Sukses

Lifestyle

Kenangan, Kerinduan, dan Ujian yang Menguatkan Hati selama Ramadan

Fimela.com, Jakarta Selalu ada cerita, pengalaman, dan kesan tersendiri yang dirasakan tiap kali bulan Ramadan datang. Bahkan ada kisah-kisah yang tak pernah terlupakan karena terjadi pada bulan suci ini. Tiap orang pun punya cara sendiri dalam memaknai bulan Ramadan. Tulisan kiriman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Berbagi Cerita tentang Indahnya Ramadan di Share Your Stories Bulan April ini pun menghadirkan makna dan pelajaran tersendiri.

***

Oleh:  Santi Wiryawan

Aku merindukan Ramadan bersama ayahku tersayang. Selama bulan Ramadan, ayah biasanya mengajak ngabuburit ke Bukit Pelangi, Bogor. Saat itu pemandangannya sangat indah. Bagaikan tangan-tangan raksasa yang menggapai langit, pepohonan hijau yang tinggi menjulang di area perbukitan membatasi langit biru, sedangkan lembahnya merupakan bentangan sawah yang subur.

Di beberapa area, tampak perkebunan singkong, pepaya, atau pun pisang. Ketika menjelang Magrib, suara jangkrik ramai bernyanyi, saling bersahutan. Bukit ini dinamakan Bukit Pelangi karena pelangi sering tampak di atas bukit setelah hujan reda. Kini Bukit Pelangi itu telah berubah. Suasana asri yang ramai oleh nyanyian alam, kini digantikan oleh hiruk-pikuk pemukiman yang padat. Tapi, kenangan indah bersamanya tetap abadi.

Ketika bulan puasa, orangtuaku sering mengadakan pengajian yang dihadiri kerabat. Selain memanjatkan doa ke Allah Swt, pengajian bersama dilakukan untuk memanjangkan tali silaturahmi. Seringkali aku membantu Ibu membungkus paket sembako untuk dibagikan pada kerabat dan tetangga yang memerlukan. Tapi ketika orangtuaku tidak memiliki dana, biasanya orangtuaku membagikan hasil kebun buah kami. Walaupun hasilnya tidak seberapa, tapi buah rambutan rafia dan pisang tanduk yang dihasilkan kebun kecil kami, sangat manis dan daging buahnya tebal. Orangtuaku selalu berpesan untuk tidak takut berbagi kebahagiaan karena setitik kebahagiaan bisa mengubah hidup orang lain untuk berpikir lebih optimis dan bersyukur pada Allah Swt.

Ramadan terindah dalam hidupku ialah Ramadan terakhir bersama ayahku. Saat itu kondisi ayah yang menderita komplikasi diabetes dan kelainan serambi jantung sangat mengkhawatirkan. Ayah mengalami komplikasi berupa berkurangnya penglihatan dan pembengkakan di organ ginjalnya. Tapi, Ayah tetap sabar dalam menghadapi segala penyakitnya dan selalu memikirkan keluarga.

Ayah tetap rajin berzikir, khususnya ketika menyambut malam Lailatul Qadar. Ayah sangat senang ketika menyambut Hari Idulfitri. Beberapa hari sebelumnya, ia pasti sudah memintaku dan Ibu untuk mencuci bersih dan menyetrika baju koko hijau muda, sarung berwarna hijau kesayangannya, dan  sajadah.

Ayah meninggal dunia karena serangan jantung hanya sebulan setelah Hari Raya Idulfitri. Ia tidak sadarkan diri selama seminggu, dan kemudian, menghembuskan napas terakhirnya tepat ketika aku diwisuda sarjana. Hal utama yang kuingat dari Ayah ialah kehangatan hatinya dan kecintaannya pada Allah Swt. Ayah mengajarkan bahwa hidup itu perjuangan. Juga pentingnya keseimbangan antara bekerja keras dan melakukan self-love. Bagi Ayah, self-love ialah bersyukur pada Allah Swt dengan mengembangkan diri semaksimal mungkin, tapi tetap menciptakan kebahagiaan bagi diri sendiri, keluarga, atau pun lingkungan sekitar.

