Sukses

Lifestyle

Menjadi Ibu Pekerja, Tetap Cintai Diri Sendiri untuk Hidup yang Berarti

Fimela.com, Jakarta Kita semua pernah punya pengalaman atau kisah tentang cinta. Kita pun bisa memaknai arti cinta berdasarkan semua cerita yang pernah kita miliki sendiri. Ada tawa, air mata, kebahagiaan, kesedihan, dan berbagai suka duka yang mewarnai cinta. Kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Share Your Stories Februari 2021: Seribu Kali Cinta ini menghadirkan sesuatu yang baru tentang cinta. Semoga ada inspirasi atau pelajaran berharga yang bisa dipetik dari tulisan ini.

***

Oleh:  Indah Rahmasari

“Jangan pernah meminta maaf karena pekerjaan. Kau mencintai apa yang kau lakukan, dan mencintai apa yang kau lakukan adalah hadiah terbaik untuk anakmu.” (Chimamanda, 2019, A Feminist Manifesto)

Tulisan ini kubuka dengan kutipan yang begitu bermakna. Sebagai seorang perempuan dan ibu, rasa bersalah kerap kali menimpaku. Diliputi rasa bersalah memang tak menyenangkan, entah itu rasa bersalah karena merasa tak becus menjadi ibu, tak dapat menyelesaikan pekerjaan domestik atau bekerja di ranah publik yang seolah menganaktirikan peran sebagai seorang ibu dan istri.

Aku pernah berada dalam situasi sangat frustasi, di mana aku merasa apa yang aku lakukan tak pernah berarti apa-apa. Tentu saja ini berasal dari dalam diriku, yang kemudian menghasilkan presepsi tentang makna seorang perempuan, ibu dan istri yang ketiganya kini menjadi bagian dalam diriku. Menurutku persepsi semacam itu berasal dari cerita tunggal yang sudah mengendap dalam diriku sehingga membentuk stereotip tertentu yang aku yakini bahwa itu adalah benar dan merupakan kodrat yang datangnya dari Tuhan. 

Dulu aku beranggapan ketika menjadi seorang istri dan ibu harus mengerjakan urusan sumur, dapur, kasur dan bertangung jawab mengurus anak. Sehingga aku beranggapan bahwa ibu yang bekerja di ranah publik dan harus meninggalkan rumah adalah seorang ibu yang tidak baik. Persepsi yang begitu menyedihkan, dan tentu saja sangat merugikan. Dari persepsi semacam itu, muncul rasa bersalah ketika menjadi ibu pekerja di ranah publik dan akan menganggap sangat baik ketika menjadi ibu rumah tangga. Padahal kenyataannya tak seperti itu.

Mencintai Diri Sendiri Juga Perlu

Aku pernah mengalami masa kelam itu, di mana aku tak menganggap diriku berharga. Aku beranggapan bahwa diriku tak sama pentingnya dengan orang lain. Aku tak mencintai diriku dan tak menjadi diriku sepenuhnya. Dalam masa kelam, aku memandang perbedaan adalah sesuatu yang buruk. Bukankah Tuhan menciptakan keberagaman untuk sebuah keseimbangan. Persepsi semacam itu tentu saja sangat menyiksa, sehingga melahirkan sikap yang tak baik untuk orang-orang disekitarku terutama anakku.

Sampai pada satu titik, aku benar-benar merasa tak berarti dan mengambil sudut pandang akan banyak hal dari sisi yang paling sempit. Kehidupan rumah tangga tak harmonis tatkala aku tak bisa melihat indahnya sebuah keberagaman dan menerimanya sepenuh hati. Aku tak menikmati menjalankan peran sebagi seorang ibu. Rasa bersalah, rasa tak berarti bercampur ketika menjalni hari-hariku.

Akhirnya aku mulai belajar menulis dan membaca, menulis apa saja yang aku bisa. Dari proses itu, aku mulai melihat diriku. Mulai membuka lebar mataku dan mulai melihat keberagaman yang nyatanya begitu indah. Aku menemukan rasa percaya diri dan aku menerima diriku. Aku menghargai diriku sepenuhnya sebagai manusia, yang punya kelebihan dan tak luput dari kekurangan.

Setelah pemenuhan diri atas cinta dan rasa percaya diri terisi, aku merasa hidupku lebih berarti. Aku menikmati hari-hari sebagai perempuan, sebagai istri dan sebagai ibu. Hari-hariku mulai bersemangat dan aku bisa berbagi cinta untuk suamiku, anakku dan orang-orang di sekitarku. Aku mencintai diriku, dan itu adalah hadiah terbaik untuk keluarga dan orang-orang di sekitarku. Aku mencintai diriku dan itu adalah modal terbesar untuk aku berbagi cinta kepada mereka.

#ElevateWomen

Loading

Live Streaming

Powered by