Sukses

Lifestyle

Terpaksa Resign karena Sindiran Mertua, Keadaan pun Tak Membaik

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh:  anne.san.j

Berawal dari kehidupanku yang menyenangkan karena aku mempunyai pekerjaan tetap yang gajinya terbilang cukup memuaskan. Meskipun LDM dengan suami, tapi itu sudah komitmen kami sejak menikah karena kami sama-sama memiliki pekerjaan. Tetapi berjalan 6 bulan pernikahan kami, aku selalu menjadi sasaran sindiran dari mertua karena tidak ikut dengan suami.

Padahal komitmen kami untuk LDM dulu karena kami sama-sama belum punya tabungan yang cukup untuk bekal kami nanti dan untuk biaya kalau nanti aku hamil dan melahirkan. Karena tabungan kami sebelumnya sudah dipakai untuk biaya pernikahan. Namun hal itu tidak berlaku bagi mertuaku, yang selalu menyindir aku belum hamil gara-gara tidak mau ikut suami. Dalihnya selalu bilang katanya kasihan anaknya tidak ada yang mengurus karena aku sebagai istrinya tidak ikut dengannya. Sampai muak rasanya disindir terus hingga aku tanpa pikir panjang terpaksa  mengambil keputusan untuk mengajukan resign pada bulan Maret 2019. 

Seperti biasa, suami pulang satu bulan sekali. Pada saat itu suami pulang sekitar awal bulan Maret. Tepat saat aku sudah resign dari pekerjaan. Kami merencanakan kepindahanku ikut dengannya ke Bandung. Namun semuanya di luar rencana kami.

Tiba-tiba malam itu suami demam tinggi. Perasaanku campur aduk karena badannya  sangat panas sedangkan sudah malam dan tidak memungkinkan untuk pergi ke klinik. Kebetulan aku waktu itu masih di kontrakan karena selama kerja, aku tidak ingin tinggal di rumah orangtua maupun mertua. Kebetulan aku masih punya stok obat penurun panas, tapi tidak ada perubahan. Akhirnya pagi-pagi sekali aku bawa suami ke klinik. Dan ternyata suami terkena DBD dan harus rawat inap. Bingung banget rasanya karena saat itu aku tidak memegang uang banyak.

Gaji terakhir aku belum diterima karena belum akhir bulan. Aku mengajukan surat resign per tanggal 15 Maret, jadi saat itu aku masih ada sisa beberapa hari lagi masuk kerja. Tapi karena suami dirawat inap, aku izin tidak masuk 2 hari. Memang saat suami dirawat, mertua pun ikut menemani, bahkan mama aku juga ikut menginap. Aku masih bisa kuat karena mama selalu support aku. Namun yang membuatku benar-benar tidak habis pikir adalah mertua.

Padahal yang sakit adalah anaknya, tapi tidak sekali pun mereka membelikan air mineral untuk suami saat aku kerja dulu. Dan yang lebih parahnya lagi adalah saat mau keluar klinik, aku mengurus biaya administrasi sendiri. Mertua hanya memberi uang Rp300.000 dari total biaya rawat inap Rp4.000.000. Entah apa yang dipikirkannya, ya sudahlah. Aku tidak berharap banyak karena suami pun tidak pegang uang. Aku berusaha sendiri untuk mendapat tambahan uang yang kurang dua juta lagi dari uang yang aku punya. Sampai akhirnya aku terpaksa menjual kalung demi mendapatkan uang. Daripada meminjam, aku lebih baik kehilangan karena tidak mau punya utang.

Setelah suami dirawat inap selama 4 hari, akhirnya trombositnya sudah kembali normal dan boleh pulang. Aku membawa suami pulang ke kontrakan saja meskipun mertua bersikeras untuk membawa suami pulang ke rumahnya. Tapi suami memilih bersama denganku di kontrakan supaya aku saja yang merawatnya. Setelah benar-benar pulih, suami kembali lagi ke Bandung dan aku kembali melanjutkan pekerjaan aku yang sisa tinggal 3 hari. Beruntung atasan aku sangat baik, jadi aku sangat nyaman kerja di sana. Berat sekali rasanya mau resign, tapi aku sudah telanjur mengajukan resign karena lelah disindir terus.

Tiba waktunya aku harus pindahan ke Bandung. Aku memegang cukup bekal untuk pindahan, rental mobil untuk membawa barang, Mama dan mertua pun ikut mengantar. Sedangkan aku naik motor dengan suami. Dan lagi-lagi semua biaya aku yang tanggung sendiri karena suami belum gajian. Mulai dari biaya rental, sopir, makan, dan biaya lain-lain.

Mertua Tidak Pengertian

Mama aku cuma menginap satu malam di Bandung dan besoknya langsung pulang lagi naik mobil yang aku sewa itu. Sedangkan mertua ternyata tidak mau ikut pulang karena katanya masih mau menginap di kontrakan anaknya, padahal kontrakan yang cuma sepetak, satu ruangan saja, dapur dan kamar tidur ya di situ juga. Tapi mau bagaimana lagi karena suami juga tidak bisa menghalangi.

Kebayang kan rasanya di kontrakan sepetak ada mertua menginap selama seminggu pula. Aku dan suami tidak punya privasi padahal capek banget habis pindahan, beres-beres, banyak hal yang mau dibahas tapi tidak bisa karena ada mertua. Aku pikir setelah aku pindah tidak akan dapat sindiran lagi, ternyata aku salah besar.

Lagi-lagi aku disindir soal masak. Padahal aku rajin memasak. Tapi mertua bilang, pasti aku bakal jarang masak. Entah apa maksudnya, tapi yang aku ingat sampai sekarang adalah kata-kata itu. Karena selama aku tinggal dengan suami, aku jadi jarang masak. Bukan karena aku yang malas, tapi karena kami yang kesulitan ekonomi. Ibarat ucapan adalah doa, aku berpikir itu akibat ucapan mertua.

Tapi entahlah, yang jelas selama aku di sana banyak sekali kesulitan yang dihadapi terutama dalam masalah ekonomi. Aku mencari pekerjaan pun tidak dapat. Sampai akhirnya demi mencukupi kebutuhan, terkadang sering meminjam. Sedih banget rasanya karena sebelumnya aku tidak pernah mengalami kehidupan sesulit itu sampai beras pun terkadang tidak punya. Karena kejadian itu aku sampai berkali-kali menyesal karena terlalu cepat mengambil keputusan untuk resign hanya karena selalu dapat sindiran. Kalau suami memang tidak pernah memaksa sama sekali aku mau ikut atau tidak, tapi mertua yang selalu bicara.

Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku tidak akan resign dan lebih baik tutup telinga. Tapi nasi sudah menjadi bubur, aku hanya bisa berharap dan berdoa, semoga kesulitan ini cepat berlalu. Apalagi sekarang sudah ada buah hati, aku harus semakin kuat dan optimis. Aku harus belajar ikhlas dengan apa yang sudah terjadi. Untuk ke depannya, aku tidak akan mengulang kesalahan dengan mengambil keputusan terlalu cepat.

Semoga kisahku ini bermanfaat dan dapat diambil hikmahnya.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Lelang Digital Smartphone Ternama Hasilkan Rp 161 Juta untuk Pembangunan SD di NTT
Artikel Selanjutnya
Bukti Studi, Makan dengan Warna Piring Ini Bisa Turunkan Berat Badan