Semoga Bulan Ramadan Ini Bisa Lebih Baik

Ramadan demi Ramadan berlalu begitu cepat. Tahun ini Ramadan terasa begitu istimewa karena ujian dari Allah Swt terasa begitu berat. Bukankah kita akan menghargai bentuk kebahagiaan yang sederhana ketika kita mengalami kesengsaraan yang luar biasa?

Tidak ada yang menyangka keluarga kami ditimpa cobaan hingga terusir dari rumah yang sudah kami diami selama 4 tahun. Bahkan, kami berhenti berjualan nasi kuning yang biasanya kami jual di depan rumah. Niat untuk berjualan takjil terpaksa dibatalkan karena kami diintai dan diancam oleh segerombolan pria yang tergabung dalam jaringan renternir.

Ibuku membantu kerabatnya yang terlilit renternir hingga kami diteror oleh renternir. Padahal adik bungsuku sakit kronis dan harus rutin berobat tiap hari ke rumah sakit untuk mengikuti Day Care. Tapi, di tengah cobaan ini, aku merasakan rasa kasih yang mendalam pada Allah Swt yang tetap mengulurkan tangan melalui orang-orang yang tetap baik membantu kami dalam kesulitan, yaitu tanteku, sahabat, dan tetangga.  

Walaupun demikian, aku sangat rindu pada Ayah yang selalu menenangkan ketika aku merasa resah. Biasanya Ayah yang mengatasi orang-orang yang berniat jahat, tapi aku yakin segala masalah ini akan selesai. Aku percaya Allah Swt akan memberikan hal yang terbaik untuk keluargaku. Ibuku selalu menguatkan hati dan berpesan bahwa segala hal yang diawali dengan niat baik, tentu akan menghasilkan hal yang baik.

Ramadan yang indah lebih bermakna spiritual. Sejak kecil aku tidak pernah tidak memiliki tempat bernaung. Aku tidak pernah mengalami ketidakstabilan yang luar biasa hingga saat ini. Penghasilanku tidak seberapa, hanya cukup membayar tagihan listrik atau air yang semakin mahal. Apa pun aku dan ibuku jual demi keluargaku sahur dan berbuka puasa seperti buku-buku cerita, lemari baju, kasur, dll.

Dalam sekejap roda nasib berputar, dan kita sebagai umat-Nya hanya bisa menjalani dengan penuh semangat dan rasa syukur bahwa detik ini, hari ini, dan masa ini, hati kita tidak berubah menjadi hitam. Awan kelabu cumolunimbus itu datang berlarian, tapi tanpa awan kelabu tersebut, tidak mungkin ada awan putih.

Pada akhirnya, aku menyadari makna Ramadan yang sesungguhnya ialah berserah diri sepenuhnya pada Allah Swt. Tidak ada harta yang abadi, tapi yakinlah, kebenaran itu abadi dan rasa cinta pada Allah Swt akan menuntun pada kebahagiaan yang sejati. Bukankah dunia ini terdiri dari jutaan partikel-partikel? Entah berwujud atom, unsur, atau pun senyawa? Apalah arti manusia tanpa intinya?

Kuharap Ramadan ini membawa berkah dan kebahagiaan bagi kita semua. Kuharap Ayah bahagia dan diterima segala amalnya oleh Allah Swt. Kuharap Allah Swt mengetuk hati para renternir yang buta oleh materi agar mereka tersadar bahwa riba merupakan hal yang dibenci Allah Swt dan mereka berhenti mengancam korban-korban. Kuharap Ramadan ini mengubah pribadi kita menjadi lebih baik sehingga lebih mencintai Allah Swt dan ciptaan-Nya. Kuharap Ramadan ini menjadi awal lembaran baru yang putih, yang bertuliskan daftar niat dan perbuatan baik yang diridai Allah Swt. Amin.

#ElevateWomen

Loading
Artikel Selanjutnya
Sebagai Hari Kemenangan, Ini 5 Hal yang Perlu Diketahui Tentang Idul Fitri
Artikel Selanjutnya
5 Cara Mengolah Sisa Makanan Lebaran jadi Masakan Lezat