Sukses

Lifestyle

Virginia Gunawan Curhat Kekerasan pada Jurnalis Perempuan di Era Serba-Online

Fimela.com, Jakarta Virginia Gunawan, jurnalis Voice of America berbagi pengalamannya bekerja berkarier di industri media yang dimulai sejak usia 19 tahun saat masih berstatus mahasiswi. Ia masih ingat betul liputan pertamanya turun lapangan ke Pengadilan Tipikor dalam status anak magang.

Ia pun mencoba mingle dan beradaptasi dengan kondisi dan orang-orang di dalamnya. Hingga ia mendapati seorang pria seusia bapaknya mulai mengajaknya berbicara dan tiba-tiba menaruh tangannya di paha Virginia.

"Saat itu saya diam saja, karena posisi saya serba-salah, tidak bekerja di institusi karena masih magang dan di satu sisi tidak ingin bertindak tapi merusak nama baik perusahaan. Hingga saat kedua kalinya liputan di tempat sama, ada lagi seorang pria yang berbeda namun kelakuannya sama," ujar Virginia dalam diskusi bertema "Growing Challenges for Women in Journalism" yang digelar Kedutaan Besar Amerika untuk merayakan International Day fot the Elimination of Violence against Women 2020, Rabu (25/11).

 

Ia pun menyadari jika hal tersebut termasuk tindak kekerasan perempuan atau kekerasan berbasis gender. Sebab kekerasan tidak terbatas pada fisik, tapi juga penindasan, ketidaksetaraan di tempat kerja, perilaku yang menantang kemampuan perempuan untuk maju dalam profesi mereka, sampai serangan online.

 

 

Kekerasan Lewat Serangan Online

Virginia Gunawan pun melanjutkan cerita tentang kekerasan yang dialaminya dengan cara berbeda lewat serangan online. Kekhawatiran lain yang dialaminya adalah ketakutan jika orangtuanya menemukan jejak online apa yang dikatakan netizen terkait liputan yang dilakukannya.

Terutama kekerasan verbal yang menjurus pada seksual. Ia pun meng-capture komentar-komentar para netizen yang semakin dibaca justru semakin memuakkan dan menjijikan.

"Sangat memuakkan dan menjijikan, itu bentuk bullying yang kebanyakan hanya diberikan pada jurnalis perempuan. Ancaman seksual yang tidak akan dihadapi jurnalis laki-laki," lanjutnya.

Mungkin banyak yang menganggap lontaran tersebut sebatas bercanda jorok. Tapi sampai tahap apa para jurnalis perempuan bisa mentolerirnya?

Simak video berikut ini

#ChangeMaker 

Loading