Sukses

Lifestyle

Kujalani Hingga Ramadan Ini, Memulihkan Diri dari Depresi Pascamelahirkan

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh:  Ristiyani Tia

Diskusi tentang kesehatan mental kian populer beberapa tahun terakhir, tiap hari makin banyak orang, terutama perempuan berbagi tentang perjuangan mereka mengatasi masalah-masalah kejiwaan. Penyebabnya beragam; perundungan, trauma karena menerima tindakan abusif di masa lampau, kehilangan orang yang paling dibutuhkan dan dicintai, atau menderita baby blues syndrome. Gejalanya pun macam-macam, mulai dari takut berinteraksi dengan sesama, menyakiti diri sendiri atau orang lain, bahkan selalu memiliki kecenderungan untuk bunuh diri.

Tidaklah mudah mengungkapkan keluhan mental di ruang publik, karena berbenturan dengan stigma masyarakat bahwa gangguan mental adalah kegilaan. Oleh karena itu, kita perlu mengapresiasi mereka atas keberaniannya berbagi, memberi dukungan dan ajakan untuk saling-rangkul pada orang lain yang mengalami hal serupa.

Ini Ramadan kedua dalam masa pemulihan postpartum depression yang kualami. Meski sudah mengandung 9 bulan lamanya, sulit rasanya menerima identitas baru sebagai ibu dan harus memikul tanggung jawab pada anak yang kulahirkan. Apalagi, sebelumnya aku adalah wanita karier yang mandiri dengan mobilitas yang luas dan intens.

Pandemi membuat kondisi mental seringkali terpuruk, letih, jenuh tapi penuh kecemasan. Saat sedang burn-out, bahkan kita tidak bisa sekadar berjalan-jalan keluar melampiaskan rasa lelah dengan menghirup udara segar. Tampilan pasca melahirkan juga sering jadi kekehawatiran, saat berkaca aku tidak melihat diriku semenarik dulu. Oleh sebab itu, aku sering merasa rendah diri dan putus asa.

Saling Memberdayakan Sesama Perempuan

Dalam upaya menanggulangi gejala yang makin parah, aku mengikuti webinar tentang Baby Blues Syndrome dan Postpartum Depression bersama psikiater terkemuka dr. Jiemi Ardian. Bisa dibilang, ini salah satu pelajaran berharga yang kudapat sepanjang masa pemulihan.

Banyak saran yang mengubah pola pikir dan cara pandangku dalam memelihara dan merawat diri selama berperan sebagai ibu, salah satunya adalah bersyukur, dan merasa cukup dengan kemampuan diri. Aku berupaya tidak membiarkan diriku menyendiri lagi, karena potensi untuk menyakiti diri sendiri akan lebih besar. Aku lebih banyak bertemu dan mengobrol dengan orang-orang yang kucintai; keluarga dan teman dekat. Tidak disangka, selepas webinar tersebut, peserta yang didominasi perempuan membuat support group untuk sekadar berbagi cerita perjalanan pemulihan postpartum depression.

Ramadan selalu kujadikan kesempatan besar untuk pemulihan jiwa. Salah satu pendukungnya adalah jalinan komunikasi di support group yang jadi lebih sering tiap Ramadan. Tidak hanya tentang problema jiwa yang masing-masing kami alami, kami juga mulai sering berbagi pengalaman tentang pola asuh-didik, rumpi tentang racun belanja atau kebiasaan konyol keluarga, mengikuti kelas kajian agama bersama, berbagi resep menu takjil, iftar, dan sahur, hingga merencanakan kegiatan amal. Tindakan sederhana namun cukup berarti untuk menghibur diri, mengasingkan asumsi-asumsi keliru yang dibuat oleh pikiran sendiri, membangun kepercayaan diri, mengambil hikmah bahwa diri ini begitu berharga dan sangat dibutuhkan keluarga. Bahkan, pandemi tidak menghentikan kami untuk saling memberdayakan.

#ElevateWomen

Loading
Artikel Selanjutnya
Sebagai Hari Kemenangan, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Idul Fitri
Artikel Selanjutnya
5 Cara Mengolah Sisa Makanan Lebaran jadi Masakan Lezat