Sukses

Lifestyle

Dilangkahi Dua Adik Laki-Laki dan Lajang Jelang Usia 40, Kujalani Hidup dengan Senyuman

Fimela.com, Jakarta Setiap keluarga memiliki banyak kisah dan makna tersendiri. Baik kisah bahagia maupun kisah yang berurai air mata. Kisah tentang orangtua, saudara, atau kerabat dalam keluarga. Ada makna dan pelajaran yang bisa dipetik dari setiap kisah yang kita miliki dalam keluarga. Melalui Lomba My Family Story ini Sahabat Fimela bisa berbagai kisah tentang keluarga.

***

Oleh: Cynthia Der Waskuri

Keluarga adalah sekumpulan manusia yang terbentuk dari sebuah cerita cinta yang disahkan secara sakral dan bertujuan untuk memberi kebahagiaan. Keluarga adalah lingkungan pertama seseorang mengenal cinta dan kasih sayang dari orang tuanya yang membentuknya menjadi pribadi yang berkarakter. Pengalaman masa kecil akan selalu tertanam di hati dan pikiran seseorang meskipun dirinya sudah menjadi seorang dewasa dan bisa berperan utama dalam menentukan langkah apa yang akan dia ambil dalam memutuskan dan menjalankan suatu pilihan dalam hidup.

Keluarga bagi aku adalah ‘rumah’ dan 'realita'. Arti ‘rumah’ adalah tujuan hidup, tempat berlindung yang menenangkan di saat merasa tersesat dan merindukan kasih sayang tulus tanpa syarat. Keluarga dalam arti ‘realita’ adalah sebagai pengingat dari mana asal aku dan siapa aku yang sebenarnya agar selalu sadar, tahu diri, dan tidak arogan dalam bersikap. Setiap pulang ke rumah aku merasa menemukan diri aku yang sebenarnya dan diterima seutuhnya sebagai seorang manusia.

Masa pandemi 2020 ini aku harus kembali ke rumahku, kampung halamanku. Hal ini bukanlah apa yang aku rencanakan karena dua tahun sebelumnya aku harus berada di rumah karena ada beberapa hal yang harus aku urus. Semua langkah dan rencana yang sudah aku susun terpaksa ditunda kembali disaat aku sudah siap untuk merantau dan merajut ulang apa yang sudah aku mulai di tanah perantauan.

Bersama Keluarga

Sekali lagi aku harus pasrah dan ikhlas dengan situasi dan kondisi di luar kendali aku. Kecewa, pasti. Merasa berat adalah pilihan. Dan aku memilih untuk menerima dengan beradaptasi dan berdamai dengan realita dengan tidak pasrah dan menyerah. Dan hal utama yang membuat aku merasa nyaman dan tenang adalah keluargaku yang memahami aku.

Keluargaku sebenarnya ingin aku tidak merantau kembali dan hidup di desa. Tapi mereka tidak memaksakan hal itu dan selalu mendukung langkah terbaik yang aku ambil selama positif. Dan yang membuatku bisa bernapas lega dan tenang menjalani hidup adalah karena mereka sangat paham dan menerima keputusanku untuk tetap single selama aku belum menemukan pria yang aku terima sebagai pasangan hidupku.

Menjadi seorang wanita karier adalah sebuah pilihan bagi wanita yang harus bekerja meski sudah berkeluarga karena tuntutan ataupun kebutuhan hidup. Namun ada juga wanita yang melakukannya untuk kesenangan demi membunuh waktu senggangnya agar produktif dan bermanfaat. Alasan lainya adalah untuk menuruti impian mereka agar bisa mandiri tak bergantung pada orang lain dan bisa membahagiakan orang-orang yang disayanginya.

Aku yakin dan paham akan doa keluargaku bagaimana mereka sangat mengharapkan agar aku segera menikah di usiaku yang sudah sangat matang. Aku memiliki masa muda yang menyenangkan dan melakukan apa yang aku mau selama aku suka, bisa dan mampu. Untuk masa saat pandemi ini terkadang aku merindukan masa-masa itu, saat aku bisa melakukan kegiatan di luar ruangan dan berinteraksi dengan teman dan orang-orang baru dan pastinya mengunjungi tempat baru.

Aku sudah mengalami kegagalan, keberhasilan, jatuh hati, sakit hati, bahkan aneka kejutan kehidupan yang diluar kuasaku yang membentukku menjadi wanita kuat dan pemberani yang selalu menemukan hal positif meskipun dalam kemalangan. Beberapa tahun ini aku sadar bahwa kehidupanku dalam foto-foto perjalananku itu adalah sepenggal dari kehidupan pribadi aku yang penuh warna seakan tanpa cela penuh tawa bahagia dan bukan gambaran kehidupanku seutuhnya.

Saat aku pulang ke kampungku dan berinteraksi dengan keluargaku, aku merasa menapak di bumi dan kembali ke realita siapa diriku sebenarnya dan apa harapan keluargaku pada aku. Harapan dan impian tinggi aku seakan tergantung sementara saat aku mengobrol bersama keluarga tentang kehidupan nyata diriku dan sadari aku adalah bagian dari kehidupan mereka, bagian dari mimpi-mimpi mereka. Bagiku mereka seperti sebuah alarm dan guru BP kehidupan agar aku tetap sadar dan tahu diri untuk tetap menjalani kehidupan dengan baik dan tidak seenaknya.

