Sukses

Lifestyle

Tegarnya Anak Tengah sebagai Tulang Punggung Keluarga setelah Papa Tiada

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Fanny

Halo, panggil saja aku Fanny. Aku lahir sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Papaku seorang wirausahawan, beliau membuka usaha katering di rumah. Usahanya cukup sukses hingga beliau memerlukan beberapa karyawan untuk membantunya. Mamaku seorang ibu rumah tangga, mengurus anak-anak, suami, rumah dan membantu usaha katering papa.

Sejak kecil, kakakku si sulung tidak begitu baik padaku. Mungkin karena rentang usia yang hanya 1 tahun, aku pun lebih diperhatikan dan dimanjakan karena lebih muda. Selain itu waktu SD kami satu sekolah hanya beda 1 tingkat. Aku selalu berprestasi di sekolah dan kakakku tidak. Itu juga mungkin salah satu penyebab kakakku tidak begitu menyukaiku. 

Saat SMP kelas 1, papaku meninggal karena sakit paru-paru. Sejak itu, hidup kami berubah. Kondisi ekonomi keluarga mulai awut-awutan, apalagi mamaku kurang pandai mengelola keuangan. Alhasil, saat masuk SMA aku dan adik perempuanku si bungsu yang baru berusia 5 tahun dititipkan di rumah nenek (ibu dari almarhum papa).

Sedangkan adik laki-lakiku waktu itu berusia 7 tahun ikut tinggal dengan mama. Kalian pasti bertanya-tanya bagaimana dengan kakakku? Apa yang terjadi padanya? Kakakku menikah setelah lulus SMA, dengan teman sekolahnya. Sayang, nasibnya tidak mujur. Suaminya ternyata sangat kasar dan suka memukul. Mungkin karena faktor usia yang masih sangat muda, dia tidak bisa mengontrol emosinya. Mudah marah, cemburuan, tidak menafkahi dengan baik. Karena rumah tangganya itu aku jadi trauma dengan pernikahan dan agak membenci laki-laki.  

Bekerja dan Berusaha demi Ibu dan Adik

Singkat cerita,  lulus SMA aku langsung bekerja di sebuah restoran besar ternama. Selain karena tidak ada yang membiayaiku ke perguruan tinggi, aku juga ingin sekali mandiri, membantu mama menafkahi keluarga yang pada akhirnya aku pun menjadi tulang punggung keluarga karena mama tidak bekerja.

Syukurlah kondisi ekonomi keluarga kami berangsur-angsur membaik setelah beberapa tahun aku bekerja dan mengumpulkan uang. Adik-adikku semua aku tanggung biaya sekolahnya dan kebutuhan sehari-hari. Aku saat itu tidak banyak mengeluh, aku jalani setiap proses kehidupan dimasa-masa sulit itu hingga aku bisa menjadi sosok diriku sekarang, tangguh, sabar, berani dan mandiri. Aku harap almarhum papaku pun bangga padaku. 

Saat ini, aku sudah menikah dan memiliki seorang putra yang tampan. Aku sangat bangga padanya dan kehadirannya dalam hidupku membuatku bahagia, berharga dan bersemangat. Hanya ingin berterima kasih kepada Yang Maha Kuasa atas kebaikan dan kasih sayang-Nya padaku. God is great.

Demikian kiranya kisah keluargaku. Semoga bermanfaat dan membawa inspirasi positif bagi kita semua. 

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Menu Hari Ini: Tumis Udang Brokoli, Soto Ayam dan Fuyunghai Telur
Artikel Selanjutnya
3 Alasan Perempuan Pemalu Bisa Menjadi Pasangan yang Menyenangkan