Sukses

Lifestyle

Jangan Terlalu Cepat Memutuskan Cerai dalam Pernikahan

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh:  Denny Ferlina

Sejak awal pernikahan aku bertekad untuk mampu menjadi istri salihah, membina rumah tangga sakinah mawadah warahmah, meraih kelanggengan rumah tangga hingga akhir hayat. Aku mengenal lelaki yang saat ini menjadi suamiku, dua bulan setelah aku memasang niat hijrah meninggalkan segala hal buruk dan mulai bebenah diri untuk menghadapi gerbang kematian. Langkah hijrahku berawal dari ucapan dokter yang menyatakan, besar kemungkinan aku terjangkit satu penyakit ganas. Biasanya mereka yang sudah terkena penyakit tersebut, tidak akan dapat bertahan hidup lebih dari lima tahun.

Sungguh Allah Maha Bijaksana, Pengasih lagi Penyayang. Penerimaanku atas kemungkinan menderita penyakit yang mematikan itu, Allah bayar dengan memberiku calon suami yang mau menerima diri ini bersama segala risiko menikahi wanita berpenyakit.

Pernikahan kami tanpa diawali dengan berpacaran, tentu tidak mudah berproses menyamakan frekuensi dua manusia yang menurutku sangat banyak perbedaannya. Riak-riak kecil dalam rumah tangga berhasil kami lewati, namun dua bulan belakangan ini tak lagi dapat dianggap sekedar riak, karena aku tak lagi mampu menjaga lisan bahkan meminta perceraian. 

Aku kebablasan tak mampu merendahkan suara, semakin berani menyelisihi suami bahkan di depan tetanggaku. Aku seakan kehilangan rasa hormat terhadap pasangan halal. Mata, pikiran, dan hatiku tertutup dari kebaikan yang pernah suami lakukan. 

Aku merasa tak dihargai, aku menuduhnya tidak pernah mencintai selama pernikahan kami, aku menuding ia zalim dan tidak pernah menjadikan aku  prioritas utama dalam hidupnya. Kukatakan padanya aku tidak sanggup lagi hanya sendirian berupaya mempertahankan kelanggengan rumah tangga ini. 

Aku takut upayaku mendapatkan kebebasan memilih pintu surga tidak akan terwujud, karena merasa tidak mudah menggapai rida suami. Merasa di matanya aku ini tak ada baiknya, pun aku takut kebablasan menjadi istri durhaka dan semuanya sia-sia jika tetap bersama. 

"Kamu tahu, ancaman Allah terhadap istri yang meminta cerai?" tanya suamiku malam itu. 

"Ya, aku tahu... tidak akan mencium wangi surga, makanya segera saja putuskan, tolong permudah perceraian ini. Aku takut malah menjadi istri durhaka, cukup sudah upayaku selama ini, hanya aku yang berusaha. Aku lelah, bersabar dan menunggu untuk kamu cintai," jawabku saat itu. 

"Kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu ini?" ulangnya memastikan.

"Iya, aku yakin. Mungkin hubungan kita akan lebih baik jika bukan sebagai pasangan suami istri, karena tidak ada penghargaan yang ku dapat sebagai istri, pun aku mulai kehilangan rasa hormat kepadamu," jelasku sembari menahan diri agar tetap terlihat tegar. 

"Seperti yang kukatakan dari dulu, aku tidak akan pernah menceraikanmu, sudah separah itukah hingga kamu bersikeras meminta sesuatu yang dibenci Allah... Tunggu jam dua nanti setelah aku salat, aku akan bicara dan bertanya lagi," ujar suamiku menutup pembahasan kami malam itu.

Beberapa hari berkutat dengan pikiran negatif, insomnia mendadak pun membuat tubuh melemah dan teramat lelah, namun mendengar perkataan suami yang demikian, ada rasa lega membersit di hati. Setidaknya aku merasa didengar, dimengerti, dan  kemauanku akan ia turuti. 

Menunggu tibanya pukul dua dini hari seperti yang dijanjikan suami, aku ambil wudu dan salat berpasrah diri atas ketidak berdayaanku mengendalikan diri dan ketidaksanggupan untuk tetap mempertahankan rumah tangga. Memohon ampun atas kelancangan diri meminta sesuatu yang dibenci Allah mesti aku tahu beresiko tidak diberi mencium wangi surga. 

Menjelang subuh suami membangunkan aku yang  tertidur lelap, setelah hampir sebulan tak dapat tidur dimalam hari, tidur beberapa menit diwaktu siang, itupun jauh dari kata nyenyak. Isi kepala berkecamuk dipermainkan pikiran negatif. 