Dua Adik Laki-Laki Sudah Menikah Lebih Dulu

Dahulu saat usiaku masih di bawah 30 tahun, keluargaku sangat mendorong aku untuk segera menikah bahkan mungkin berusaha untuk menjodohkan, tapi aku bergeming. Aku tetap santai dan meneruskan kehidupan single yang aku minati tanpa ada rasa ingin segera berkeluarga, karena memang aku belum bertemu dengan pria yang mampu membuatku ingin menikah. Aku sangat mencintai kebebasanku dan kespontananku meskipun pernah gagal dan jatuh namun itu bukan soal bagi aku.

Semua kegagalan dan halangan yang aku alami aku terima sebagai pelajaran dan ujian untuk membentukku menjadi pribadi yang lebih baik, dan semua itu mampu membuatku tahan mental dan kuat. Semakin berumur aku merasa sangat ingin mandiri dan ingin tak bergantung pada siapapun. Entah sampai kapan, yang pasti aku percaya dan yakin suatu saat nanti aku akan hidup bersama pria yang akan selalu membuatku nyaman dan bahagia.   

Aku yakin keluargaku selalu berdoa agar aku segera menikah dengan pria yang akan membahagiakan aku sepanjang hidupku. Terlebih lagi kedua adik aku yang laki-laki sudah menikah dan mempunyai anak-anak yang sehat, lucu, dan menggemaskan. Ya, aku dilangkahi oleh kedua adikku dan itu bukan masalah bagiku.

Aku merasa bersyukur dan lega bahwa mereka sudah menikah dan memiliki keluarga kecil yang memberi warna bahagia bagi kedua orangtuaku dan kakek nenekku yang sangat menginginkan cucu dan cicit. Hidup mereka merasa lebih lengkap dan bahagia bisa merasakan umur yang panjang melihat generasi penerus mereka lahir di saat mereka masih hidup. Aku selalu melihat rona bahagia dan syukur di wajah mereka saat berinteraksi dengan para cucu dan cicit mereka.

Dari zaman dahulu ada keyakinan bahwa jika kakak perempuan dilangkahi oleh adiknya menikah maka itu adalah sebuah pamali atau hal yang dihindari karena akan menyusahkan jodoh baginya. Dulu aku memang sempat tidak nyaman akan hal itu, tapi bukan suatu ketakutan, tapi perasaan tidak nyaman saja. Tapi seiring waktu aku jadi terbiasa dan tidak merasakan apa-apa, bahkan omongan negatif orangpun tentang ke-single-an aku sudah tidak aku pedulikan, apalagi ternyata aku dilangkahi kedua kalinya oleh adik laki-lakiku yang nomor dua. Dan itu bukan suatu masalah. Bahkan jika adik perempuanku akan menyusul menikah terlebih dahulu. Aku merasa baik-baik saja dan tidak merasa harus cepat-cepat menikah demi mereda omongan orang lain tentang kapan aku menikah. Mungkin terasa egois tapi bagiku ini sudah ada dalam garis takdir yang sudah ditentukan sejak aku masih dalam kandungan ibuku.

Seiring waktu keluargaku tidak terlalu sering membahas tentang kapan aku akan menikah. Mereka melihat aku bahagia itu sudah membuat mereka lega, bahkan mereka mendukungku saat aku tetap berniat untuk bekerja merantau kembali. Mereka semakin paham dan memberiku keleluasaan untuk menjalani kehidupanku meskipun belum menikah di usiaku yang hampir 40 tahun. Mereka berpesan jangan terburu-buru untuk menikah dan jangan asal comot hanya agar memenuhi kebahagiaan dan harapan orang lain. Karena hidup dalam pernikahan kadang penuh kejutan di luar dari ekspektasi indah saat masih single atau masa pacaran.

Banyak orang terjebak dalam pernikahan tidak bahagia demi menjaga keutuhan rumah tangganya dan jaminan kehidupan anak-anaknya, meskipun dia sendiri terluka di dalamnya. Aku sangat berterima kasih pada keluargaku yang telah menerima keputusanku ini, karena aku juga yakin dan paham bahwa sumber kebahagiaan bukan hanya dari pernikahan saja. Justru dengan menikah maka kita harus siap dengan segala ujian dan drama kehidupan menuju kebahagiaan.

Keluargaku sekarang hanya mengingatkan dan mendoakan tanpa terlihat dan terasa memaksakan akan harapan mereka agar aku cepat menikah. Mereka paham bahwa aku telah paham apa harapan mereka. Dan aku percaya bahwa Tuhan telah mempersiapkan seseorang yang tepat untuk aku pada waktu terindah untuk menjalani sisa hidupku di dunia ini. Dan aku berdoa untuk orang-orang yang mendoakan aku agar menikah bisa melihatku di pelaminan bersama pria yang menikahiku, dan aku bisa memeluk mereka semua secara nyata, bukan tangisan air mata kerinduan bertemu seseorang yang tidak bisa lagi diwujudkan dalam kehidupan di dunia nyata ini.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Resep Soto Betawi Daging Kambing
Artikel Selanjutnya
Saat Bersama Banyak Saudara Menyesakkan Dada, Hidup Sendiri Bukanlah Hal Egois