Sukses

Lifestyle

Kisah Ibu Pedagang Kaki Lima yang Sukses Meraup Keuntungan Di Masa Pandemi

Fimela.com, Jakarta Sejak virus corona masuk ke Indonesia, pemerintah menggalakkan sistem PSBB atau Pembatasan sosial berskala Besar untuk mencegah rantai COVID-19. Dengan berlakunya sistem PSBB ini, maka banyak masyarakat Indonesia yang melakukan karantina di rumah dan tidak boleh pergi keluar rumah, selain untuk hal penting atau bekerja.

Seperti yang terjadi di kota Surabaya. Sejak ada pandemi ini, pemerintah menghimbau warga untuk tetap di rumah saja. Sehingga ada banyak toko dan mall di kota Surabaya yang tutup, sekolah di liburkan dan banyak pekerja yang work from home. Tentu aja sistem PSBB ini membuat beberapa pedagang kaki lima gulung tikar, karena sepi pembeli di kala pandemi ini.

“Saya berdagang sebagai pedagang kaki lima ini sudah sejak saya SMP. Pendapatan kami sejak adanya pandemi ini terus menurun, dan keluarga kami mengalami krisis moneter karena jualan kami sepi pembeli. Tetapi kami tidak menyerah begitu saja dalam berdagang.” Ungkap Ibu Eka Apriliana Dewi atau yang sering disebut Mama Lia atau Ibu Lia ini saat Fimela temui pada 14 November 2020 lalu.

Sejarah Berdagang Sebelum Adanya Covid

Warung Cak Su, adalah warung makan yang menjual berbagai macam makanan mulai dari nasi goreng, mie rebus, mie goreng hingga nasi penyetan ayam, bebek goreng dan lain-lain.

”Warung PKL ini sudah berdiri lama sejak tahun 1986, pada saat ayah saja masih bujangan. Awalnya ayah hanya menjual minuman saja, seperti es campur, es degan dan minuman lainnya. Sejak saya SMP, saya membantu bapak berdagang. Dagangan kami memiliki menu yang lengkap seperti penyetan, nasi goreng, mie dan lain-lain. Kemudian tahun 2019, ayah saya meninggal dan sampai sekarang saya yang melanjutkan dagangannya.” Ungkap Ibu Lia pemilik warung Cak Su, yang sudah berganti nama menjadi Warung Bu Su.

Kerugian yang Dialami Selama Berdagang Saat Pandemi

Semenjak adanya pandemi, tentu saja warung milik ibu Lia yang berlokasi di Dharmahusada Indah Barat gang 6, tepatnya berada di depan sekolah Nation Star Academy ini tutup selama 5 bulan. Bu Lia juga mengaku bahwa selama pandemi ini memiliki kerugian yang besar dan ia tidak memiliki pemasukkan sama sekali.

Setelah PSBB berakhir, warung Bu Su ini kembali buka. Namun hal ini membuat bu Lia semakin stres, karena pendapatannya kurang dari 80% dari omzet harian sebelum adanya pandemi. Bahkan biasanya ia memasak beras hingga 18 kg dalam sehari, tetapi adanya pandemi ini membuatnya hanya memasak nasi 3kg saja, dan kadang dagangannya tidak habis terjual.

 “Selama PSBB, lokasi dagang kami di tutup oleh pemerintah Surabaya. Keluarga kami mengalami kerugian besar, bahkan saya harus menjual barang-barang berharga, hanya untuk membeli makan sehari-hari. Setelah PSBB kami buka kembali, namun dagangan kami tidak laris terjual, malah kami membuang uang lagi untuk membeli modal dagangan, tanpa mendapatkan keuntungan sama sekali.”

Ide Menjual Baso Aci

Mengalami kemerosotan menjadi pedagang kaki lima saat pandemi, ibu satu anak ini tetap memiliki semangat yang kuat untuk terus berdagang. Ia tidak menyerah dan mencari cara lain untuk menjual dagangan makanannya.

Bu Lia memutuskan untuk menjual dagangannya melalui media online. Ia percaya bahwa dagangannya akan laris jika dijual secara online. Kemudian bu Lia memulai bisnis kuliner secara online.

Awalnya ia menjual nasi goreng, mie goreng, mie rebus, serta nasi penyetan secara online. Namun suatu ketika bu Lia terpikirkan untuk menjual boci atau bakso aci, yang saat itu merupakan makanan hits dan bisa dinikmati kapan pun.