Ketika kembali teringat janji suami yang akan berbicara pukul dua dini hari tadi, aku menatapnya tajam menagih janji pengabulan   keinginanku. Seakan paham arti tatapanku ia berkata, "Kalau Aku tidak mencintaimu, mengapa dulu aku menikahimu dengan segala resiko atas kemungkinan  penyakitmu, kurang tulus apa aku mencintaimu karena Allah?" lirih suamiku. 

Astagfirullah, mengapa aku lupa akan hal itu. Ke mana rasa syukurku?  Allah telah memberiku suami yang mau menerima segala kekuranganku, pun setelah menikah ia senantiasa membersamai melalui proses beberapa kali pemeriksaan, yang pada akhirnya dokter berkata, "Ini mukjizat Tuhan," setelah menyimpulkan hasil tes demi tes yang menyatakan aku terbebas dari penyakit mematikan itu.

Aku tak mampu berkata-kata lagi di hadapan suami, terpana dan bertanya pada diri, apa yang sedang merasukiku? Namun sisi lain di dalam diri ini ada yang berbisik, "Ah, bisa jadi  saat memutuskan menikah, suamiku dalam kondisi keputus-asaan, atau kondisi tidak ada pilihan atas desakan berbagai hal, atau sekadar pelarian." 

Usai salat subuh, pikiranku masih berkecamuk meragu, menentukan mana yang salah dan benar. Ada apa di balik semua ini? 

"Ya Allah, berkahi hamba dengan engkau kembalikan jiwa yang tenang, hati yang lapang, mudah memaafkan dan senantiasa bersyukur, aku mohon ampunan Mu, dan perbaikilah takdirku. Aku percaya, tidak ada yang terjadi didunia ini yang luput dari ijin-Mu ya Allah. Aku mohon izinkan nikmat iman islam menyertaiku selamanya."

Demikian doa yang kulantunkan, dan dilanjuti dengan moroja'ah hafalan tiga ayat  terakhir surat Al Baqarah, pun berulang-ulang kubaca terjemahan ayat terakhirnya. "Allah tidak akan memberi ujian melampaui batas kemampuan hamba-Nya."

Gejolak hasrat ingin berpisah tidak mereda seketika, pun tidak mudah untuk kembali mampu menahan lisan dan berupaya merendahkan suara di hadapan suami, mesti setelahnya aku sesali dan tertekan oleh perasaan bersalah. Tiada lain yang lebih baik untuk dilakukan selain menyungkur di sajadah berurai air mata, mengadu pada sang pencipta. 

"Allah... Aku mohon angkatlah semua amarah dan kejengkelanku terhadap suami, aku bertakwa kepadamu namun aku tak kuasa menahan lisanku. Engkau yang Maha Mengatur Segalanya ya Allah, engkau pun Maha Mengetahui yang terucap dan tersembunyi di dalam hati manusia, sungguh hamba hanyalah manusia yang lemah tanpa rahmat-Mu ya Allah, aku mohon jangan engkau limpahkan urusanku dan orang disekitarku kepada diri hamba yang tiada daya tanpa campur tanganmu ya Allah."

Hari-hari berlalu dengan kondisi hati yang masih sering bergejolak minta diceraikan, aku kehilangan harapan mempertahankan rumah tangga, emosi yang naik turun. Hingga suatu hari tidak sengaja lisanku melukai hati tetangga yang sedang teramat dekat denganku.  Ucapanku pagi itu terlalu pedas menurutnya dan membuat ia tersinggung, kalimat ini ia sampaikan dengan mata berlinang. Saat itu juga aku meminta maaf padanya.

Semenjak itu hubunganku dengan tetangga itu kian berjarak. Menurut dia, memang itulah yang terbaik sebagaimana saran dari sahabatnya. Ada sedikit rasa haru, kecewa dan aneh dengan aksi menjaga jarak diantara kami.

Menjauhnya tetanggaku itu, perlahan ketenangan jiwa kembali pulih, keharmonisan rumah tangga kembali menghangat. Aku kembali berjibaku pada rutinitas sebelum begitu dekat dengan dia yang telah membuatku tergoda.

Akhirnya kutemukan jawaban sumber badai rumah tangga yang baru saja terjadi dan hampir memporak porandakan mahligai pernikahan. Kudapati jawabannya setelah mentadaburi Alqur'an yang dibuka secara acak. 

Mataku mengarah pada terjemahan surah Al-A'raf ayat 23. Hati ini berdebar mengingat sudah cukup lama tidak mendawamkan doa nabi Adam yang sudah sempat dihafal. Kucoba muroja'ah ayat tersebut, ternyata lisanku tidak  lancar lagi mengucapkannya. Pun kembali kubaca terjemahan sebelum dan sesudah ayat tersebut, merenung dan berusaha menemukan makna. 

