Sukses

Lifestyle

Cintaku untuk si Hitam, Kucing Kesayangan yang Memberi Pelajaran Berharga dalam Hidup

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh: Meliana Aryuni

Mungkin banyak di antara pembaca di sini yang suka merawat hewan peliharaan bahkan sampai diajak tidur. Kalau begitu, kesukaan kita sama. Aku menyukai kucing dari kecil, namun baru bisa merawatnya ketika usia sudah memasuki dewasa awal. 

Kejadian ini sudah lama, yaitu ketika aku masih lajang, usia dua puluh tiga tahun. Pada saat itu, aku memiliki seekor kucing betina, yang baru sebulan melahirkan. Nama kucingku itu Nitu. Anaknya ada tiga. Semua anak Nitu sangat lincah. Entah bagaimana aku mencintai mereka. 

Awalnya, Ibu Nitu hanya seekor kucing yang sering bermain ke rumahku. Namun, aku sering memberinya makan ketika dia ke rumah. Rasa sayang pun tumbuh di hatiku. Aku senang bermain dengan Ibu Nitu. Baru kutahu, ternyata kucing itu adalah kucing tetanggaku. Ibu Nitu bertahan lama di rumahku, sampai dia melahirkan tiga anak. Setelah melahirkan dan anaknya sudah besar, tetanggaku membawanya pulang. Aku sedih saat itu. Namun, aku tidak berhak melarangnya.

Aku pasrah kehilangan Ibu Nitu. Kini, tinggallah Nitu dan saudara-saudaranya di rumah. Namun, satu per satu saudara Nitu diadopsi oleh saudaraku.  Hingga tinggallah Nitu sendiri di rumah. Sampai Nitu melahirkan bayi untuk pertama kali. 

Anak-anak Nitu tumbuh menjadi anak kucing yang sehat. Mereka banyak makan dan lincah. Kebiasaan mereka adalah mengikuti kaki orang yang mendekatinya. Mungkin si anak mengira kami ingin mengajaknya bermain sehingga dia mengejar kami.

Suatu ketika, si anak kucing yang baru berumur enam bulan bermain di tangga yang menghubungkan dapur dan ruang tamu. Papaku yang saat itu ingin menaiki tangga tidak mengetahui bahwa dia diikuti anak kucing. Tanpa sengaja, Papa menginjak anak kucing yang berbulu hitam sampai tidak bergerak. 

Aku yang mendengar suara teriakan kesakitannya langsung berlari melihat anak kucing yang tergeletak tidak berdaya.  Entah mengapa air mataku menetes. Kepala si hitam terkulai lemas, seluruh kakinya meregang kesakitan. Saat itu aku ingin sekali marah kepada Papa. Namun, semua sudah terjadi. Si hitam yang tergolek tidak berdaya kuberi minyak but-but di sekujur tubuhnya. 

Si Hitam

Aku merasa bersalah sendiri, kuambil kain untuk membungkus tubuhnya yang terasa dingin. Kubuatkan susu dan kuberi sedikit madu berharap dia bisa menelannya. Alhamdulillah, si hitam masih bisa menelan susu buatanku.

Malamnya, rintihan si hitam membangunkan tidurku. Aku melihatnya dan kuberikan lagi susu lalu air minum. Begitulah seterusnya yang kulakukan dengan si hitam. Sebulan lebih aku merawat si hitam. Aku tidak menyangka dia bisa bertahan menahan rasa sakitnya. Hingga akhirnya si hitam bisa berdiri dan berjalan. Namun, saraf mata kirinya rusak, matanya buta satu dan kakinya pincang. Dia berjalan dengan tertatih dan tidak terarah. Aku menangis sedih bercampur senang melihat keadaan si hitam.

Setelah beberapa hari si hitam bisa berjalan, dia menghilang. Aku mencarinya ke depan dan belakang rumah, tetapi dia tidak ditemukan. Aku mencoba mencari di jalanan dengan memanggil namanya dan berdoa semoga si hitam segera ditemukan. Hitam ditemukan di pinggir jalan perumahan. Aku bersyukur bisa menemukannya.

Beberapa hari setelah kejadian itu, si hitam menghilang kembali. Sekali lagi, aku harus menemukannya. Namun, sayangnya saat itu hujan turun deras. Dengan menggunakan payung kutelusuri jalanan yang mungkin dilalui si hitam. Di dalam hati aku berdoa semoga hitam segera ketemu karena hujan bertambah deras. Hatiku bersedih karena belum bisa menemukannya. Bahkan pikiran buruk merasuki benakku. Aku pasrah, jika memang yang terbaik dia pergi, aku rela.

Keesokan harinya ketika aku hendak kerja, aku seperti melihat si hitam tergolek di tengah jalan. Aku berhenti dari motor untuk memeriksanya. Ternyata benar, itu adalah si hitam yang kucari kemarin sore. Dia sudah mati. Aku menangis, tetapi air mata harus kutahan karena banyak orang yang melihatku. Tak tahan melihatnya, kuambil dia dan kuminta Ibu menguburkannya di kebun. 

Sepanjang jalan ke kantor, kenangan merawat si hitam masih membekas. Kenangan saat dia bangkit dari sakit yang begitu lama membuatku menangis. Hingga aku belajar darinya tentang kegigihan. Kiranya, Allah sangat mencintainya hingga tidak menginginkan si hitam merasakan kesakitan lagi.

#ElevateWomen

Loading
Artikel Selanjutnya
Perjalanan ke Bali Kala Itu Memberiku Arti Pentingnya Membuka Hati
Artikel Selanjutnya
Satu Malam Seribu Kenangan, Pengalaman ke Bromo yang Tak Terlupakan