Sukses

Lifestyle

Pandemi Corona Belum Usai, Backpacker Tak Sabar untuk Kembali Berpetualang

Fimela.com, Jakarta Anak-anak muda yang gemar traveling biasanya memiliki jiwa petualang yang cukup tinggi. Tak perlu membawa koper, cukup ransel dan menginap di hostel dan berpetualang mengelilingi dunia bersama teman-teman backpackers-nya. Namun, pandemi Corona telah menunda rencana perjalanan dan petualangan mereka cukup lama. 

Meski pandemi belum berakhir, ternyata banyak anak-anak muda yang kini sudah mulai merencanakan perjalanannya untuk kembali berpetualang. Sebuah survei dari 6000 traveler di seluruh dunia, menunjukkan kalau 64% dari mereka sudah mulai merencanakan trip mereka. 

Semenatara, 61% mengatakan mereka ingin mengunjungi negara-negara yang sempat terdampak Corona. Bukan hanya itu saja, dalam survei "World Hostels: Post COVID-19 Reopening Survey" yang dikeluarkan pada Juni 2020 kemarin oleh St. Christopher's Inns yang mewakili 11 hostel dan 86 properti secara global, menunjukkan kalau para backpacker akan kembali traveling di tengah pandemi ini. 

Meskipun begitu, ada beberapa perubahan yang diharapkan para backpacker dan juga sejumlah penyesuaian untuk melindungi para staf hostel dan juga backpacker di era new normal

Social Distancing dan Protokol Kesehatan di Hostel

Survei tersebut menunjukkan, 81% responded merasa sangat penting bagi para pemilik hostel untuk menerapkan social distancing, seperti membatasi jumlah orang yang ada di dalam satu dorm room. 

Co-Founder Clink Hostels, Anne Dolan, mengatakan kepada Forbes kalau pengalaman menginap di hostel memang tidak bisa tergantikan dan sangat penting bagi para backpacker. 

"Saling terhubung dengan traveler lainnya yang memiliki pola pikir serta tujuan yang sama serta menemukan tempat-tempat baru untuk memperkaya pemahaman budaya dan masyarakat setempat," katanya kepada Forbes. 

Selain itu, masih banyak harapan dan masukan dari para backpacker kepada para pemilik hostel sebelum membuka kembali bisnis mereka di tengah pandemi ini. Seperti tingkat kebersihan yang lebih ketat, penyediaan hand sanitizer dan ventilasi ruangan, hingga pembayaran cashless dan sistem check-in dan check-out secara online. 

Selain itu, mereka juga berharap adanya pengurangan jumlah tamu di dalam dorm dan shared bathroom. Bahkan, jika memungkinkan, satu dorm hanya bisa di-booking untuk satu grup backpacker, sehingga mereka tidak akan tidur bersama orang asing. 

Meskipun begitu masih banyak juga masyarakat dunia yang memilih untuk diam di rumah dan menunda jadwal bepergian, termasuk jalan-jalan. Bagaimana denganmu? 

Simak Video Berikut

;
Loading