 

Satu kata yang kupikirkan adalah kata pakaian didalam terjemahan ayat yang kubaca. Hati nuraniku berkata,  "Awal sumber percikan permusuhan yang mulai muncul dalam rumah tanggaku, pasti karena kami melakukan kesalahan, sehingga mataku tertuju pada doa nabi Adam."

Pakaian yang terbuka di dalam terjemahan ayat yang kubaca, adalah kata kunci penyebab hilangnya rasa syukur dan tertutupnya kebaikan pasangan, yang akhirnya menggiring munculnya percikan permusuhan, lisanku kebablasan menuduh dan menuding pasangan. 

Astagfirullah, aku tersentak tatkala melintas dipikiran suatu kalimat yang menyatakan, "Suami itu pakaian bagi istri dan istri pakaian bagi suami." Ya, aku menemukan makna dari semua ini, bisa Jadi saking akrabnya dengan tetangga baru dan keasyikan bercerita, menggiring aku dan suami terpancing untuk membuka 'pakaian'. Membuka kesempatan orang luar tahu terlalu banyak tentang aku dan suami.

Sebagaimana Allah murka ketika nabi Adam dan Hawa melakukan hal yang dilarang Allah, hingga pakaian mereka terbuka, pun Allah menghukum mereka turun ke bumi. 

Allah berfirman: "Turunlah kamu sekalian, sebahagian kamu menjadi musuh bagi sebahagian yang lain..." Qs : Al-a'raf :24

Kuulangi membuka secara acak Al-quran, mataku tertuju pada terjemahan An-Naml ayat 46 dan seterusnya. Kata kunci yang menggetarkan hati yaitu tatkala membaca '... mengapa kalian meminta keburukan sebelum meminta kebaikan...' Air mata luruh menyesali keenggananku akhir-akhir ini untuk bersegera meminta maaf kepada suami, malah berani meminta perceraian.

Alhamdulillah sejak hari itu, jiwaku kembali tenang setelah menemukan kesalahan diri, kembali kutemui ketentraman hati, penerimaan dan rasa syukur atas segala nikmat dalam membina berumah tangga.

Hari-hariku kembali terasa indah dan membahagiakan seperti pada saat sebelum terlalu akrab dengan tetanggaku yang berstatus single parent, Ia ramah, cantik dan hobi bersolek, jago masak dan celotehannya cukup menghibur aku dan suami, menghadirkan rasa agar kami harus lebih peduli kepadanya.

Allah pertemukan kami dalam satu lingkungan tempat tinggal, sama-sama menjadi warga baru di lingkungan ini. Tetangga baru yang telah membuatku tergoda itu, baru saja ditimpa musibah bertubi-tubi, ditipu teman bisnis pun rumah dan hartanya habis ditelan banjir yang cukup besar di awal tahun 2020. 

Keakraban itu terjadi begitu singkat, efek lockdown di masa pandemi yang memaksa semua orang di rumah saja, membuat kami menjadi lebih sering bertemu, saling berbagi makanan dan suami tidak sungkan memintaku untuk membelanjakan tetangga baru, sesekali memasak bersama didapurku.

Cukup sering kami berlama-lama mengobrol, dan semakin dekat, suamiku memperhatikan apakah aliran listrik tetanggaku itu hidup atau kehabisan token, pun aku dan suami setiap hendak makan, teringat apakah tetanggaku itu punya lauk untuk teman nasi, suamiku selalu membeli makanan yang ditawarkan oleh tetangga, meskipun aku telah memasak lauk serupa dengan yang dijual olehnya.

Sangat disayangkan indahnya kebersamaan itu telah melampaui batasan. Aku memberi kesempatan telinga ini mendengar tetanggaku itu menceritakan angannya menemukan lelaki incaran, memilah dan memilih lelaki yang beruang saja yang ia izinkan untuk mendekatinya. Pun tetanggaku yang cantik itu menceritakan betapa banyak suami sahabatnya yang tergiur, jelalatan menikmati tubuhnya yang bohay, bahkan sampai ada yang berani mengajak ia berkencan. Ia menunjukkan kebahagian dipuja banyak lelaki yang mudah mengumbar kata cinta, mesti ia tetap dengan prinsip tak ada uang abang jangan pegang.

Tak jarang ia menyatakan heran atas diriku yang sedang berproses mencari peluang mudahnya memilih pintu surga melalui rida suami. Keheranannya kian menjadi ketika tahu aku sedang berproses dan belajar melepaskan kemelekatan pada uang.

