Sukses

Lifestyle

Kehilangan Seorang Ibu adalah Momen Paling Patah Hati dalam Hidup

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Nilawati 

Mama sebagai poros keluarga. Seandainya mama masih ada, itu yang selalu aku harapkan tahun ini. Ternyata, mama itu memang sungguh luar biasa. Beliau bekerja mencari uang, beliau mengurus rumah, beliau mengurus anak dan suaminya. Namun aku tak pernah melihat beliau mengeluh tentang rasa lelah beliau. Sementara aku, sungguh jauh sekali dari sifat mama yang tak pernah mengeluh. Hampir setiap hari, ada saja keluhan yang keluar dari mulutku.

Mama itu memang poros dalam hidupku. Poros dalam rumah kami. Keluarga kami. Jadi, ketika kami harus kehilangan beliau memang membuat kami kehilangan pegangan, jembatan yang biasanya menjadi penghubung antar anggota keluarga terputus. Kami harus berusaha menata sendiri sekarang. Membangun jembatannya sendiri untuk menjaga keutuhan keluarga kami.

Ayahku dari dulu hanya pekerja serabutan dengan penghasilan yang juga kadang-kadang ada, kadang-kadang cukup. Jadi mamalah yang mencari uang untuk memenuhi kebutuhan hidup kami sehari-hari. Beliau menjual bumbu-bumbu dapur di kios kecil di pasar. Penghasilan beliau memang tak banyak, akan tetapi cukup untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari.

Sementara kakakku setelah lulus sekolah langsung memutuskan untuk menikah tanpa persetujuan orangtuaku. Keputusan kakakku menikah muda cukup mengecewakan mama. Karena beliau berharap banyak agar kakak mampu membantu perekonomian di keluarga kami. Lalu, aku sendiri masih kuliah. Sesekali aku ikut berpartisipasi di berbagai acara untuk sekadar mencari uang tambahan.

Hidup kami memang sederhana. Kami tidak kaya. Namun semua yang kami butuhkan selalu saja terpenuhi. Semua berkat mama. Beliau selalu mencoba memenuhi apa pun yang kami butuhkan. Jika beliau tak mampu membelinya, beliau akan mencoba mencarikan dengan meminjam kepada keluarganya atau bahkan beliau akan mencoba membuatnya sendiri.  Mama aku kreatif. Ada saja yang mampu beliau buat untuk anaknya. Dan ada saja yang beliau buat untuk menghasilkan uang.

Komunikasi kami pun sangat bagus hanya pada mama. Ayahku cukup pendiam, sehingga cukup sulit berkomunikasi dengan beliau. Namun berkat mama sebagai poros dari kami semua, kami tetap mampu berkomunikasi selayaknya keluarga. Obrolan di meja makan adalah salah satu hal yang menyenangkan di rumah kami. Menyantap masakan mama sambil membahas banyak hal yang kami alami hari itu. Keluarga kami terasa hidup.

Momen Kepergian Mama yang Begitu Meremukkan Hati

Mama juga jadi tempat curhatnya kami para anggota keluarga. Walaupun kakakku perempuan, aku tetap jauh lebih nyaman untuk curhat dengan mama. Mama akan selalu mendengarkan apa pun yang aku ceritakan, apa pun yang aku rasakan. Beliau akan selalu menjadi pendengar terbaik dalam hidupku.

Akan tetapi, beberapa tahun lalu, mama harus pergi. Aku masih mengingat jelas bagaimana hari itu, hari di mana mama harus pergi meninggalkan kami semua. Saat itu aku sedang menyantap makan siangku bersama kakak angkatku di cafe depan rumah sakit. Karena sedari pagi aku belum juga makan karena menjaga mama. Lalu aku pun dipaksa untuk makan siang agar tidak jatuh sakit juga. Namun saat suapan ketiga yang akan masuk ke mulutku, tiba-tiba kakakku menelepon dan berkata mama sudah meninggal.

Tanpa mencuci tanganku, aku langsung berlari tanpa berkata apa pun dengan kakak angkatku. Aku berlari semampuku sambil menangis. Jarak dari cafe ke ruang rawat mama cukup jauh. Aku bahkan tak mampu lagi berlari. Aku melepas sendalku dan berlari terseok-seok sambil menangis. Kekuatan kakiku semakin melemah, hanya tangisku saja yang semakin mengeras.

