Sukses

Lifestyle

Belajar Daring jadi Masalah Psikologis Tertinggi di Masa Pandemi pada Anak-Remaja

Fimela.com, Jakarta Hari Kesehatan Jiwa Sedunia 2020 yang diperingati pada Bulan Oktober tahun ini hadir di masa pandemi Covid-19. Mendukung kesehatan jiwa masyarakat di masa pandemi ini, Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI) dan Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia) merilis hasil survei terkini. 

Tim Satgas IPK Indonesia untuk Penanggulangan COVID-19 dibentuk sejak tanggal 27 Maret 2020, dan sejauh ini beranggotakan 734 psikolog klinis dari seluruh Indonesia. Tim ini melakukan pendataan terkait layanan yang diberikan oleh psikolog klinis selama periode Maret hingga Agustus 2020, sesuai dengan diagnosis masalah, dibagi menjadi tiga periode: Periode 1 (15 Maret – 31 Mei 2020); Periode 2 (1 Juni – 15 Juli 2020); dan Periode 3 (16 Juli - 31 Agustus 2020).

Data ini diperoleh dari 194 psikolog di 27 wilayah yang  telah memasukkan laporan data layanan. Layanan oleh psikolog klinis diberikan kepada individu, keluarga, ataupun komunitas, dengan jumlah Klien Individu sebanyak.14619 orang; Klien Keluarga sebanyak 927 keluarga; dan Klien Komunitas sebanyak 191 komunitas. 

Sekitar 67,8% dari penerima layanan individual adalah orang dewasa (sebanyak 9428 orang dewasa), klien anak atau remaja sebanyak 4690, sedangkan lansia merupakan kelompok usia yang paling sedikit mengakses layanan oleh psikolog klinis sebanyak 501 orang.

Berdasarkan periode layanan, pada kelompok anak dan remaja, terdapat kenaikan penerima layanan pada setiap periodenya yang mengeluhkan tentang belajar daring. Sementara di kelompok dewasa, jumlah individu yang mengakses layanan pada awal pandemi lebih banyak dibandingkan periode-periode selanjutnya. Kecenderungan ini juga terlihat pada kelompok lansia.

 

 

Prevalensi Masalah Psikologis Tertinggi

Terdapat enam masalah psikologis tertinggi yang ditemukan berdasarkan keluhan dan hasil diagnosis oleh psikolog klinis, yaitu: hambatan terkait dengan masalah belajar, khususnya pada klien anak dan remaja sebesar 27,2%. Secara umum, masalah psikologis yang secara konsisten banyak ditemukan pada semua kelompok usia adalah keluhan stress umum sebesar 23,9%; keluhan kecemasan sebesar 18,9%; keluhan mood swing (suasana hati yang berubah-ubah) 9,1%; adanya gangguan kecemasan 8,8%, dan keluhan somatis 4,7%. Masalah-masalah ini jika tidak segera mendapat penanganan dapat berlanjut menjadi gangguan lebih serius. 

DR. Indria L. Gamayanti, M.Si, Psikolog menyampaikan, IPK Indonesia siap membantu pemerintah untuk melakukan pendampingan dan layanan pada masyarakat guna mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat Indonesia. Dalam upaya menanggulangi masalah psikologis tertinggi yang ditemukan pada beragam kelompok usia, IPK Indonesia telah menjalin kolaborasi bersama berbagai pihak di antaranya dengan Kwartir Nasional Pramuka dengan Program Pelatihan Dukungan Psikologi Awal untuk membantu masyarakat agar mampu melakukan deteksi dini, penanganan keluhan maupun  gangguan psikologis pada tingkat awal; dan memahami kapan dan ke mana harus melakukan rujukan.

Di sisi lain, IPK Indonesia siap untuk menerima rujukan kasus-kasus yang memerlukan tindakan professional lebih lanjut. Adapun program pelayanan yang dilakukan oleh Psikolog Klinis di masa pandemi ini, telah dimulai dari tergabung dalam tim kesehatan melakukan penanganan psikologis di Natuna pada WNI yang dievakuasi dari Propinsi Hubei, penanganan di Pulau Sebaru pada ABK kapal Diamond Princess dan Dream World, pelayanan di Wisma Atlet, Pulau Galang, di Rumah-Rumah Sakit Rujukan Covid, Rumah sakit darurat dan RS Lapangan, Shelter, serta memberikan  layanan langsung pada masyarakat baik indiivual, kelompok maupun komunitas dengan melakukan koordinasi dan kerjasama lintas sektoral dan lintas profesi. 

Layanan dilakukan baik on site / luring maupun on line / daring. Di samping itu, masyarakat juga dapat mengakses layanan psikologi klinis melalui fasilitas online Halodoc dan aplikasi Sehat Jiwa Kemenkes. 

Simak video berikut

#ChangeMaker 

Loading
Artikel Selanjutnya
Tingkatkan Akses Belajar Daring Melalui Progam Pendidikan Digital Anak & Kaum Muda Marjinal