Sukses

Lifestyle

Pengalaman Berkesan Ramadanku yang Dulu Hingga Kini Menjadi Seorang Ibu

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh: Anna Fitri

Alhamdulillah, bersyukur dan bersyukur. Masih dikaruniai kesehatan dan kebahagiaan oleh Allah SWT. Memasuki Ramadan kedua di tengah Pandemi Covid-19, semoga Allah masih senantiasa melindungi diri ini, keluarga, sahabat, saudara, dan pembaca Fimela semua.

Ramadan selalu membawa suasana berbeda. Tentu saja, karena Ramadan adalah bulan suci, bulan yang dihormati dan ditunggu-tunggu umat Islam. Bahkan aku yakin sahabat-sahabat yang berbeda keyakinan pun menghormati dan merasakan suasana lain ketika Ramadan. Keindahan toleransi lebih terasa ketika Ramadan.

Di masa kecilku, Ramadan identik dengan kegembiraan mengaji menjelang buka puasa dan tarawih bersama teman-teman. Rumah besar di depan rumahku dijadikan musala dadakan untuk jamaah salat tarawih pada setiap bulan Ramadan. Aku tidak pernah absen tarawih di sana.

Masih teringat serunya berburu tanda tangan penceramah tarawih di buku Kegiatan Ramadan. Kemudian semasa aku remaja, sudah ada sedikit romantisme di sana. Bersiap tarawih sambil nunggu gebetan lewat. Sungguh malu mengingatnya. Tetapi ada hal menegangkan juga, dilema ketika esok harinya ada ulangan di sekolah, sementara aku juga harus tarawih. Solusinya adalah aku tarawih sambil membawa catatan pelajaran.  

Di sela-sela mendengarkan ceramah yang kadang susah dipahami, aku baca catatan pelajaranku. Pernah ada tugas membuat puisi. Aku tarawih sambil memikirkan tugas puisi itu. Melihat warna mukena yang dominan putih tiba-tiba muncul ide untuk membuat puisi bertema hitam dan putih. Intinya bahwa di dunia ini selalu ada hal-hal yang bertolak belakang, seperti hitam dan putih.

Lebih religius meskipun hanya di awal Ramadan harus kuakui. Begitulah adanya. Semoga Allah mengampuni. Sesampai di pertengahan Ramadan aku mulai sibuk membantu ibu membuat pesanan kue kering Lebaran. Ibuku pandai membuat kue kering Lebaran, karena itu pesanan berdatangan, meskipun dalam skala kecil, hal itu cukup menyibukkan kami.

Saat yang kutunggu-tunggu adalah ketika bapak dan ibu mengajakku membeli baju Lebaran. Kucuri waktu untuk mencari kartu Lebaran yang akan kukirimkan kepada teman-teman sekolahku. Kartu-kartu Lebaran yang unik dan lucu. Sebelum libur Lebaran, kami berjanji akan saling berkirim kartu Lebaran.

Dua puluh lima tahun lalu, libur Lebaran sangat lama. Hampir satu bulan. Tidak bertemu sekian waktu membuatku rindu pada teman-teman sekolahku. Karena itu di akhir Ramadan aku selalu menunggu datangnya Pak Pos yang membawa kartu Lebaran kiriman teman-temanku. Ucapan kocak dan konyol yang tertulis menjadi pengobat rindu.

Pernah ada kartu Lebaran yang istimewa dari sahabatku yang sekarang menjadi seniman dan penyiar di salah satu TV Swasta di Jogja. Kartu Lebaran handmade, terbuat dari kertas daur ulang yang dihiasi rangka tulang daun Bodhi yang tumbuh di depan Balairung Universitas Gadjah Mada. Kertas daur ulang dan rangka daun Bodhi dibuat sendiri olehnya. Sangat istimewa. Saat ini masih tersimpan rapi. Tersimpan rapi di diary dan di memori. Itulah Ramadanku yang dulu, indah dan ceria.

 

Pengalaman Ramadan Kedua di Tengah Pandemi

Ramadanku yang sekarang, setelah menjadi istri, ibu dan menantu yang tinggal bersama ibu mertua, juga tak kalah indahnya. Mempersiapkan menu sahur dan berbuka menjadi rutinitas yang menyenangkan. Aku lebih mengutamakan memasak untuk sahur daripada untuk berbuka. Karena menu berbuka banyak tersedia di warung tetangga.  Sedangkan menu sahur harus kusediakan sendiri.

