Sukses

Lifestyle

Kita Baru Memahami Perasaan Ibu saat Kita Sendiri Menjalani Peran Itu

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita di balik setiap senyuman, terutama senyuman seorang ibu. Dalam hidup, kita pasti punya cerita yang berkesan tentang ibu kita tercinta. Bagi yang saat ini sudah menjadi ibu, kita pun punya pengalaman tersendiri terkait senyuman yang kita berikan untuk orang-orang tersayang kita. Menceritakan sosok ibu selalu menghadirkan sesuatu yang istimewa di hati kita bersama. Seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela dalam Lomba Cerita Senyum Ibu berikut ini.

***

Oleh: Martha Dian

Menjadi ibu adalah peran yang tak mudah dijalani. Perlu kesiapan dan keikhlasan dalam menjalaninya. Bukan menakuti, pemikiranku berdasarkan realita. Mengapa tak mudah? Karena seorang ibu harus memberikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk keluarga. Ada kewajiban untuk memberi rasa nyaman dan aman bagi tiap anggota keluarga. Ah, berlebihan? Tidak sama sekali. Karena kini aku pun telah menjadi seorang ibu, aku perlahan mulai memahami perasaan dan jalan pikiran seorang ibu. Benar kata orang, kita akan mengerti perasaan orangtua hanya setelah kita sendiri juga menjadi orangtua, terutama ibu. Kini aku bisa merelasikan apa yang ibuku rasakan dengan apa yang kini aku lalui sebagai seorang ibu.

Berawal dari gambaran yang aku peroleh dari ibuku, ibu seolah tak pernah lelah. Yang kuingat, ibuku tiap pagi bangun lebih awal untuk menyiapkan sarapan tapi juga bekal untuk dibawa bapak, aku serta adikku. Hampir setiap hari dengan menu yang berbeda. Semua disiapkan sambil tersenyum dan pesan khas agar dihabiskan. Kelihatan sederhana untuk dilakukan, tapi ternyata tak mudah.

Pagi hari yang dingin adalah waktu paling nyaman untuk kembali tidur. Saat aku telah menjadi seorang ibu, baru aku pahami rasa kantuk luar biasa yang harus ibuku hadapi. Belum lagi memutar otak mencari ide menu berbeda tiap hari agar suami dan anak-anaknya tak bosan. Betapa merepotkan! Bagaimana bisa ibu melakukannya tiap hari sambil tersenyum? Ternyata baru kupahami juga ada perasaan bahagia saat aku tersenyum menghidangkan sarapan dan bekal untuk keluargaku, membayangkan mereka lebih siap menghadapi hari berkat makanan yang kusiapkan. Dan kebahagiaanku bertambah saat suami dan anakku tersenyum menikmati sarapan apalagi bekal yang kubuat habis.

Rasa kantuk dan lelahku terbayar lunas, hilang sekejap. Yang kuingat pula, saat ibu memasak makanan kesukaanku. Pertanyaan sederhana ibuku yang tak egois, "Mau dibuatkan apa hari ini?" Beliau bisa saja memasak sesuai keinginannya, tapi lebih gembira saat memasak makanan kesukaanku atau anggota keluarga lainnya. Terlebih mengetahui bahwa masakannya akan habis dan mengundang rasa puas dari anggota keluarga yang menikmatinya.

Ya, kini aku baru paham arti senyuman ibu saat di atas piring tak ada yang tersisa dan kami menikmati setiap suapan. Senyuman empati tulus akan rasa bahagia yang anggota keluarga lain rasakan.

Yang kuingat pula, senyuman ibu ada saat aku tersenyum karena kami berkumpul bersama, saling bercerita dalam keadaan sehat dan ceria. Dan senyuman itu memudar menjadi air mata dan kecemasan saat salah satu anggota keluarganya harus terbaring sakit. Rasa panik dan cemas bahwa anggota keluarganya tidak baik-baik saja tergambar jelas pada raut wajah ibu.

