Sukses

Lifestyle

Memuliakan Ibu dengan Sabar, Bentuk Bakti dan Cintaku Padanya

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh:  Dr Nrlanie

Usia ibu yang menginjak 84 tahun, tentunya sebuah anugerah buat seorang anak. Kebersamaan dengan ibu di hari tuanya dalam perspektif agama Islam dilihat sebagai jalan meraih surga dan menjadi kerugian bagi mereka yang tidak mendapatkannya. Makanya bakti kepada orang tua dan menyenangkannya bagian keharusan dan dicontohkan Rasulullah SAW.

Namun jalan ke surga memang tidak segampang diduga, tinggal bersama seorang ibu yang sepuh membutuhkan sebuah kesabaran dan keikhlasan seorang anak. Itu yang saya hadapi ketika ibu yang sudah menjanda ditinggal Ayah, saya ajak tinggal di rumah.

Ada hal hal yang mungkin kita tidak biasa lihat sebelumnya ditemui setelah dewasa tinggal bersama dengan ibu. Karena ibu tetap melihat kita sebagai seorang anak dengan segala doktrin dan aturannya. Di satu sisi kita sudah berkeluarga dan punya anak.

Gesekan-gesekan kadang terjadi, terkait kebiasaan kebiasaan yang berbeda, seperti buang sampah, terkait cucian, dapur dan lainnya. Sampai seorang tetangga mengatakan bahwa ia tidak mau tinggal dengan ibunya karena kecerewetan ibunya. Namun saya berpikir lain, melihat kebersamaan ibu adalah sebuah ibadah dan bakti. Walau sebanyak apa pun bakti anak tiada mampu membalas kebaikan seorang ibu.

Ibu di Usia Senjanya

Yang terpikir bagaimana ibu bisa senang dan betah di rumah, menjadikan dia ratu di rumah, melayaninya dengan sabar. Tanpa sabar mungkin akan sulit karena semakin menua seorang manusia seakan kembali lagi ke masa lalunya.

Seperti ketika ibu nonton TV dengan volume nyaring, diakali agar tidak pekak, kami pakai earphone atau memberitau pelan pelan. Membiarkan kesenangannya apa, suka masak di dapur biarkan saja berhambur, tidak perlu dimarahi. Mau nonton TV  seharian diingatkan waktu sholat saja dan makan. Mau jalan jalan ke pantai atau ke gunung siap aja diantarkan. Saya tidak mau menegurnya karena usia ibu ini agak sensitif dan agak baperan. Yang ditakuti adalah bila ibu marah. Bila sudah marah, seperti biasa setiap hari harus mencium tangannya minta maaf sehabis sholat subuh.

Membuatnya tersenyum adalah hal yang menyenangkan melihatnya. Ketika menyambungkan channel youtube kesukaannya atau menyambungkan video call dengan anak, cucu atau saudaranya. Melihatnya berjemur di matahari pagi sambil membiarkannya menikmati bunga-bunga yang tidak boleh dipotong walau sudah tinggi. 

Memuliakan ibu membuatnya tersenyum adalah sebuah amal  ibadah dan sebagai pelajaran bahwa besok juga kita akan berada di posisinya menjadi tua. Saya ingin tua bahagia. Kesabaran dalam bakti kepada ibu bagian dari doa yang diajarkan buat seorang anak, bagaimana kewajiban anak membahagiakannya. Setidaknya kita merasakan bagaimana ketika kecil suka merepotkannya, menyita waktunya dan bahkan darah dan nyawanya sudah ia berikan agar kita terlahir ke dunia. Jadi buatlah ia tersenyum dan selalulah meminta maaf dan ridanya. Karena turunnya  rida Tuhan salah satunya disebabkan rida ibu atau orang tua.

#ElevateWomen

;
Loading
Artikel Selanjutnya
Menu Hari Ini: Bihun Cap Jae, Bakwan Udang dan Ikan Bilis Balado
Artikel Selanjutnya
Diksi adalah Pemilihan Kata, Berikut Ciri-Ciri, Jenis, dan Fungsinya