Sejak anak pertamaku ikut berpuasa, aku selalu berusaha menyediakan menu sahur lengkap. Supaya dia lebih bersemangat puasa. Nasi hangat yang baru, sayur berkuah, lauk berprotein yang menarik menurut versi anakku, dan sambal kesukaan suami kalau sempat. Tak lupa teh hangat, kurma dan madu sebagai tambahan suplemen.

Aku tidak pandai memasak. Rasa masakanku tidak seenak masakan ibu. Tapi aku berusaha menyajikan yang terbaik. Untung ibuku pandai memasak. Variasi masakan rumah yang biasa aku makan sejak kecil di rumah ibu lumayan banyak. Sehingga mambantuku untuk memperkaya khasanah pengetahuan dunia kulinerku. Untungnya suami, anak, dan ibu mertuaku tidak rewel terhadap masakanku. Tidak terlalu mempermasalahkan soal rasa. Yang penting menu lengkap, sehat dan bergizi.

Sahur pertama Ramadan tahun ini cukup menegangkan. Aku bangun pukul 02.30 melewati meja makan, aku melirik penanak nasi yang baru kubeli kemarin sore. Terlihat lampu indikator di posisi warm. Aku lega, ibu mertuaku sudah masak nasi dan nasi sudah matang. Aku segera ke dapur memulai aktivitas di dapur. Menjerang air, memasak bakmoy, menggoreng tempe, menggoreng telur, dan membuat sambal kecap. Semua kondusif. Sempurna. Sudah siap sahur. Kubangunkan suami, anak dan ibu mertuaku. Ketika suamiku membuka penanak nasi, isinya beras terendam air. Ternyata ibu mertuaku lupa belum mencet tombol cook. Ambyar-lah kesempurnaan sahur pertama ini. Ibu merasa bersalah, dan langsung ke rumah kakak iparku, minta nasi. Untung masih ada. Alhamdulillah masih tertolong. Duh, sahur pertama yang mendebarkan dan mempertaruhkan harga diriku hahaha.

Seperti kutuliskan di atas, tahun ini adalah tahun kedua Ramadan dalam suasana pandemi. Setelah satu tahun melaksanakan Pembelajaran Jarak Jauh, pada pertengahan bulan Ramadan ini sekolah tempatku mengajar menjadi sekolah percontohan untuk melaksanakan uji coba Pembelajaran Tatap Muka. Sekolah percontohan atau sekolah percobaan, aku juga kurang tahu.

Setelah melengkapi berbagi sarana sekolah untuk menghadapi era new normal, menyusun formula jadwal dan berbagai SOP (Standart Operating Procedure) yang dirasa aman untuk semua warga sekolah, maka dimulailah kegiatan uji coba Pembelajaran Tatap Muka. Sempat merinding membayangkan bertemu sekitar dua ratus lima puluh siswa yang datang dari berbagai wilayah, dengan kondisi tak menentu. Tetapi the show must go on. Vaksin dan doa adalah bekal ikhtiar kami untuk tetap sehat.

Kami mengawasi setiap gerak siswa di sekolah. Tak jemu-jemu kami memperingatkan siswa untuk tetap bermasker, sering cuci tangan, dan jaga jarak antar teman. Hal sederhana yang ternyata sulit sekali diterapkan. Siswa kerap membuka masker karena tidak tahan pengap. Siswa kerap bergerombol saking senangnya bertemu dengan teman-teman setelah satu tahun tak berjumpa. Tapi kami tak lelah untuk mengingatkan dan selalu mengingatkan mereka. Menanamkan kebiasaan baru demi keselamatan semua. Uji coba ini berlangsung dua minggu. Setelah dua minggu akan dievaluasi pelaksanaannya.

Sungguh kami berharap bahwa uji coba Pembelajaran Tatap Muka di tengah bulan Ramadan ini memberikan hasil yang memuaskan, semua aman, dan tidak menciptakan klaster baru.

#ElevateWomen

Loading
Artikel Selanjutnya
Tidak Bisa Mudik Lebaran? Dekorasi Rumah Saja dengan 5 Tips Praktis dan Terjangkau
Artikel Selanjutnya
5 Minuman Sehat yang Dapat Bantu Menyeimbangkan Kadar Kolesterol Tubuh