berkomunikasi tak dapat leluasa.

Laiknya pasangan yang berjauhan, kami pun bertatap muka virtual melalui panggilan video jika sinyal bersahabat atau berbicara lewat sambungan telepon seluler dan saling bertukar pesan setiap harinya. Macam-macam aplikasi kami coba satu per satu, demi menemukan yang paling pas dan cukup memfasilitasi kebutuhan komunikasi kami. Rasa was-was dalam hubungan pernah kami rasakan. Beragam pertanyaan dan berbagai spekulasi pun pernah menghinggapi kepala dan hati kami, hingga tak jarang kami berselisih dan berujung dengan saling berdiam diri.

 

Ramadan Saat Itu

Sekitar pertengahan Juni 2015, kami dipertemukan dengan Ramadan bulan penuh ampunan dan keberkahan yang juga berbalut kerinduan. Bagi kami sungguh tak mudah melewati Ramadan dengan cara seperti ini. Tak hanya terpisah jarak saja, namun perbedaan waktu juga menjadi penyebabnya, belum lagi segala kendala yang kami lewati di hari-hari sebelumnya, Ramadan yang kami lalui pada saat itu seolah memberi tantangan tersendiri bagi kami.

Setelah seharian bekerja dan sore hari pulang ke rumah kemudian menyiapkan beberapa hal untuk buka puasa hingga tiba waktu berbuka dan akhirnya ibadah puasa seharian kututup dengan salat tarawih di musala dekat rumah. Setelahnya, ingin sekali dapat kuhabiskan malam sambil bercengkrama dengan ia yang jauh di sana. Namun, apalah daya, di luang waktuku, ia sedang sibuk berjibaku dengan peluh dan masih menjalani hari dengan rentetan tugas dan kewajiban yang harus dilaksanakan.

Aku tak ingin kesibukannya yang menyita banyak pikiran dan tenaga terganggu karena rengekan rindu dariku, tapi hal ini seringkali jadi pemicu kesalahpahaman kami. Aku yang tak ingin mengganggu dianggapnya abai dan tak mau tahu. Saat aku mencoba menjelaskan, tak jarang ia menganggapku mencari alasan dan sungguh tak berperasaan. Kalau sudah begini, siapa sebenarnya yang tak berperasaan?

Lain waktu, ketika aku baru saja tidur kembali setelah sahur dan salat subuh, ia mengejutkanku dengan panggilan teleponnya. Aku yang baru tidur sebentar terkadang uring-uringan menjawab telepon darinya. Di kala ia ada pada waktu luangnya, aku baru saja memejamkan mata. Karena baru saja terlelap, seringkali saat berbicara mataku masih kriyep-kriyep (kriyep-kriyep: istilah di daerahku untuk menyebut kondisi mata setengah terpejam saat baru bangun tidur), namun pasanganku selalu saja punya cara untuk membuat aku terbangun sempurna dan aku yang tadinya uring-uringan bisa jadi tertawa karena keusilannya.

Ketika tiba waktu berbuka puasa di tempat pasanganku, di sini baru saja menjelang waktu zuhur. Tentu saja aku masih menjalankan ibadah puasa saat ia tengah menikmati menu berbuka puasanya. Kabar baiknya adalah di waktu siang begitu, kesibukan pekerjaanku sudah agak longgar dan sudah memasuki jam istirahat siang. Kami bisa menghabiskan sedikit waktu bersama. Seringkali aku menemaninya berbuka puasa.

Biasanya ia berbuka di lingkungan students dormitory tempat ia tinggal, terkadang di ruang makan, pernah juga di kafetaria sekitar situ, dan bila ia sedang malas keluar, maka ia hanya makan di dalam kamar saja sambil kami ngobrol berdua. Menu paling praktis yang biasa ia siapkan sendiri untuk menu berbuka dan santap sahur ialah setangkup roti tawar atau roti gandum isi telur atau daging sapi olahan dan ditambah irisan tomat atau lembaran daun selada, tergantung persediaan makanan yang ia punya. Jika persediaan roti tawar sedang habis, maka ia akan menggantinya dengan burger bun. Dan jika semua bahan itu tidak ada, maka ia hanya akan menyantap beberapa telur rebus saja.

