Sukses

Lifestyle

Pentingnya Mengubah Kebiasaan Main Ponsel bagi Ibu setelah Punya Anak

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh: Nur Asiyah

Pernahkah kamu merasa mampu melihat semut nan jauh di sana sementara gajah yang ada di depan mata tidak dijangkau oleh pandangan? Contohnya, saat kamu terlalu asyik dengan ponsel dan melihat isi dunia hingga tidak menghiraukan apa yang ada di sisi kamu sebenarnya. Seharusnya yang ada di depan mata diperhatikan lebih dahulu, tetapi semua menjadi tak penting karena terlalu fokus dengan apa yang ada di dalam benda persegi panjang itu.

Sudah bukan rahasia lagi, adanya perkembangan teknologi membuat ikatan manusia terhubung dengan mudah. Bukan hanya tentang media sosial, tetapi juga permainan, hiburan, dan rutinitas pekerjaan. Namun, dengan adanya teknologi semacam ponsel maupun laptop, kita cenderung fokus pada apa yang ada di dalamnya daripada apa yang terjadi di sekitar kita secara langsung. Saya tidak akan menunjuk orang lain tentang permasalahan ini, tetapi saya sendirilah yang telah merasakannya.

Sebagai seseorang yang cukup menyukai kesendirian sejak kecil, saya merasa senang dengan hadirnya gawai dan laptop. Sejak remaja saya lebih aktif di dunia maya daripada dunia nyata. Lalu, saat SMA dan kuliah saya bisa menghabiskan hari dengan hanya berkutat bersama ponsel dan laptop. Ditambah, ketidakmampuan saya untuk multitasking membuat semuanya terkesan hanya satu arah. Saya tidak menganggap yang lain dan perhatian saya hanya pada ponsel atau laptop semata. Banyak hal yang saya lakukan untuk menghabiskan waktu di antaranya berselancar internet, menonton drama Korea, menulis artikel, cerpen, dsb. Hingga sering ibu saya meneriaki dari luar kamar agar saya ke luar dan tidak mengurung diri di kamar.

Sepertinya, kebiasaan saya yang tak bisa lepas dari ponsel maupun laptop terbawa hingga saya menikah. Awalnya, semua baik-baik saja. Saya masih bisa melakukan kebiasaan saya karena suami pun tak melayangkan protes. Lalu, semua mulai terasa buruk saat si kecil Moenbi lahir.

 

 

 

 

Kelahiran si Kecil

Bagaimanapun bayi mungil saya butuh perhatian, kasih sayang, dan banyak waktu untuk dihabiskan dengan orangtuanya. Beberapa hari pasca Moenbi lahir, saya merasa begitu tertekan. Saya harus menyusui Moenbi tepat waktu yakni maksimal dua jam sekali. Namun, di kecil Moenbi tidak sesabar itu. Hampir tiap jam dia menyusu dan saya tidak bisa berkutik. Apalagi saat itu Moenbi terlihat sedikit kuning, saya harus mendengar banyak komentar yang membuat saya semakin down tetapi di waktu bersamaan saya tidak mendapatkan sesuatu yang bisa menghibur hati.

Selama beberapa saat, saya masih menyalahkan keadaan. Di satu sisi saya begitu menyayangi buah hati saya. Akan tetapi, saya juga tidak rela jika kebiasaan saya terusik, bahkan oleh bayi nan lucu ini. Sampai sebuah kejadian menyadarkan saya bahwa saat ini saya berada di posisi yang salah.

Suatu hari saya terlalu asyik dengan ponsel. Selain karena ada kepentingan untuk membalas chat di Whatsapp, saya juga sedang menghibur diri dengan berselancar di Instagram. Tak sampai sepuluh menit, si kecil menangis minta susu, saya pun menyusuinya. Di tengah kegiatan menyusu, ternyata si kecil sempat berak. Tentu popok sekali pakai yang digunakan sudah tidak layak untuk dikenakan. Namun, sayangnya, saat itu saya terlalu fokus dengan ponsel hingga saya melupakan popok Moenbi yang kotor.

Mengatur Prioritas

Setelah menyusui, saya membantu suami untuk menjemur pakaian. Saat itu si kecil dibawa oleh mertua karena beliau tidak tega jika si kecil mengoceh sendirian. Saat itulah kelalaian saya terkuak. Saat mertua memeriksa bokong si kecil, ruam merah telah terbentuk dan saat mertua memegang ruam tersebut, si kecil menangis. Saat itu mertua sangat marah. Saya yang lalai telah menyakiti buah hati saya. Saya mengaku salah dan merasa sangat bersalah. Namun, usai ganti popok si kecil kembali ingin saya pangku untuk menyusu. Saya serasa ingin menangis, tetapi si kecil malah memegangi bibir saya dan dia tersenyum dengan riangnya.

Mulai saat itulah saya benar-benar membagi waktu. Saya mencoba memahami mana yang bisa saya kerjakan sekaligus dan mana yang harus membuat saya fokus. Saya tidak ingin hal-hal yang sebenarnya ada dikejauhan malah terlihat dekat dan perlu diperhatikan, sementara apa yang ada di sisi malah terabaikan.

Mungkin sebuah kebiasaan bisa diubah saat kita telah merasakan akibat buruk darinya. Seperti apa yang telah saya rasakan. Namun, ada juga kebiasaan yang bisa diubah tanpa kita harus merasakan sakit terlebih dahulu. Bagaimana pun, sesuatu yang berlebihan tidaklah baik. Meskipun untuk mengikuti perkembangan dunia masa kini, terlalu fokus dan mengabaikan hal-hal di sekitar kita adalah salah.

Pilihlah kebiasaan yang bermanfaat. Tidak hanya untuk kita, tetapi juga untuk orang-orang yang kita sayang. Mengurangi suatu kegiatan bukanlah dosa, jadi tidak masalah jika kita berusaha menyeimbangkannya.

Terima kasih sudah menyimak. Tetap jaga kebersihan dan kesehatan di masa transisi New Normal. Semoga senantiasa terlindungi dan berbahagia.  

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Bikin Bisnismu Kembali Bangkit di Tengah Pandemi Corona
Artikel Selanjutnya
4 Zodiak yang Sering Memiliki Masalah dengan Pasangannya