Sukses

Lifestyle

Pengalaman 21 Tahun Melewati Ujian dalam Rumah Tangga dengan Suami Tercinta

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Noer Ima Kaltsum

Setiap orang yang sudah berkeluarga pasti menginginkan keluarganya bahagia. Tak ada badai dalam rumah tangganya. Bila ada masalah pasti berupaya untuk mencari jalan keluar secepatnya. Demikian pula saya dan pasangan, ingin menegakkan keluarga bahagia, cukup materi, dalam keadaan sehat, dan bisa bermanfaat bagi orang lain. Namun, kenyataannya ada suka dan duka selama 21 tahun berumah tangga.

Saya dan pasangan diberi ujian selama berumah tangga. Ujian tersebut bisa keadaan suka maupun musibah yang harus dihadapi. Ujian-ujian tersebut di antaranya adalah:

Hamil

Syukur alhamdulillah, bulan kedua setelah menikah, saya mengandung anak pertama. Saya dan suami tinggal di kota yang berbeda. Saya tinggal dan mengajar di Blora, Jawa Tengah. Suami tinggal dan bekerja di Karanganyar, Jawa Tengah. Setelah 4 bulan tidak tinggal berasama, akhirnya saya bisa mengikuti suami. Kehamilan saya disambut keluarga mertua dengan bahagia. Calon anak ini adalah cucu pertama di keluarga suami.

Tahun 2000 anak saya lahir dengan selamat dan dalam keadaan sehat. Tentu saja kebahagiaan saya dan suami kian bertambah setelah si kecil semakin besar. Apalagi 5 tahun kemudian saya mengandung anak kedua. Namun, sungguh sayang, janin usia sepuluh minggu itu harus kami relakan karena keguguran.

Tahun 2009, saya mengandung anak ketiga. Senang rasanya selama mengandung anak ketiga, saya dalam keadaan sehat. Saat melahirkan secara normal diberikan kemudahan. Bagi saya dan suami, kelahiran anak kami merupakan anugerah. Sebab saya melahirkan pada usia tidak muda lagi, yakni 39 tahun.

Membangun Rumah

Selama 3 tahun, saya dan suami tinggal di rumah mertua. Tahun 2002 kami membangun rumah di atas tanah milik mertua. Letak rumah kami di desa, dikelilingi sawah. Rumah sederhana di mana jendela dan pintu samping masih ditutup papan bekas. Hanya kamar utama dan ruang tamu ditutup pintu dan berkaca jendela. Saya bersyukur bisa menempati rumah sendiri. Temboknya masih berupa bata. Lantainya masih tanah belum diperkeras. Ketika hujan deras disertai angin, air hujan masuk lewat celah-celah jendela dan pintu.

Ular sawah dan ular kobra beberapa kali masuk rumah. Beruntung, setiap ular masuk rumah selalu ketahuan. Jadi, kami tetap dalam keadaan aman. Bagi saya dan suami, bersyukur adalah cara menikmati rezeki dari Tuhan.

Berkebun

Saya dan suami memiliki kegiatan yang sangat menyenangkan, yaitu berkebun. Beberapa macam yang kami tanam antara lain, kangkung, bayam, kacang panjang, bayam, cabai besar, timun, dan pare. Tujuan saya dan suami berkebun adalah agar kami bisa bersedekah dari hasil bumi.

Mendaftar Haji

Pertama kali mengenal suami saat Kuliah Kerja Nyata tahun 1995. Baru beberapa hari mengenal laki-laki itu bilang, “Aku ingin naik haji bersamamu.” Saat itu saya terkekeh dan menjawab, “Kalau bareng, ya, nggak mungkin. Kalau berangkat waktunya sama, mungkin itu bisa.”