“Awalnya saya menjual nasi bungkus secara online. Banyak teman saya yang pesan makan siang dan makan malam, dengan memesan makanan melalui nomor whatsapp saya. Kemudian suatu ketika, saya membantu jualan teman saya . Teman saya sempat menjual boci, namun sayangnya teman saya tidak melanjutkan bisnis bocinya. Lalu saya terpikirkan untuk berjualan boci di masa pandemi ini secara online, untuk menambah pendapatan harian saya.” Ujar bu Lia yang ternyata juga memiliki hobi dalam dunia kecantikan.

Cara Menjalankan Dagangan Boci

Bu Lia adalah seorang ibu kelahiran tahun 1992, yang sangat tangguh menghadapi kerasnya hidup. Ia hidup bersama 1 orang anak dan ibu kandungnya, setelah ayahnya meninggal. Ia tidak pernah menyerah dan selalu mencoba berbagai masakan unik, salah satunya adalah bakso aci.

Ia mengaku bahwa ia sempat gagal hingga 7 kali saat mencoba membuat bakso aci. Ia belajar cara membuat boci ini melalui video youtube. Walaupun sempat gagal, ia tetap berusaha dan berani mengeluarkan modal besar untuk terus mencoba membuat boci.

Setelah 8 kali mencoba membuat boci, bu Lia berhasil membuat boci ini dengan rasa yang pas, tekstur kenyal yang pas dan ia berani membuka pre order dagangannya, melalui akun media sosial miliknya.

Dagangan bu Lia ini sangat laris, bahkan setiap ia membuka pre order, dagangannya selalu laris dan habis terjual. Dalam pembuatan bakso aci ini, ia buat di rumah bersama dengan anak dan ibunya, dengan dibantu alat yang sederhana.

“Saya pernah mencoba boci beberapa kali, lalu saya tergerak hatinya untuk mencoba membuat sendiri. Proses belajar membuat boci ini, saya lakukan hingga 7 kali gagal. Namun saya tidak menyerah, dan saya berhasil membuat boci dengan rasa yang enak di percobaan yang ke 8. Jualan saya semakin laris di media sosial, sampai saat ini saya masih dibantu anak dan ibu saya dalam pembuatan boci, pengemasan dan pengirimannya.”

Meraup Keuntungan yang Lumayan Saat Pandemi

Berjualan boci membuat bu Lia meraup banyak keuntungan pada saat pandemi. Dari yang awalnya hanya iseng, namun penjualan boci ini sudah sampai ke luar pulau Jawa.

Setiap membuka pre order, bu Lia bisa menjual minimal 30 bungkus boci. Pendapatannya selama pandemi ini menjadi bertambah, daripada saat ia menjual makanan PKL pada saat pandemi.

Boci ini dibuat tidak menggunakan bahan pengawet. Sehingga setelah ada yang order, pasti boci ini langsung dibuat dan dikirimkan ke pembeli melalui jasa ekspedisi yang pengirimannya selama 1 hingga 2 hari, agar segera sampai kepada pembeli.

Pengiriman paling jauh adalah ke kota Batam dan Bali. Boci yang dikirimkan melalui ekspedisi ini, rasanya tetap enak dan membuat konsumen selalu mengulang pembeliannya kembali. Untuk area Surabay dan Sidoarjo, biasanya diantarkan langsung oleh Bu Lia.

“Omzet saya selama jualan boci dan nasi box menjadi lebih meningkat, daripada saat saya hanya berjualan PKL saja di kala pandemi. Saya mengirimkan boci hingga ke Batam dan Bali, tetapi untuk nasi box, saya hanya menerima pesanan untuk area Surabaya dan Sidoarjo saja. Dan bagi pemesan area Surabaya dan Sidoarjo, biasanya saja antarkan sendiri dengan motor, ditemani anak saya atau ibu saya.”

Tips Jualan Makanan Online

Saat pandemi seperti ini, sangat bagus jika menjual dagangan dengan sistem online. Selain bisa dikenal masyarakat seluruh Indonesia, berdagang online bisa membuatmu tetap di rumah saja, dan membantu mencegah tertular covid-19.

“Untuk berdagang secara online, kenali target pasaran terlebih dahulu. Jika ingin berjualan makanan, cobalah untuk membuat makanan dengan bahan seadanya tetapi dengan kualitas yang terbaik. Kemudian promosikan jualanmu, doakan jualanmu dan syukuri berapapun hasil pendapatan dari penjualanmu setiap harinya.” Pesan bu Lia bagi para pedagang yang ingin tetap melanjutkan berdagang secara online, untuk mendapatkan keuntungan lebih dikala pandemi ini.

;
Loading