Sukses

Lifestyle

Lembutnya Senyum Ibu Membuatku Lebih Tegar Jalani Hari-hariku

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Yuni Ayuning Suri

Bila dapat didefinisikan mungkin ibu merupakan superhero dan tokoh favoritku. Superman akan kalah kuat dengan ibu yang setiap hari harus bertarung melawan cucian baju dua-tiga ember besar, setumpuk cucian piring, memasak hidangan untuk suami dan anak-anaknya, menjemur pakaian, menyetrika baju dan mengurusi segala urusan rumah lainnya. The Flash akan kalah cepat ketika disandingkan dengan kekuatan ibu yang panik ketika anaknya dalam masalah atau bahaya. Pun paranormal akan kalah sakti ketika harus berhadapan dengan ibu dalam hal menemukan barang yang hilang. Tetapi jangan salah, apabila ibu sudah mengeluarkan segenap emosi yang ia pendam maka hantu akan kalah seram juga. Hehe, bercanda ya para ibu.

Di balik hal-hal tersebut, ibu tak dapat kudefinisikan dengan baik. Betapa istimewa dan mengagumkannya ia tak dapat kutorehkan melalui kata-kata. Pernah suatu ketika, kala umurku menginjak sembilan tahun. Keluarga besar kami yang bisa dibilang belum berkecukupan dari segi ekonomi harus membanting tulang untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. Sebagai anak-anak hasratku untuk memiliki mainan atau barang yang dimiliki oleh teman-temanku begitu tinggi.

Sepulang sekolah aku merengek meminta ibu untuk membelikanku buku binder seharga tujuh belas ribu. Dengan sabar ibu menuntunku ke kamar untuk bersama-sama melihat sisa uang yang ada di dompetnya. Ah, ada selembar uang yang bertengger di sana bertuliskan dua ribu rupiah. Sembari mengelusku ringan ibu berkata, “Sabar ya, Nduk, besok ibu belikan kalau uangnya sudah ada.”

Dan benar saja, beberapa hari kemudian sepulang sekolah buku binder berwarna biru muda sudah ada di meja belajarku, lengkap dengan pembatas dan kertas warna-warni. Aku girang bukan kepalang tanpa tahu kalau ibu telah menjual sepasang antingnya ke pasar.

Aku Menyayangimu, Ibu

Ketika umurku dua belas, adik pertamaku genap berusia delapan tahun. Ia merengek meminta telur goreng dan tak mau makan apabila kehendaknya belum terpenuhi. Lagi-lagi, dengan sabar ibu hanya tersenyum. Padahal aku tau kalau kompor kami kosong dan uang yang kami miliki tak cukup untuk membeli minyak tanah. Ibu tak kehabisan akal, ia meminta kayu yang sudah tak terpakai, bekas makanan ternak milik tetangga sekitar. Dengan tubuhnya yang mungil ia gendong setumpuk kayu dipunggungnya. Tanpa mengeluh ia seka peluh demi peluh di keningnya.

Lihat betapa kuatnya ibuku! Pun ketika aku menawarkan bantuan ia masih sempat menolak jika tak kupaksa. Lihat juga betapa menawan dan mengagumkannya ibuku! Meski lelah dan sedang susah seulas senyum tetap terpatri indah dibibirnya. Lihat senyum ibuku! Ia sembunyikan duka di hatinya tuk jaga dan besarkan anak-anaknya.

Ibu, maaf karena telah banyak kubuat kau menjatuhkan air dari pelupuk matamu, mengecewakan hatimu dan membuatmu susah dengan segala kenakalanku. Maaf pula, karena hingga kini aku belum bisa membuatmu bahagia dan bangga atas pencapaianku. Karena anakmu ini masih merangkak—mencoba menggapai impiannya sedikit demi sedikit. Namun, aku tahu kau tak pernah berhenti memanjatkan doa terbaikmu untukku yang kau sisipkan di sela-sela sujud sepertiga malam.

Terima kasih banyak, karena bersedia menjadi ibu untuk anak sepertiku yang sangat banyak memiliki kekurangan ini. Terima kasih juga telah menjadi ibu terbaik bagi aku dan adik-adikku. Ibu, aku menyayangimu. Sungguh. Sangat menyayangimu.

#ChangeMaker

Loading