Sukses

Lifestyle

Waspadai Efek Buruk dari Hustle Culture pada Perempuan Bekerja

Fimela.com, Jakarta Di tengah dilema peran ganda perempuan sebagai ibu rumah tangga dan pekerjaan kantor, mulai muncul istilah baru yaitu Hustle Culture. Untuk beberapa orang hustle culture adalah keadaan yang biasa dalam rutinitas. Dalam benak perempuan sukses yang memiliki pola hustle culture, mereka harus bangun setiap hari sebelum matahari terbit. Kemudian mereka bermeditasi sebelum bekerja. Lalu, mereka menjawab email sebelum bekerja.

Tak hanya itu, mereka akan menyiapkan sarapan untuk keluarga mereka lebih awal sebelum bekerja. Kegiatan bekerja dilakukan dengan video call dan meeting bersama klien hingga 18 jam sehari.

Saat malam hari atau bahkan subuh mereka sudah merencanakan apa yang akan mereka lakukan keesokan harinya dengan alokasi mingguan tiga jam waktu untuk me time. Entah mengapa pikiran untuk ‘bekerja keras siang hingga malam’ ini sering disebut hustle culture.

Ada baiknya untuk perempuan bisa bekerja keras selama 18 jam atau nine to five seperti kebanyakan orang dan tetap bisa melakukan me time. Tapi sadarkah kamu bahwa kehidupan terkadang banyak rintangan yang membuat pola kerja tidak selalu seimbang. Mereka yang berhasil menjalani hustle culture sering dianggap sukses atau sibuk oleh teman-temannya. Namun, ternyata tanpa disadari hustle culture memiliki dampak buruk bagi kesehatan. Mari kenali hustle culture terlebih dahulu sebelum membahas lebih dalam.

Apa itu Hustle Culture?

Budaya Hustle Culture (seperti namanya juga menyiratkan) berarti bekerja terus-menerus. Itu berarti mengabdikan hari kamu sebanyak mungkin untuk bekerja atau terburu-buru. Tidak ada waktu istirahat atau waktu untuk bekerja. Pekerjaan dilakukan di kantor, di luar kantor, di rumah, di kedai kopi dan di mana saja. Dalam dunia yang selalu bergerak dan dilengkapi dengan alat untuk mencapainya, bekerja terus-menerus saat bepergian sangatlah mungkin.

Dan itu adalah pola pikir, filosofi, dan kehidupan yang dianut oleh banyak orang, baik oleh individu maupun perusahaan. Ketika kamu berbicara tentang budaya hustle culture, semakin kamu bekerja, semakin kamu merasa sukses. Namun, kamu melewatkan waktu makan, tidur, dan acara penting lainnya. Dalam budaya hiruk pikuk, istirahat hanya untuk yang lemah. Otak kamu dilatih untuk selalu aktif dan selalu menghasilkan ide demi ide.

Budaya hiruk pikuk tersebar luas, dan semakin populer serta menjadi tolok ukur praktik terbaik di banyak tempat kerja. Tapi sekali lagi, itu tidak sebagus yang dibayangkan.

 

Dampak Buruk Hustle Culture

Stress dan Overthinking

Budaya hustle culture akan membuat orang membanding-bandingkan pencapaian dengan orang lain. Sebagai perempuan yang menggunakan perasaan lebih dominan daripada logika, kita sering terjebak dalam permainan ini. Dengan adanya budaya hustle kita akan melihat pencapaian orang lain dan membandingkannya dengan pencapaian kita. Kita akan mudah kecewa dengan keadaan atau perilaku atasan dalam pekerjaan jika tidak sesuai ekspektasi kita. Jika kita tidak pernah puas akan hasil kerja keras kita, kita akan kelelahan dan cepat stres. Apalagi sebagian perempuan tidak diperlakukan adil oleh atasan karena alasan gender, mereka akan mudah terganggu kesehatan mentalnya.

Kerja berlebihan menyebabkan kesehatan mental yang lebih buruk, kecemasan yang lebih besar, dan kecenderungan depresi yang lebih besar. Kerja berlebihan dapat menyebabkan melimpahnya penyakit dan kondisi yang tidak membuatnya sepadan.

Rawan Penyakit dan Kematian

Jika kamu mencari orang yang giat bekerja, Jepang mungkin adalah jawabannya. Meskipun perhatian mereka pada gaya kerja yang berorientasi pada detail bagus, banyak yang melangkah lebih jauh. Dan itu tidak hanya merugikan kesehatan mereka, itu juga mengorbankan nyawa mereka. The Guardian melaporkan bahwa seorang jurnalis berusia 31 tahun bernama Miwa Sado benar-benar bekerja terlalu keras sampai mati. Dia menderita gagal jantung setelah menghabiskan 159 jam kerja lembur. Yang lain bahkan bunuh diri karena stres akibat jam kerja yang panjang.

Kehilangan Waktu Bersama Keluarga

Saat kamu bekerja dari pagi hingga malam dan di akhir pekan kamu kelelahan, kehilangan waktu dengan orang tersayang adalah risikonya. Untuk seorang ibu yang bekerja, menyertai anak dalam tumbuh kembangnya menjadi penting untuk dilakukan. Jika kalian masih tinggal bersama dengan kedua orangtua kalian, penting untuk menyisihkan waktu bersama keluarga agar tetap menjaga keharmonisan keluarga

Bekerja Tidak Maksimal dan Tidak Produktif

Fakta menarik, sebagian besar penganut culture hustle adalah pengusaha besar atau pendiri sebuah start-up. Untuk karyawan atau pekerja, hustle culture membuat mereka tidak fokus bekerja karena kelelahan sehingga pekerjaan mereka dilakukan dengan tergesa-gesa atau diburu waktu.

Bahkan jika dibayar untuk lembur, hal itu tidak sepadan dengan stres dan kecemasan yang timbul karena terlalu banyak bekerja. Bagaimana mereka bisa menikmati hasil kerja ketika tidak punya waktu untuk hal lain selain pekerjaan.

 

Penulis : Adonia Bernike Anaya (NIa)

Loading