Aku ingat saat di bangku SD, aku demam beberapa hari dan ternyata terkena cacar, ibuku langsung mengajakku ke dokter terdekat. Setelah dari dokter, tiap beberapa jam mengecek suhu tubuhku, tak putus mengingatkan untuk minum obat dan menyuapiku makan dengan sabar. Setelah cacar mengering aku merasa gatal di sekujur tubuh. Dan ibu dengan sabarnya tiap hari mengoleskan parutan jagung manis yang dipercaya bisa membuat kulit terasa dingin, mengurangi rasa gatal dan mencegah adanya bekas di kulitku. Hingga akhirnya aku sembuh dan ibu tersenyum lega.

Bahkan hingga beranjak dewasa, walau aku hanya pusing biasa, ibu akan tetap terus mengingatkanku untuk beristirahat dan minum obat. Dan aku sering merasa bosan akan hal itu, sampai terkadang aku merasa ibu terlalu berlebihan karena aku bisa mengatasinya. Tapi, kini baru aku rasakan.

Memahami Arti Senyuman Seorang Ibu

Perasaan ibu saat anak sakit, rasanya ikut merasakan sakitnya. Itu saat anak bayiku demam setelah melakukan vaksin DPT. Sebenarnya wajar dan demam akan hilang dalam 2-3 hari, namun saat kulihat anakku sulit tidur dan merasa tidak nyaman, rasanya tidak tega dan berharap lebih baik aku saja yang menanggung rasa sakit itu. Dan saat demamnya hilang, aku pun merasa lega luar biasa dan kembali tersenyum karena celoteh serta tingkah lucu bayiku. Maaf Bu, aku sering mengabaikan perasaan khawatirmu. Aku baru merasakan cemasmu saat anggota keluarga sakit dan bahagiamu saat kami sehat dan tertawa.

Dan yang kuingat, ibu selalu membagi apa yang beliau dapatkan kepada anggota keluarganya. Ibuku pandai membuat masakan dan camilan. Bahkan tak sedikit yang memesan dan membeli dari ibuku, biasanya kue kering dan jajanan basah seperti bolu, lemper, pastel, pukis, nagasari, onde-onde dan masih banyak lagi. Dari hasil pesanan tersebut, ibu mendapatkan keuntungan yang lumayan. Tak banyak tapi cukup untuk mengganti modal awal dan membeli kebutuhan dapur. Namun ibu berusaha agar bisa membelikan anak-anaknya sesuatu dari hasil jerih payahnya sendiri, bukan meminta dari bapak walau ibu hanya seorang IRT.

Biasanya, setelah selesai merapikan alat masak dan rumah, ibu akan mengajak anak-anaknya untuk sekadar jajan di luar, menikmati semangkuk bakso yang laris di ujung jalan. Atau semangkuk soto bogor di dekat pasar yang tak jauh dari rumah. Dan aku serta saudaraku akan tersenyum karena memang kami menyukai makanan tersebut. Kalau sudah begitu, ibu tersenyum dan bertanya apa kami ingin menambahnya. Sederhana memang, karena keluarga kami hanya keluarga sederhana. Makan bakso atau soto bogor di luar rumah saja sudah menyenangkan! Dan kini, aku pun merasakan hal yang sama.

Aku senang saat aku bisa membelikan sesuatu untuk anakku dengan jerih payahku. Walau aku harus menulis semalaman atau melukis seharian, asalkan itu bisa untuk membuat anakku tersenyum. Kini jelas bagiku, senyuman seorang ibu selalu tulus untuk anggota keluarganya.

Senyuman ibu adalah cara ibu untuk melindungi. Senyuman seorang ibu bisa menjadi kekuatan dan kenangan terindah bagi anggota keluarganya. Dan di saat ibu kehilangan senyumnya, rumah tak akan terasa hangat lagi. Terima kasih Bu, untuk senyumanmu yang akan selalu berada di dalam hatiku dan kini aku pun akan senantiasa tersenyum untuk keluarga kecilku seberat apa pun hari.

#ElevateWomen

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Mengenal Kinesiologi untuk Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi
Artikel Selanjutnya
Hobi Bikin Dessert? Gali Inspirasinya dari Chef Yuda Bustara di Konser Amal Kreatif Lokal