Sukses

Lifestyle

Pola Makan Teratur Berpengaruh Besar pada Kondisi Kesehatanku

Fimela.com, Jakarta Mengubah kebiasaan lama memang tidak mudah. Mengganti kebiasaan buruk menjadi kebiasaan baik pun kadang butuh proses yang tak sebentar. Membuat perubahan dalam keseharian dan hidup selalu memiliki perjuangannya sendiri. Melalui Lomba Change My Habit ini Sahabat Fimela berbagi kisah dan tulisannya tentang sudut pandang serta kebiasaan-kebiasaan baru yang dibangun demi hidup yang lebih baik.

***

Oleh:  Retno Noviisnani

Hai, namaku Novi. Badanku mungil dan banyak orang yang tidak percaya kalau aku sudah pernah melahirkan. Ya aku memang pernah, tapi 3 hari kemudian anakku kembali diambil Sang Pencipta dikarenakan paru-parunya belum berkembang dengan baik. Namun bukan itu yang akan kuceritakan kali ini, ini tentang suatu kebiasaan burukku yaitu menyepelekan kondisi badan dengan tidak teratur makan dan tidak olahraga.

Sejak kecil aku memang tidak membiasakan diri sarapan, selain itu aku dikenal sebagai orang yang susah makan. Maksud susah makan di sini bukan karena pilih-pilih makanan tapi kalau tidak merasa lapar meskipun sudah waktunya makan maka aku tidak akan makan. Aku dulu heran kenapa dipaksa makan padahal aku merasa baik-baik saja dan tidak lapar.

Apalagi selama pandemi ini, mungkin bagi sebagian orang akan tambah sering makan ataupun ngemil dengan cara bereksperimen di dapur, tapi aku merasa malah makin mager untuk ngemil atau makan. Seperti bisa setiap pagi sewaktu perutku kosong aku buat kopi, kopi membuatku lumayan kenyang sehingga jika siangnya aku merasa belum lapar, aku bisa makan siang ketika sore hari, jika makan siangku kesorean maka aku bisa skip makan malam karena aku masih merasa kenyang. Ya seperti itulah pola makanku.

Sampai suatu sore ketika dari pagi perutku belum kuisi makanan berat apa pun, aku beli batagor pedas karena sudah lama aku ingin batagor. Malamnya aku tidak ikut makan karena masih kenyang, aku hanya menemani suami makan malam. Tiba-tiba ketika subuh aku terbangun dan merasakan perutku melilit sekali, otomatis aku langsung ke WC untuk buang hajat. Namun aneh pikirku, sampai pukul 09.00 perutku melilitnya masih sama dan sudah empat kali aku buang-buang air.

Tidak hanya buang air, aku juga muntah-muntah yang isinya juga air, apa pun yang aku masukkan termasuk obat maag setelah itu pasti keluar lagi. Aku merasakan lemas bahkan hampir pingsan rasanya sewaktu di kamar mandi. Kulihat bibirku pucat, aku istirahat di kamar dan suamiku jelas mengkhawatirkan aku. Akhirnya siang hari aku sudah tidak kuat, perutku masih melilit dan rasa mualku belum juga hilang, aku minta diantar ke rumah sakit. Memang banyak orang yang menghindari datang ke rumah sakit di masa pandemi saat ini, tapi apakah aku punya pilihan lain ketika kondisiku seperti ini.

Sampai di rumah sakit aku langsung ke IGD, saat dicek darah hasilnya ada banyak bakteri dalam darahku dan imunku drop sekali. Kemudian aku disarankan oleh dokter untuk rawat inap untuk diobservasi lebih lanjut karena ditakutkan aku terkena Covid-19, aku pun pasrah karena akan lebih bahaya jika memang aku terkena Covid dan aku di rumah padahal ada orangtuaku yang termasuk dalam golongan rentan.

Menjaga Pola Makan Lebih Teratur Lagi

Aku ikuti semua prosedur pengecekan dari rapid test sampai rontgen thorax. Alhamdulillah hasilnya baik dan aku terkena diare karena setelah dites (maaf) feses juga ditemukan spora. Di samping itu, kondisiku drop sekali karena asam lambungku kambuh, ya itu tadi karena pola makanku berantakan sehingga berdampak pada imun tubuhku.

Setelah dirawat selama 3 hari akhirnya keadaanku membaik dan dokter membolehkanku untuk pulang tentunya dengan berbagai pantangan makan dan minum serta berpesan untuk menjaga pola hidup sehat kemudian disuruh kembali 3 hari kemudian untuk kontrol. Ketika kontrol aku sudah tidak ada keluhan, jadi dokter kembali berpesan kepadaku untuk menjalani pola hidup sehat, menjaga makan dan olahraga.

Semenjak saat itu aku jadi menyesal telah semena-mena terhadap tubuhku, mereka membantuku bernapas, beraktivitas, dan berpikir maka seharusnya mereka mendapat nutrisi dan perlakuan yang baik dariku si empunya tubuh. Sekarang aku sudah mengubah gaya hidupku, aku bersepeda di pagi hari sambil berjemur, aku selalu makan 3 kali sehari dan tidak pernah telat, jika aku lapar tapi belum jam makan maka aku ngemil buah dan minum air putih sehari 2 liter.

Sungguh hal yang menggembirakan dan menenangkan adalah menjadi sehat, kita jadi bisa beraktivitas apa pun yang kita mau. Jangan sepelekan kesehatan tubuhmu meskipun pikiranmu terkadang lelah, sejatinya kita harus bersyukur diberikan tubuh yang lengkap dengan cara merawatnya dengan baik.

Semoga cerita ini bisa memberi sedikit dampak baik bagi teman-teman yang mungkin masih cuek terhadap kesehatan sepertiku dulu. Apalagi masih masa pandemi seperti ini kita harus makin mendisiplinkan diri untuk senantiasa menjaga kesehatan, pola makan, kebersihan diri dan apa yang kita konsumsi serta olahraga. Semoga juga pandemi ini segera berakhir, semoga kita selalu diberikan kesehatan. Amin.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Belajar Peka, Inilah 5 Hal yang Menandakan Bahwa Hatimu Sedang Lelah
Artikel Selanjutnya
Lebih Berani Tampil di Depan Umum dengan Mengubah Cara Berpikir