Sukses

Lifestyle

Cegah Virus Corona dengan Periksa Tekanan Darah Teratur bagi Pengidap Hipertensi

Fimela.com, Jakarta Masyarakat diimbau untuk menjaga tekanan darah dengan cara memantaunya secara teratur agar tekanan darah dapat dikendalikan dan komplikasi yang dapat membuat cacat dan kematian dapat dicegah sedini mungkin.

Hal ini penting untuk dilakukan, terlebih lagi di tengah kondisi pandemi Covid-19 seperti sekarang mengingat tekanan darah tinggi atau hipertensi merupakan salah satu penyakit penyerta (komorbiditas) berbahaya bagi pasien terinfeksi virus Covid-19.

Pedoman American Heart Association (AHA) mencatat, bahwa orang dengan tekanan darah tinggi bisa jadi akan menghadapi risiko komplikasi lebih parah jika mereka terinfeksi virus Covid-19. Data temuan pasien Covid-19 yang meninggal di Indonesia juga menunjukkan mereka paling banyak mengidap penyakit hipertensi dengan komorbiditas penyakit kronis lainnya seperti penyakit jantung, ginjal, diabetes hinggastroke.

Namun sayangnya, sampai saat ini kepedulian terhadap hipertensi dan kesadaran akan pencegahan sekaligus pengobatannya di Indonesia masih rendah. Sebagian besar penderita hipertensi tidak menyadari bahwa dirinya telah menderita hipertensi sehingga tidak mendapatkan pengobatan. Riskesdas tahun 2018 mencatat sebanyak 63 juta orang atau sebesar 34, 1 persen penduduk di Indonesia menderita hipertensi. Dari populasi hipertensi tersebut, hanya sebesar 8,8 persen terdiagnosis hipertensi dan hanya 54,4 persen dari yang terdiagnosis hipertensi rutin minum obat.

dr. Tunggul D. Situmorang, Sp.PD-KGH, FINASIM, President Indonesian Society of Hypertension (InaSH) atau Perhimpunan Dokter Hipertensi (PERHI) mengatakan, dalam masa Pandemi Covid-19 seperti sekarang ini, kami menghimbau agar masyarakat lebih peduliu ntuk secara teratur melakukan Pemeriksaan Tekanan Darah di Rumah (PTDR) dan apabila pada pasien hipertensi muncul gejala awal Covid-19 seperti meningkatnya suhu tubuh, sesak nafas,batuk kering dsb, segera berkonsultasi kepada dokter.

“Terkait dengan pasien-pasien hipertensi yang terinfeksi virus corona, akhir-akhir ini terdapat isu bahwa ada obat anti hipertensi golongan tertentu yang dianggap dapat memperburuk keadaan tapi hal tersebut tidak mempunyai bukti-bukti yang cukup sehingga tetap harus diberikan,” jelasnya.

Memiliki faktor risiko berlipat ganda

dr. Amanda Tiksnadi, Sp.S (K), menjelaskan laporan-laporan yang ada menyebutkan bahwa sekitar 35% pasien covid-19 merupakan pengidap hipertensi, diabetes, maupun penyakit kardiovaskular lainnya. Selain itu juga dilaporkan bahwapengidap penyakit-penyakit tersebut memiliki risiko lebih tinggi untuk terinfeksi dan menunjukkan gejala yanglebih berat bila terinfeksi Covid-19.

“Oleh karena itu, dapat dipahami seorang penderita hipertensi yang terinfeksi Covid-19 memiliki factor risiko berlipat ganda untuk mengalami kerusakan organ multiple, yaitu risiko HMOD akibat hipertensi itu sendiri ditambah dengan risiko komplikasi infeksi covid-19 yang menyerang organ target yang sama dengan hipertensi," ujarnya

Walaupun demikian, masih belum didapatkan bukti yang cukup bahwa hipertensi dan penggunaan obat-obatanti hipertensi berhubungan langsung dengan peningkatan risiko maupun komplikasi infeksi covid-19. Hipertensi terutama dijumpai pada populasi usia lanjut, di mana usia (lanjut) sendiri merupakan factor mayor untuk terinfeksi, dan juga beratnya komplikasi virus Covid-19.

“Kami mengharapkan agar orang yang sudah mengetahui bahwa ia memiliki penyakit hipertensi, untuk tetapmengikuti anjuran terapi terhadap penyakitnya sesuai arahan dokter. Pemantauan secara ketat pada terapi yang diberikan dilakukan agar mencegah perburukan kondisi jika terinfeksi dengan virus ini. Jika seseorang memang mengidap penyakit Hipertensi, maka akan lebih baik tetap mengonsumsi obat dan melakukan tindakan preventif seperti tetap melakukan social distancing, rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan, dan saran lainnya untuk mencegah tertularnya virus Covid-19,” tutupnya.

#Changemaker

Loading
Artikel Selanjutnya
Waspada! Virus Corona Varian dari India dan Afrika Selatan Ditemukan di Jakarta dan Bali
Artikel Selanjutnya
Hati-Hati! Mutasi COVID-19 dari India sudah Masuk Indonesia