"Bohong banget sebagai perempuan lo nggak punya banyak keinginan," ucapnya sinis memvonisku.

Salahnya aku saat itu tidak langsung menepis kalimatnya, yang berujung menghadirkan tanya di dalam diri, aku bohong atau jujur? Lantas aku pun mengingat-ingat apa saja keinginanku yang belum terpenuhi,  aku mulai terhasut hasrat gemerlap duniawi.

Diamku saat itu kian membuatnya semakin berani, begitu lancar menyatakan ia tidak tertarik pada lelaki seperti suamiku yang rajin menemani istri ke pasar, atau berbelanja sendiri ke warung atau mini market sekitar rumah. Ia tidak sudi bersuamikan lelaki seperti suamiku yang mau menegur istri ketika berpakaian tidak sesuai aturan layaknya seorang muslimah. Menurutnya suami yang mau membantu istri memasak dan mengerjakan pekerjaan rumah seperti suamiku adalah sosok lelaki nyinyir dan menyusahkan. Ia menyimpulkan lelaki seperti suamiku ini gambaran lelaki pelit dan perhitungan serta munafik, karena menurutnya, lelaki yang menegur istri berpakaian ketat, biasanya lelaki itu sendiri tak mampu menundukkan pandangannya. 

Jelas saja aku marah atas pernyataannya itu. Sebegitu beraninya ia menilai suamiku yang telah  berbuat baik kepadanya. Ia menyalahartikan sikap suamiku yang memberi pinjaman uang ketika ia ingin berhutang tanpa sepengetahuanku. Hal ini dilakukan suami untuk menjaga harga diri orang yang berhutang. Pun suamiku memberinya pinjaman modal untuk usaha dan memintaku selalu mensupport tetangga, agar tetanggaku itu tetap tegar menghadapi kondisi yang sering ia keluhkan. 

Celakanya, aku memendam amarah yang muncul setelah aku terlanjur goyah, terbawa hanyut dalam buaian angan sosok lelaki sempurna berdasarkan sudut pandang tetanggaku itu. Tergiur nikmatnya menjadi sosok yang terbebas dari aturan kepatuhan terhadap suami, merindukan kepuasan mendapatkan banyak ungkapan cinta, puja dan puji. Aku salah menempatkan amarahku, yang akhirnya meluap dan membuatku tidak takut meminta cerai.

Aku lupa bahwa diri ini dan wanita yang melabeli dirinya janda mahal itu, adalah dua sosok yang berbeda, ia single dan wanita cukup usia yang tidak mudah goyah pendirian, sementara aku yang lebih muda sepuluh tahun darinya adalah wanita bersuami yang masih mudah goyah dalam tahap berproses membenahi diri.

Hal yang lumrah saja ketika ia menyatakan keengganannya untuk patuh pada suami yang tidak memandikannya dengan uang, apabila nanti ia memiliki suami lagi. Baginya, laknat malaikat kepada istri yang membuat suami murka hanya berlaku pada manusia tertentu saja. Semua yang ia ucapkan itu adalah hal biasa yang juga banyak dibicarakan wanita single lainnya, tentu akan menjadi 'terlarang untuk wanita yang sudah bersuami.

Betapa rapuh dan lemahnya imanku, ketika menyadari diri hanya mampu diam dan membiarkan telinga mendengarkan kalimat-kalimat yang dapat mengganggu kewarasan diri. Bahkan begitu mudah tergoda dan membiarkan orang lain memberi penilaian semaunya terhadap pasanganku.

Semua tentu berawal dari kesalahan aku dan suami yang telah memberinya kesempatan berbuat demikian.Tentu semua itu juga terjadi seijin Tuhan, untuk mengajari aku dan suami agar lebih berhati-hati mengijinkan orang lain masuk terlalu jauh kedalam rumah tangga kami. Peduli tetangga tidak harus membiarkannya berlama-lama bertamu mengobrol ngalor-ngidul. Pun tidak harus mengabaikan batasan-batasan yang ada.

Segala puji untuk Allah yang telah menyelamatkan pernikahanku dari perceraian. Allah telah mengembalikan kewarasanku dan sudut pandang tentang sosok suami yang baik. Allah telah meluruskan kembali niat hijrahku dan kutemukan lagi panutan istri yang salihah sesuai aturan Tuhan. 

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
5 Macam Penyakit yang Muncul Akibat Patah Hati
Artikel Selanjutnya
Update Virus Corona, 22 Juli 2020: Kasus Positif Bertambah 1.882 Orang