Sukses

Lifestyle

Uang Bukan Segalanya, tapi Uang Bisa Membantu Hidup Kita Terus Berjalan

Fimela.com, Jakarta Ada yang bilang uang bukan segalanya. Hanya saja uang tetaplah kita butuhkan dalam kehidupan. Mengatur keuangan, membuat rencana keuangan untuk jangka waktu tertentu, mewujudkan impian melalui perencanaan finansial yang baik, rencana investasi dan membeli rumah, hingga pengalaman terkait memberi utang atau berutang pasti pernah kita alami. Banyak aspek dalam kehidupan kita yang sangat erat kaitannya dengan uang. Nah, dalam Lomba Share Your Stories September 2020: Aku dan Uang ini Sahabat Fimela semua bisa berbagi tulisan terkait pengalaman, cerita pribadi, kisah, atau sudut pandang terkait uang. Seperti tulisan berikut ini.

***

Oleh: Nuri Susan Ariestanti

Aku seorang wanita mandiri umur 30 tahun tepat setelah Juni tahun ini. Sendiri sudah aku alami sejak aku berpisah dari mantan suamiku empat tahun silam. Well, karena memang dari kecil sudah ditinggal orangtua jadi hidup sendiri bagiku sudah biasa.

Bekerja sebagai admin di sebuah tour agency di kotaku, cukup untuk mempertahankan hidup  bahkan terbilang sangat cukup dan sangat baik dibandingkan aku yang dulu masih bersuami. Mulai dari membeli hal apa pun yang aku inginkan, perawatan tubuh sampai membeli rumah meski harus melalui kredit dan subsidi pemerintah. Aku bukan tipe wanita yang gila belanja, namun suka melakukan perjalanan. "Mumpung belum punya baby dan suami lagi," pikirku dalam hati.

Awal tahun 2020 menjadi titik di mana aku sangat merasakan bahwa apa yang aku lakukan selama 29 tahun kemarin sangatlah sia-sia. Penurunan siklus wisata yang biasa terjadi tiap tahun antara bulan Januari sampai Maret biasa aku dan tim alami setiap tahunnya.

"Ah, paling April sudah banyak reservasi," itulah yang aku dan teman kerjaku pikirkan. Pertama kali berita Covid-19 beredar, aku tidak pernah menyangka bahwa akan sangat berdampak besar pada dunia terutama dunia pariwisata lahan pekerjaanku saat ini. Awalnya aku berharap bahwa siklus wisata tahunan yang biasa kami alami akan berangsur membaik seperti tahun-tahun sebelumnya namun tidak untuk tahun ini.

Lepas dari bulan januari kasus covid-19 mencuat dan memengaruhi tour reservasi yang sudah deal dengan kantorku saat itu ditambah lagi surat putusan pemerintah untuk melakukan social distancing. Alhasil, rapat mendesak diadakan dan keputusan akhir untuk merumahkan aku juga beberapa teman kerjaku pun terpaksa diambil mengantisipasi kondisi saat itu. Dari sinilah awal mula pemikiranku terhadap uang mulai berubah.

Berbekal gaji bulanan akhir yang aku dapat sebelum dirumahkan, itu pun hanya separuh dari gaji pokok. Aku mulai melakukan cara pengiritan berharap covid-19 yang mengguncang dunia ini segera berlalu dan kembali beraktivitas seperti biasanya. Namun, angan hanyalah angan.

Tiga bulan berlalu setelah dirumahkan, aku pun mulai merasakan keputusasaan sementara, tidak punya uang, tidak ada tempatku unuk berkeluh kesah atau untuk meminjam uang menyambung hidup keseharianku. Bulan puasa tak terelakkan, aku datang kepada temanku untuk membantu usaha jualan kuenya, meski hanya sekadar posting kue lebaran. Alhamdulillah hasil tidak mengkhianati usaha, cukup untuk bertahan hidup selanjutnya setelah hari raya.

Mencoba Berbagai Cara untuk Mendapat Penghasilan

Sebulan kemudian, aku berusaha untuk mencari alternatif lain dalam mempertahankan hidup. Jadilah aku pedagang online shop yang mengandalkan usaha dropship dengan membantu temanku hingga saat ini. Meski hanya mendapat keuntungan Rp5-10 ribu rupiah per transaksi, aku sudah sangat bersyukur karena Tuhan yang Maha Esa masih memberiku jalan baik untuk mempertahankan hidupku.

Selama satu bulan penuh aku menekuni online shop tersebut, aku mendapatkan inspirasi untuk menggali keahlian menjahitku kembali. Lima tahun yang lalu, aku sempat mengikuti les menjahit untuk bekal masa tuaku, tidak disangka keahlianku tersebut sangat berguna untuk saat ini. Karena kebanyakan waktuku ada di rumah selama pandemi  aku pun membawa mesin jahit peninggalan ibuku ke rumah baruku untuk aku pergunakan menjahit pernak pernik aksesoris dengan harapan bisa aku gunakan untuk menyambung hidupku kembali.

Kembali lagi aku bersyukur dengan kemampuanku tersebut aku bisa menghasilkan aksesoris, berupa mangtae doll, bandana, konektor hijab, masker, dll. Berbekal modal 200 ribu rupiah yang aku pinjam dari bosku aku bisa menghasilkan lebih dari modal tersebut, meski belum benar-benar mencukupi kebutuhanku, setidaknya aliran listrik dan air di rumahku masih bisa berjalan lancar selama musim pandemi ini.

Dari kejadian ini aku banyak memetik pelajaran bahwa uang sangatlah penting dalam mempertahankan hidup di era kini. Meski uang bukan segalanya, namun dengan uang kita, aku terutama bisa mempertahankan segalanya. Menabung, investasi, dan beramal adalah hal penting dan jadi tujuan di masa depan buatku setelah masa pandemi ini berlalu dan kondisi normal kembali.

Harapan saya unuk para wanita mandiri, ibu rumah tangga ataupun para remaja gadis yang saat ini dan sedang membaca tulisan saya pesan saya satu untukmu, kamu kuat, kamu bisa dan kamu mampu. Berusaha dan yakinlah tidak akan diuji suatu kaum melainkan kaum tersebut mampu melewatinya. Uang bukanlah segalanya, namun uang bisa mempertahankan segalanya dan bukan dengan segala cara kamu bisa mendapatkan uang melainkan cara yang kamu pilihlah mampu mendapatkan uang dengan segala-galanya.

#ChangeMaker

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Fimela Lady Boss: 3 Tahun Ada di Titik Terendah dalam Hidup, Cerita Nilamsari di Balik Kesuksesannya Membesarkan Kebab Turki Baba Rafi
Artikel Selanjutnya
Resep Sambal Goreng Kentang Krecek