Sukses

Lifestyle

Kehangatan Keluarga Selalu Menjadi Rumah Ternyaman Kita

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Rina Nuryasari

Sudah berapa banyak kota yang pernah kalian tinggali? Satu kota, alias tidak pernah pindah? Lebih dari lima kota? Ya, masing-masing kita punya jawaban yang beragam. Apa pun itu, yang paling penting adalah apa yang sudah kita pelajari dari kota yang pernah kita tinggali? Aku yakin kalian punya banyak cerita. Aku akan berbagi ceritaku kali ini.

Saat masih kecil, aku dan keluargaku tinggal di kota Surabaya. Saat itu, kami masih tinggal di rumah kos. Kami masih bertiga, bapak, ibu, dan aku. Banyak kenangan di gang kami tinggal. Aku baru saja diterima di sekolah dasar favorit di lingkunganku. Senang tentu saja. Aku bertemu teman baru, guru baru, pelajaran baru, dan jajan baru.

Ya, sejak di TK, guru kami tidak mengizinkan kami beli jajan di sekolah, jadi kami selalu membawa bekal dari rumah. Sangat baik untuk keluaga kami dengan kondisi ekonomi pas-pasan. Aku gembira saat masuk SD aku bisa membeli jajan sendiri di kantin sekolah. Namun, tidak berapa lama aku menikmati sekolah baru, orang tuaku berencana untuk pindah ke desa. Ibuku hanya bilang, bahwa rumah kami sudah jadi dan kami tidak perlu kos lagi. Saat itu tahun 1998. Aku baru tahu ketika dewasa, bahwa penyebab kepindahan kami lebih karena orang tuaku yang tidak lagi mendapat gaji yang layak dari pabrik akibat krisis.

Awal mula kehidupan di desa tidaklah mudah. Aku kembali harus beradaptasi dengan teman baru, tetangga baru, saudara lama yang terasa baru. Saat itu bapak masih bekerja serabutan asal mendapat uang. Ibuku juga disibukkan dengan urusan ini itu yang serba baru. Aku merasa bahwa keluargaku rasanya bertambah dua hingga tiga kali lipat. Aku merasa semua orang kenal dengan semua orang dan hanya aku yang tersisa belum kenal siapa pun.

Kelahiran Adik dalam Keluarga

Sebentar berselang, lahirlah adikku. Aku masih ingat benar hari itu. Hari penerimaan raporku. Untuk pertama kalinya, ibuku tidak mengambilnya dan digantikan oleh bulikku. Saat sampai di rumah, adikku yang baru lahir sudah digedong dengan jarik bersih. Bu bidan membereskan peralatannya. Bapakku sibuk membersihkan ini itu setelah proses persalinan. Dan rupanya kegembiraan itu bukan hanya milik kami. Keluarga yang lain dan para tetangga datang ke rumah kami. Mereka menyapa ibuku, adikku, dan membantu bapakku. Rumah kami semarak. Sejak hari itu, rumah kami tidak pernah sepi dari kunjungan bermacam-macam orang. Rasanya aku baru paham makna kutipan, “Engkau adalah bunga-bunga dari satu taman dan daun-daun dari satu dahan.”

Waktu berlalu begitu cepat sejak hari itu. Saat ini ukuran keluarga kami tidak lagi sama. Ingin rasanya aku mengulang masa-masa bermain dengan adikku yang sudah aku lewatkan. Dia sudah dewasa saat ini, kakaknya bukan hanya aku. Aku pun tidak keberatan. Dia memiliki banyak saudara, banyak orang yang menyayanginya, yang berbagi cerita dengannya, yang menemaninya saat dia sedih dan sendiri.

Tahun ini, aku mendedikasikan kartu ucapan untuk adikku dan orang-orang yang menyayanginya, menyayangi kami. Semoga di masa mendatang, keluarga kami dapat semakin bertambah, taman kami tetap memiliki bunga baru yang mekar, dahan kami tidak lelah untuk bertunas. Bukankah kita memang bunga-bunga dari taman yang sama? Daun-daun dari dahan yang satu? Aku belajar banyak dari cerita keluarga kami di desaku.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Intip 6 Rekomendasi Penginapan Agar Kerja Jarak Jauh Tidak Membosankan
Artikel Selanjutnya
Orangtua Kadang Lebih Keras kepada Anak Sulung, tapi Bukan karena Tak Cinta