Sukses

Lifestyle

6 Cara Mendidik Anak yang Bandel Tanpa Harus Berteriak

Fimela.com, Jakarta Setiap orangtua pasti mengharapkan buah hatinya tumbuh menjadi anak yang baik, penurut, dan hormat. Namun sayangnya, tak semua anak gampang diatur. Beberapa anak justru lebih memilih melanggar aturan dan bertindak semaunya. Sikap anak bandel dan nakalnya pasti membuat banyak orang tua frustasi dan emosi.

Menggunakan kekerasan dengan berteriak atau memukul hanya akan memperburuk masalah perilakunya. Melansir dari Healthline, dalam sebuah penelitian ditemukan anak usia 13 tahun yang diteriaki oleh orang tuanya bereaksi dengan meningkatkan tingkat perilaku buruk mereka pada tahun berikutnya. 

Sehingga tentu si kecil akan terus membandel dan tak akan mau mendengarkan nasihat orang tuanya. Karena itu, dikutip dari Very Well Family, berikut ini enam cara mendidik anak yang bandel tanpa harus berteriak.

1. Memberikan contoh yang baik

Orangtua menjadi role model bagi setiap anak. Ketika mengharapkan anak mempunyai perilaku yang baik, ada baiknya orang tua memulainya dengan memperbaiki diri sendiri dahulu agar bisa menjadi contoh yang baik untuk si kecil.

Bukan hanya nasihat, cara mendidik anak nakal yang paling efektif adalah dengan memberinya teladan lewat perilaku sehari-hari. Bila si kecil menemukan orangtua berperilaku tidak sesuai dengan nasihat yang diberikan untuk anak, maka jangan heran anak tak akan mendengarkan nasihat tersebut.

2. Tetapkan aturan yang jelas

Bila si kecil masih saja bandel meski sudah diberi banyak nasihat dan contoh yang baik, maka cara selanjutnya yang bisa dilakukan adalah dengan menetapkan aturan. Buatlah aturan mengenai apa yang tidak boleh dilakukan di rumah. Baik itu waktu menonton tv atau waktu tidur si kecil.

Ketika aturan itu dilanggar kamu bisa memberikan konsekuensinya. Perlu diingat, jangan menggunakan kekerasan atau berteriak untuk mendisiplinkan anak ya, sebab hal tersebut hanya akan membuat si kecil semakin liar. 

3. Berikan konsekuensi

Langkah efektif agar si kecil menuruti orangtua adalah dengan memberikannya konsekuensi. Jelaskan konsekuensi negatif dari melanggar aturan kepada anak.

Misalnya, kamu dapat mengatakan " Jika kamu tidak mengerjakan tugas sebelum makan malam, maka tidak akan ada TV untuk malam itu." Dari sana, si kecil akan menimbang untuk membuat pilihan yang baik.

Namun, pertimbangkan konsekuensi mana yang mungkin paling efektif. Ingatlah bahwa konsekuensi yang berhasil untuk satu anak mungkin tidak berhasil untuk anak lainnya.

 

4. Bersikap konsisten

Setelah menetapkan memberikan contoh, menetapkan aturan, hingga memberi konsekuensi, penting bagi para orang tua untuk bersikap konsisten. Sebab, seorang anak akan selalu melihat dan meniru segala perilaku orang tua yang ditunjukkan.

Hindari menjadi pribadi yang terkesan plin-plan saat bersikap. Beberapa orang tua terkadang memberikan toleransi saat si kecil melakukan kesalahan yang masih bisa dikatakan wajar. Padahal toleransi yang berlebihan juga akan membuat si kecil menjadi sulit di atur.

Kalau Anda tak ingin hal ini terjadi, bersikaplah konsisten dalam membuat aturan ya. Usahakan peraturan tersebut berjalan setiap waktu.

5. Berikan pujian saat bertindak baik

Selain menawarkan konsekuensi negatif saat melanggar aturan, pastikan kamu juga memberikan konsekuensi positif karena si kecil mengikuti aturan tersebut.

Berikan anak pujian karena telah mengikuti aturan. Katakan sesuatu seperti, "Terima kasih telah mengerjakan tugas tepat waktu. Saya menghargainya."

Berikan buah hati banyak perhatian positif guna mengurangi perilaku mencari perhatiannya. Luangkan waktu untuk mendampinginya dan memotiviasinya agar si kecil terus berkerja dengan baik.

6. Imbalan untuk perilaku baik

Daripada memukul anak karena perilakunya yang nakal, beri dia imbalan untuk perilaku yang baik. Misalnya, jika anak sering bertengkar dengan saudara kandungnya, buat sistem penghargaan untuk memotivasi mereka agar lebih akur.

Memberikan insentif untuk berperilaku dapat membalikkan perilaku buruk dengan cepat. Hadiah membantu anak-anak untuk fokus pada apa yang perlu mereka lakukan untuk mendapatkan hak istimewa, daripada menekankan perilaku buruk yang seharusnya mereka hindari.

Penulis: Hilda

#Elevate women

Loading