Aku semakin menangis sambil bergumam, “Mama jangan pergi." Orang-orang di sekelilingku menatapku yang menangis sambil berjalan seperti orang akan pingsan. Bahkan aku sempat mendengar ada dari mereka yang berkata, “Kasihannya." Aku tidak peduli lagi bagaimana orang lain menatap bagaimana hancurnya penampilan aku hari itu. Karena memang benar, aku hancur. Hatiku remuk, duniaku seolah runtuh. Aku kehilangan porosku. Aku kehilangan soulmate-ku. Aku kehilangan orang yang paling aku sayangi. Aku kehilangan mamaku.

Ketika tiba di depan ruangan rawat mama. Kakak dan adikku sudah menangis. Aku langsung masuk ke dalam ruangan. Mama sudah tiada.

Setelah kepergian mama, aku dan ayah hanya tinggal berdua di rumah sekarang.  Karena kakak dan adikku sudah memiliki rumah tangga sendiri. Kehilangan mama masih terlalu berat untuk aku dan juga ayah.  Ayahku juga semakin pendiam. Tak banyak hal yang beliau ceritakan. Tak ada yang tahu bagaimana hancurnya hati ayah. Kami berdua juga jarang berkomunikasi. Hanya sekadarnya. Kehangatan rumah kami kini mendadak hilang.

Berjuang Kembali Lanjutkan Hidup

Setelah 40 hari kepergian mama, ayah mencoba untuk meneruskan kios yang sudah mama bangun dari bawah. Aku dan saudaraku setuju saja, agar ayah punya kegiatan dan tidak melulu kepikiran mama. Namun, sekitar setahun kemudian, kami memutuskan untuk ayah berada di rumah saja. Biar kakak yang mengambil alih kios. Kami ingin ayah menghabiskan banyak waktu untuk beristirahat, bermain dengan cucu-cucunya dan melakukan hal-hal yang beliau senangi seperti memancing.

Lalu, akulah yang kini meneruskan perjuangan mama. Aku harus bekerja mencari uang untuk memenuhi kebutuhan kami sehari-hari. Aku yang harus melakukan semua pekerjaan di rumah. Dan ternyata itu cukup berat untukku. Aku cukup kelelahan untuk semua aktivitas yang aku jalani sekarang.

Aku tak mampu seperti mama. Komunikasiku dengan anggota keluarga yang lain sangat buruk tanpa mama. Tak hanya sekali dua kali aku depresi. Aku hampir mengeluh kelelahan setiap hari. Aku stres karena harus memendam semuanya sendiri. Aku tak menyangka akan seberat ini kehilangan mama. Aku tak menyangka akan menghadapi begitu banyak rintangan setelah kepergian mama. Mungkin saat mama masih ada, aku terlalu manja sehingga sekarang dituntut mandiri secara paksa rasanya cukup sulit. Tapi bukankah Tuhan tidak memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya? Dan aku percaya itu. Aku percaya Tuhan yakin aku mampu untuk jalani semuanya.

Seperti inilah hidupku sekarang, harus kuat dan mandiri. Harus banyak belajar untuk menata hidup lebih baik lagi. Aku belajar memperbaiki komunikasiku dengan ayah, dengan kakak, dan adikku. Kemampuan berkomunikasiku mungkin memang tidak bagus. Namun sekarang cukup baik. Aku membiasakan diri untuk ada di rumah saat makan malam. Setidaknya, saat makan malam aku bisa gunakan sebagai waktu untuk ngobrol dengan ayah. Aku juga harus ingat bahwa bukan hanya aku saja yang terluka ketika mama pergi. Keluargaku yang lain pun pasti merasakan hal yang sama. Hanya saja mungkin mereka lebih baik dalam menyimpannya dibandingkan aku.

Hidup kami memang sederhana, keluarga kami memang tidak sempurna, tapi aku selalu berharap kehangatan di dalamnya akan selalu ada sama seperti saat mama masih ada di samping kami. Karena sejauh apa pun aku pergi, keluarga adalah satu-satunya tempat paling nyaman untuk kembali.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Dilangkahi Dua Adik Laki-Laki dan Lajang Jelang Usia 40, Kujalani Hidup dengan Senyuman
Artikel Selanjutnya
Resep Soto Betawi Daging Kambing