Sukses

Lifestyle

Keseharian Menghabiskan Waktu dengan 8 Anak Kandung di Rumah

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Virgorini Dwi Fatayati

"Itu yang di foto anaknya semua Vir?" tanya seorang teman beberapa saat setelah aku 'pamer' foto keluarga di media sosial. 

"Iya," jawabku.

"Anak kandung semua?" tanyanya lagi hampir tak percaya.

"Iya," jawabku sambil menahan tawa.

"Wuih luar biasa Vir, delapan Vir anakmu?" tanyanya lagi sambil kubayangkan raut wajahnya yang sedang merasa takjub.

"Iya, delapan Tin," sahutku lagi.

"Aku nggak bisa komentar lagi deh, salut aku," ujarnya lagi. 

Bukan hanya satu dua orang yang kaget setelah mengetahui jumlah anakku, yang nyinyir juga banyak, bahkan yang sampai mengutarakan kata-kata tak pantas juga tidak sedikit. Ya, anak kami memang tidak seperti keluarga lain pada umumnya, jadi kalian mau apa? Begitu tanyaku meskipun hanya dalam hati. Aku tak pernah membalas nyinyiran atau kata tak pantas dengan hal serupa, biarlah mereka dengan pikirannya masing-masing.

Sebelum SFH dan WFH, hiruk pikuk biasa terjadi di pagi hari di rumah kami, dan sejak pandemi keriuhan itu mendadak senyap, meskipun hanya beberapa jam saja. Karena kalau semua sudah bangun, keriuhan tetap saja terjadi, maklum anak kami delapan, dua perempuan sebagai anak sulung dan nomor dua, sedangkan keenam adiknya laki-laki.

Namun rupanya ketiadaan rutinitas harian lama-kelamaan membuat mereka bosan, akhirnya kami menyusun kegiatan supaya proses belajar tetap berjalan dengan disiplin, ditambah main, istirahat dan kegiatan lainnya. Kami juga menambah mainan anak, pokoknya kegiatan anak di rumah jangan sampai membosankan.

Beruntung anak saya ada yang sudah remaja, mereka banyak memiliki ide menarik untuk adik-adiknya, dari mulai bercocok tanam, memelihara ikan, merawat kucing, sampai main sepeda. Saya sendiri ikut main bersama anak karena mereka lebih bahagia kalau ibunya aktif bersama.

Hiruk Pikuk di Rumah

Kegiatan bersama anak lainnya yang tak kalah seru adalah mengerjakan pekerjaan rumah, bergiliran mereka mencuci piring dan baju, menyapu dan mengepel, jemur baju sekaligus mengangkatnya. Serta yang selalu berebut adalah kegiatan masak, sampai anak kami yang berumur lima tahun saja sukses membuat telur ceplok.

Sudah setengah tahun ini suami membatasi pemakaian gawai dan televisi di rumah. Semula saya keberatan karena membayangkan betapa bosannya anak-anak tanpa kedua benda itu, namun rupanya kegiatan sehari-hari saja sudah memangkas banyak waktu dan membuat mereka kelelahan. Karena memang selain kegiatan-kegiatan yang sudah saya sebutkan di atas, mereka juga harus mempelajari ilmu agama selain akademis, hapalan surat-surat pendek, doa-doa dan seringkali percobaan science beberapa kali sepekan.

Sepertinya lancar sekali rutinitas harian kami di masa pandemi ini ya? Padahal sebenarnya tidak semulus itu juga, huru-hara, berantem, tangisan dan juga teriakan kadang-kadang mewarnainya, seru-seru sedaplah.

Biasanya kalau mendekati Hari Anak Nasional, ada kegiatan di sekolah anak-anak, hingga akhirnya kami membuat game untuk anak-anak, saya sendiri ikut aktif bersama anak. Permaianannya sekadar seru-seruan saja, meskipun lagi-lagi ada yang tak terima dengan kekalahan, ngambek dan harus dibujuk. Namun saya bersyukur karena anak-anak tak pernah lama tenggelam dalam lautan mood jeleknya, biasanya karena tak tahan ingin ikutan ngobrol.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
3 Kesalahan Penggunaan Hand Sanitizer Menurut WHO
Artikel Selanjutnya
Sepatu Roda Kembali Tren, Ini 6 Manfaat yang Wajib Kamu Ketahui