Menjaga Rindu

Soal makan, pasanganku tak terlalu rewel, aku tidak khawatir soal ini. Hal yang paling mengkhawatirkan darinya justru adalah ia suka lupa makan bila sedang dihadapkan dengan banyak pekerjaan. Meski tidak rewel soal memilih menu berbuka puasa dan untuk santap sahur, tak jarang pasanganku sering mengeluhkan tidak cocok dengan menu-menu masakan yang dihidangkan dari dapur dorm. Ia seringkali bilang bahwa ia rindu sekali makanan Indonesia yang sedapnya nempel di lidah. Jika sudah keterlaluan rindunya, paling banter ia bersama beberapa kawan Indonesia-nya akan pergi ke kawasan China Town di dekat situ untuk sekadar bersua dan mencicipi hidangan Asia, meski di sana tak ada penjual nasi pecel lengkap dengan rempeyek kacanganya, tapi setidaknya cukup untuk mengobati kerinduan lidah akan rasa hidangan Asia.

Aku memahami, memang tak mudah harus menjalankan ibadah puasa di belahan bumi bagian barat sana, ditambah dengan perbedaan kultur, durasi puasa yang lebih panjang ketimbang di Indonesia, dan masih harus menjalankan rangkaian tugas dan kewajiban setiap harinya. Maka jika aku alpa meneleponnya meski dengan alasan tidak ingin mengganggu kesibukannya, ia seringkali tidak merasa setuju atau puas dengan alasanku. Ia selalu bilang, “Mungkin ini terkesan egois atau semauku sendiri or whatever they named it, tapi yang aku rasakan di sini, aku selalu ingin kamu, ingin kamu ada menemaniku, jadi ketika ada satu panggilan video atau telepon yang bisa tersambung, please kita pakai waktu itu sebaik-baiknya, dengan begitu aku merasa kita nggak pernah jauh.”

Sekarang, ketika aku mengingat semua itu, atau ketika kami membicarakan kembali semua yang telah kita lewati, sesimpul senyum pasti menghiasi wajah kami. Malah terkadang tidak hanya senyum saja, seringkali pula kita tertawa mengenangnya.

Ramadan 2020 kembali kami lalui dengan jarak meski tak sejauh yang dulu. Kami tak dapat bertemu bahkan hingga Lebaran kami masih berjauhan, pembatasan akses transportasi di tengah pandemi serta anjuran pemerintah untuk tidak melakukan perjalanan jarak jauh khususnya saat Lebaran, tertib kami patuhi. Selain karena kewajiban kami sebagai warga negara untuk melakukan anjuran pemerintah, hal tersebut kami lakukan juga atas kesadaran pribadi untuk menjaga diri dan orang-orang yang kami sayangi. Kami tidak bertemu bukan karena kami tak rindu. Kami menahan diri dan mematuhi aturan protokol kesehatan justru karena kami begitu saling menyayangi dan kelak di kemudian hari ingin melunasi rindu kami selepas pandemi.

Dari Ramadan yang kami lewati dengan berjauhan, aku banyak belajar untuk menghargai pasangan dan setiap spontanitas yang ia hadirkan. Dari Ramadan di tengah pandemi Covid-19 ini, aku semakin mengerti bahwa tidak ada satu pun dari kami yang tahu bagaimana rupa hari nanti, karena tahun setahun sebelumnya kami masih bisa melewati sedikit waktu Ramadan yang tersisa dengan hangatnya perjumpaan dan manisnya berkumpul bersama untuk mengobati kerinduan yang telah kami tabung lama.

Bagaimanapun bentuk dan rupa Ramadan kali ini, aku percaya Gusti Allah Sang Pemilik Semesta telah mempersiapkan skenario terbaik-Nya, tak hanya untuk kami melainkan juga untuk seluruh umat manusia di bumi ini. Kelak akan ada satu waktu untuk kami dapat melalui Ramadan tanpa berjauhan juga merasakan kehangatan Lebaran bersama penuh suka cita dan meleburkan segala kerinduan yang telah kami simpan sejak lama. Wallahu a’lam bish-shawabi.

 

#ChangeMaker

;
Loading