Sukses

Lifestyle

Berhenti Jajan Kopi, Bisa Beli Tiket Pesawat dari Australia ke Jakarta

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: Sherly Novellya

Berdasarkan pengalaman pribadi, tantangan terbesar menjadi orang dewasa itu adalah mengatur keuangan. Apalagi yang namanya ngantor di kota besar seperti Jakarta, ada saja godaannya. Sejak lulus S1, saya berkantor di lantai 23 di area Sudirman, Jakarta Pusat. Kolega yang asyik, atasan yang kompak, dan tim yang doyan ngemil, membuat suasana ngantor sungguh menyenangkan.

Setiap waktunya makan siang, kami satu tim akan ramai-ramai berjejalan ke dalam lift untuk kemudian menuju tempat jajan favorit di sebelah gedung kantor kami. Siomay, batagor, ketoprak, nasi uduk, sebut saja, semua ada. Waktu makan siang sudah ibaratnya 'pesta kecil' bagi kami. Setelah makan siang selesai, apakah langsung balik ke kantor? Uh, tidak dong. Kami akan ramai-ramai mengantre di kedai kopi favorit di lantai dasar gedung kantor kami. Ah, segelas cappuccino atau caramel frappe rasanya begitu pas untuk menemani tugas-tugas kantor yang menumpuk!

Setelah menyelesaikan pendidikan master di negeri Kanguru, saya memutuskan untuk menetap di kota Melbourne, Australia. Kebetulan pacar yang adalah warga negara Australia sudah mantap mengajak saya melangkah ke pelaminan. Saya pikir, berkantor di Melbourne akan menghilangkan kebiasaan jajan saya karena harga makanan dan minuman di Australia tidak bisa dibilang murah. Satu gelas kecil kopi rata-rata berharga 4 dollar, dan satu porsi makan siang yang termurah adalah sekitar 10 dollar. Tapi ternyata, eh lagi-lagi saya terpeleset dengan kebiasaan jajan.

Berhenti Boros

Tim satu divisi yang campur-campur, yaitu dari Vietnam, Iran, Sri Lanka, Yunani, Israel, China, dan Nepal, membuat kami begitu bersemangat untuk mencoba makanan dari negara-negara berbeda setiap waktu makan siang tiba. Kebetulan gedung kantor kami terletak di area Collins Street, di mana berbagai restoran mancanegara berada. Di pusat kota Melbourne, hampir setiap 200 meter terdapat satu kedai minuman. Jadilah selesai santap siang, kami akan ramai-ramai melipir ke kedai jus atau milk tea, menyerbu minuman favorit masing-masing.

Satu tahun berkantor di Melbourne membuat saya berpikir, satu gelas kopi seharga 4 dollar dikalikan 20 hari kerja dalam sebulan saja sudah membuat saya menghabiskan sekitar 80 dollar. Dikalikan setahun, itu artinya sekitar 960 dollar! Saya bisa membeli tiket return pulang ke Jakarta dengan maskapai terbaik tanah air kita, itu pun masih bersisa.

Akhirnya, saya memutuskan untuk mengerem kebiasaan jajan kopi saya, dan mulai membawa gelas tumblr sendiri. Di kantor memang sudah disiapkan teh, kopi, gula, dan tidak lupa ada sebuah mesin kopi yang lumayan canggih. Saya meminta kolega untuk mengajari saya menggunakan mesin kopi itu. Kebetulan, sewaktu kuliah dulu ia adalah seorang barista, sehingga ilmu membuat kopinya begitu mumpuni. Saya membatasi kebiasaan jajan kopi menjadi maksimal hanya satu kali dalam seminggu.

Setahun berselang, akhirnya saya benar-benar mudik ke Jakarta dengan uang tabungan dari kebiasaan jajan kopi! Tidak lupa saya membelikan oleh-oleh kesukaan ibu saya, yaitu kacang honey macadamia, lamingtons, dan madu hanuka. Ah, bahagia rasanya bad habit saya berbuah menjadi senyum manis di wajah ibu tercinta.

#ChangeMaker

;
Loading