Sukses

Lifestyle

Stunting Center of Excellence, Dukung Pemerintah Turunkan Angka Stunting di Indonesia

Fimela.com, Jakarta Stunting merupakan malnutrisi kronis yang terjadi dalam periode emas pertumbuhan anak atau disebut 1,000 hari pertama kehidupan. Stunting membawa dampak jangka panjang terhadap pertumbuhan fisik anak, imunologi, neuro-kognitif serta perkembangan sosial-ekonomi anak dimasa mendatang.

Upaya terus menerus oleh seluruh pemangku kepentingan dan intervensi berbasis data dan bukti ilmiah yang didukung oleh teknologi yang efektif biaya akan memampukan anak-anak mencapai pertumbuhan dan perkembangan yang optimal. 

Lebih dari 270.000 anak di bawah lima tahun yang mengalami stunting di NTT akibat permasalahan keamanan pangan, rendahnya keragaman diet serta sakit berulang. Oleh karennya didirikanlah Stunting Center of Excellence (CoE) di Labuan Bajo, Kabupaten Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. 

Didanai oleh Roche Indonesia, perusahaan farmasi dan diagnostik yang berbasis di Swiss, CoE dirancang untuk menjadi pusat pelatihan dan inovasi untuk menurunkan angka stunting di provinsi dengan prevalensi stunting tertinggi di Indonesia. 

Diharapkan Stunting CoE akan menjangkau 21 puskesmas, 700 tenaga kesehatan, 1825 kader posyandu dan sekitar 100.000 ibu dan anak di wilayah tersebut.

Menteri Kesehatan Letjen TNI (Purn.) Dr. dr. Terawan Agus Putranto, Sp. Rad. (K), menyebutkan, percepatan perbaikan gizi masyarakat menjadi salah satu strategi nasional RPJMN (Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional) 2021-2024, dengan salah satu indikator sasaran penurunan prevalensi stunting menjadi 14% di tahun 2024.

“Sangatlah tepat Stunting CoE didirikan di provinsi NTT, khususnya di Labuan Bajo, Manggarai Barat. Berdasarkan hasil Riskesdas 2013 dan 2018 proporsi balita pendek tertinggi di Indonesia berada di propinsi NTT dengan 51.3% di tahun 2013 dan 42.6% di tahun 2018,” Menteri Kesehatan menjelaskan.

Ditegaskannya, stunting merupakan permasalahan multidimensional yang penyelesaiannya memerlukan kerjasama multisektoral termasuk mitra pembangunan dan swasta.

“Saya berharap Stunting CoE dapat menjadi wadah bagi peningkatan kapasitas tenaga kesehatan serta peluang seluruh pemangku kepentingan untuk menciptakan intervensi dan inovasi dalam penurunan stunting berbasis kearifan lokal,” pungkas Menteri Kesehatan.

Mengetahui lebih jelas Stunting CoE

Stunting CoE merupakan pusat pelatihan dimana tenaga kesehatan dilatih (train the trainer) dan dilengkapi dengan peraga yang berbasis bukti ilmiah untuk memampukan mereka selanjutnya menjadi pelatih di rumah sakit atau pusat pelayanan kesehatan dimana mereka bekerja. Serta bertujuan untuk memperkuat sistem kesehatan dengan fokus pada tenaga kesehatan di tingkat puskesmas, termasuk kader posyandu di Manggarai Barat. 

Seluruh kegiatan akan dilaksanakan oleh 1000 Days Fund, sebuah yayasan yang telah bekerjasama dengan komunitas lokal serta pusat pelayanan kesehatan di NTT selama dua tahun terakhir. 

Stunting CoE akan melakukan serangkain pelatihan dan lokakarya dengan topik meliputi pemahaman tentang stunting, gizi dan alat peraga untuk ibu dan anak. CoE juga meningkatkan penggunaan perangkat pencegahan stunting seperti poster pintar, selimut cerdas, peraga kartu pintar serta kartu konvergensi desa.

Wakil Ketua Komisi IX DPR-RI, Melkiades Laka Lena yang juga hadir dalam acara inagurasi menyampaikan  Komisi IX DPR adalah komisi yang membidangi masalah kesehatan. Stunting di Nusa Tenggara Timur merupakan masalah serius yang penanganannya membutuhkan kerjasama semua pihak.

 “Semoga upaya yang sangat baik ini mendorong semua pihak dan pemangku kepentingan untuk ikut bergabung dalam upaya bersama melawan stunting di Indonesia, dan menjadikan anak-anak kita generasi yang lebih sehat, cerdas dan siap menyambut masa depan,” ungkap Melkiades.

Loading
Artikel Selanjutnya
Mengenal Penyebab Stunting pada Anak di Indonesia dan Cara Mencegahnya
Artikel Selanjutnya
Tips Cegah Stunting dengan Edukasi Gizi sejak Remaja ala Arumi Bachsin