Sukses

Lifestyle

Terkadang Harus Ada Jarak Lebih Dahulu agar Rindu Dapat Tercipta

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh:  Mahmudah

Benar kata Andmesh dalam lirik lagunya yang berjudul “Hanya Rindu”. Tak bermaksud untuk menolak kenyataan, aku hanya rindu. Bertahun-tahun berlalu, aku masih saja merindumu, Ibu.

Kalimat yang pernah aku ucap dulu ketika masih kecil bahwa aku ingin segera menjadi dewasa, rasanya ingin kutarik kembali. Seperti ada sebuah penyesalan karena aku pernah mengucapkan itu. Sebab nyatanya, kau harus kembali padanya bahkan sebelum aku remaja. Ketika hari di mana kau pergi, terbersit pikiran, “Keluargaku kan sedang berduka, jadi aku boleh tidak berangkat sekolah." Ah, betapa polosnya aku waktu itu, Bu. Maaf karena pernah berpikir seperti itu.

Sebelas tahun berlalu, aku masih saja bersedih akan kepergianmu. Bukan maksud tak rela, hanya saja aku ingin kembali-setidaknya mengingat bagaimana cerahnya senyummu, Ibu. Dua belas tahun hidup bersamamu rasanya belum ada kenangan apa-apa tentangmu. Aku bahkan pernah merasa takut saat melihatmu terbaring lemah dengan tubuh kurus-seperti hanya tulang yang berkulit. Tak terbayang akan menjadi apa rasanya hidup tanpamu. Karena ada atau tidaknya Ibu, hidupku tetap berlanjut.

Entah Pantas Disebut Kenangan atau Tidak

Dibesarkan dalam keluarga yang tidak secara gamblang menunjukkan rasa kasih sayangnya, aku terbiasa tidak mengucapkan “aku sayang ibu”, “aku cinta ibu”, “selamat hari ibu”, dan sebagainya. Nyatanya justru yang sering kuucapkan kan adalah “aku rindu Ibu”. Aku selalu berharap dan berdoa agar aku selalu baik-baik saja, Bu. Meskipun kita tidak berada di dunia yang sama lagi, namamu selalu tersimpan di hati dan memori.

Pernah suatu hari aku sakit dan tak sadarkan diri. Tentu saja aku tidak merasakan apa yang terjadi padaku ketika itu karena dalam kondisi tidak sadar. Bermula dari aku yang merasa tidak enak badan dan memutuskan untuk tidur sejenak, kata keluargaku aku tidak kunjung bangun padahal sudah berulangkali dibangungkan.

Katanya lagi, ibu menggendongku. Membawaku ke dukun bayi-tapi justru disuruh untuk dibawa ke rumah sakit, ke dokter-tapi disuruh untuk segera diopname. Hingga dibawa ke orang-orang tertenu-tapi justru tanggapannya lebih tidak mengenakkan. Namun akhirnya aku sadar setelah sampai di rumah.  Yaa, semua itu aku tahu dari ‘katanya’. Sudah kukatakan bahwa aku dalam keadaan tidak sadar, bukan? Jadi mana mungkin itu menjadi kataku.

Selepas ibu pergi, rasanya aku ingin protes kenapa waktu aku digendong ibu, aku dalam keadaan tidak sadar? Kalau sadar, kan aku tahu bagaimana rasanya. Lucu, aku ingin menyesal karena tidak sadar ketika digendong ibu. Ibu, aku mencintaimu. Kuharap Ibu berada di tempat terbaik di sana. Benar memang apa yang dikatakan orang-orang bahwa kehadiran seseorang akan terasa jika sudah tidak ada hadirnya. Terkadang harus ada jarak dulu agar rindu dapat tercipta.

#ChangeMaker

Loading