Ternyata laki-laki itu serius dan akhirnya menjadi suami saya. Tahun 2012 saya dan suami bisa mendaftar ibadah haji. Kalau tidak ada pandemi virus corona, tanggal 7 Juli 2020 kami berangkat ke tanah suci. Namun, Allah berkehendak lain. Keberangkatan kami ditunda. Hikmahnya adalah saya dan suami bisa belajar agama lebih dalam. Semoga kami diberikan umur panjang dan sehat. Harapan saya dan suami bisa berangkat ke tanah suci tahun depan.

Anak-Anak yang Berhasil

Anak-anak adalah harta yang paling berharga bagi keluarga. Meskipun kedua anak saya tidak menonjol di bidang akademik, rasanya senang bila mereka bahagia. Sebagai orang tua, saya dan suami memiliki tugas dan kewajiban kepada keduanya.Menjadikan mereka anak-anak yang beragama, berhasil, berbakti pada orang tua, dan bermanfaat.

Membahagiakan Orang Tua

Rasanya sangat bahagia mendapatkan ibu dan bapak diberi umur panjang. Alhamdulillah keduanya dalam keadaan sehat wal afiat. Sebagai anak yang berbakti, saya dan suami selalu ingin membahagiakan keduanya. Saya mudik secara rutin dan mengajak bincang-bincang ibu dan bapak. Saya yakin dengan mengajak komunikasi, ibu dan bapak merasa diperhatikan.

Tidak Bisa Membeli Susu

Setelah membangun rumah, kami kehabisan uang. Tinggal di rumah sendiri dengan kondisi keuangan yang memprihatinkan, kadang saya harus mengencangkan ikat pinggang. Beruntung suami mendapatkan jatah beras dari orang tuanya. Kami tinggal membeli lauk saja.

Waktu itu si sulung baru berumur 2 tahun. Si sulung kuat sekali minum susu formula. Suatu hari persediaan susu formula habis dan saya tak memiliki uang untuk membeli susu saset. Saya tawarkan minum teh manis. Dalam hati saya menangis. Ya Allah, membeli susu saset saja saya tak mampu. Saya tidak sampai hati pinjam uang pada mertua. Keesokan harinya saya mengambil susu formula di koperasi dengan cara utang. Saya tidak ingin anak menangis gara-gara tak minum susu.

Kehilangan Janin Dan Mertua

Duka mendalam sangat saya rasakan ketika kehilangan anak kedua dalam kandungan. Ya, janin berumur 10 minggu tersebut tidak dapat diselamatkan setelah seminggu saya mengalami pendarahan. Bukan hanya saya yang merasa kehilangan. Si sulung tiap malam menangis karena tidak jadi punya adik. Keluarga suami harus kehilangan bapak mertua secara mendadak karena kecelakaan tahun 2006. Tiga tahun kemudian ibu mertua meninggal setelah berjuang melawan kanker limfa.

Ujian Anak Sakit

Si kecil beberapa kali keluar masuk rumah sakit karena kejang. Sewaktu berumur 5 tahun si kecil jatuh dan tangannya patah. Sekecil harus dioperasi untuk pemasangan pen dan melepaskannya. Sebagai orang tua, sedih rasanya mendapatkan si kecil mendapatkan musibah seperti itu. Saya banyak belajar dan tidak mudah panik menghadapi anak-anak sakit.

Kehilangan Pekerjaan

Bagaimana rasanya kehilangan pekerjaan secara mendadak? Bagaimana rasanya diberhentikan dari pekerjaan tanpa ada surat peringatan terlebih dahulu? Manusiawi bila saya merasa kecewa. Saya diberhentikan mengajar karena difitnah. Bagi saya kehilangan pekerjaan merupakan musibah. Namun, saya tidak boleh larut dalam kesedihan. Saya harus bangkit dan bisa menerima keadaan. Saya berdamai dengan diri sendiri dan memaafkan orang-orang yang telah memfitnah.

Setelah tidak mengajar di sekolah, saya mendapatkan pekerjaan baru, yakni menulis. Dari menulis, saya bisa mendapatkan penghasilan dan bisa bangkit. Alhamdulillah, suami dan keluarga memberikan dukungan pada saya.

#ChangeMaker

;
Loading