Sukses

Lifestyle

Pengidap Penyakit Jantung Bisa Puasa Asal Ikut Aturannya

Fimela.com, Jakarta Tak terasa, sudah dua minggu Bulan Ramadan terlewati. Bulan penuh ampunan ini menjadi momen bagi umat Islam untuk memperbaiki kualitas diri dengan berpuasa dan dalam beribadah. Tentu, berpuasa di bulan Ramadan adalah suatu kewajiban bagi yang mampu melaksanakan.

Namun, ada juga sebagian muslim yang tidak bisa berpuasa dikarenakan mengidap penyakit tertentu. Salah satu yang sering disebutkan adalah bahwa pengidap penyakit jantung tidak dianjurkan untuk berpuasa. Mengutip dari Avicenna Journal of Medicine berjudul The Cardiac Patient in Ramadan, tidak ada perbedaan signifikan pada jumlah pasien yang mengalami serangan jantung ketika bulan Ramadan maupun non Ramadan.

Dr. Rony M Santoso, SpJP(K), FIHA, FSCAI, FESC, FAPSC dari OMNI Hospital Alam Sutera, juga menjelaskan Ramadan cukup aman untuk dijalani oleh penderita penyakit jantung. Perlu diketahui, puasa memiliki banyak manfaat dan dapat menurunkan faktor risiko penyakit jantung. Hal tersebut karena orang yang berpuasa secara rutin akan dapat mengendalikan diri terhadap apa yang ingin dimakan dan diminumnya.

Berikut adalah manfaat dari puasa.

Membantu Menurunkan Kadar Kolesterol

Penyakit jantung koroner disebabkan oleh aterosklerosis, yaitu adanya penyempitan atau penyumbatan pembuluh darah koroner akibat lemak yang menyusup dalam lapisan pembuluh darah.

Sebuah penelitian menyebutkan bahwa terdapat perubahan dari profil lemak dan perbandingan lemak baik dan lemak jahat selama puasa di bulan Ramadan, di mana kadar kolesterol total menurun dari 193.4±51 mg/dl menjadi 184.3±42 mg/dl setelah Ramadan, begitu pula dengan kadar trigliserida menurun dari 4.5±1 mg/dl menjadi 3,9±1 mg/dl dan juga penurunan LDL.

Sebaliknya didapatkan peningkatan lemak baik yaitu HDL setelah puasa Ramadan sebesar 30-40% pada penderita penyakit jantung.

Membantu Menurunkan Tekanan Darah

Pada kondisi tekanan darah tinggi, jantung harus bekerja lebih keras dalam memompa darah dibanding dengan orang normal. Hal ini bisa menyebabkan jantung kelelahan, dapat terjadi pembesaran dan penebalan otot jantung, yang akhirnya terjadi gagal jantung. Dalam suatu penelitian selama bulan Ramadan, terdapat penurunan tekanan darah sistolik dari 132.9±16 mmHg menjadi129.9±17 mmHg.

Membantu Menurunkan Kadar Homosistein Darah

Homosistein adalah salah satu asam amino alami dimana bila kadarnya tinggi dalam darah bisa meningkatkan risiko aterosklerosis, sehingga bisa terkena penyakit jantung dan pembuluh darah. Walaupun tidak signifikan, namun terdapat penurunan kadar homosistein darah saat seseorang berpuasa.

Membantu Menghindarkan Tubuh Mengalami Resistensi Insulin

Manfaat puasa lainnya adalah membuat tubuh lebih bijak dalam menggunakan gula, sehingga ini bisa menghindari tubuh mengalami resistensi insulin yang berujung jadi diabetes melitus. Jika kondisi metabolisme gula terkontrol denganbaik, maka tubuh akan jauh dari risiko terjadinya penyakit jantung.

Selain itu, sebuah penelitian menunjukkan bahwa perubahan pola makan menjadidua kali sehari selama bulan Ramadan dapat memperbaiki kondisi resistensiinsulin pada penderita diabetes.

Membantu Mengontrol Berat Badan

Obesitas merupakan salah satu faktor terjadinya sindroma metabolik, yang dapat meningkatkan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah serta diabetes melitus.  Berpuasa dapat menahan keinginan untuk makan sehingga berat badan bisa terkontrol dengan baik, maka kemungkinan terjadinya penyakit jantung pun semakin kecil.

Berdasarkan hasil penelitian di Qatar yang dilakukan selama 10 tahun, sebanyak 2.160 pasien yang mengalami gagal jantung diperhatikan kondisi fisiknya selama berpuasa. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa berpuasa tidak memiliki dampak buruk bagi fungsi jantung maupun kesehatan organ lainnya.

Rami melakukan penelitian observasional prospektif mengenai efek puasa Ramadhan pada pasien dengan gagal jantung kronis dengan fraksi ejeksi kurang dari 40 persen. Fraksi ejeksi adalah pengukuran darah yang dipompa keluar dari ventrikel, normalnya lebih dari 50 persen. Terdapat 249 penderita dengan gejala gagal jantung yang melakukan rawat jalan di tiga klinik. Dari 249 penderita, 227pasien menjalani ibadah puasa selama Ramadhan.

Peneliti mengamati kepatuhan peserta dalam membatasi cairan dan garam serta mengonsumsi obat sejaksebelum, selama, dan sesudah Ramadhan. Hasilnya, 209 pasien (92%) tidak mengalami perubahan atau gejala gagal jantung membaik, sementara 18 pasien (8%) kondisinya memburuk, disebabkan oleh ketidakdisiplinan mengikuti aturan pembatasan cairan dan garam, juga kurang patuh mengonsumsi obat-obatan.

Walaupun puasa tidak menimbulkan efek samping yang buruk pada penderita penyakit jantung, ada beberapa hal yang sebaiknya penderita tersebut tidak berpuasa, di antaranya adalah sering mengalami nyeri dada berulang dalam waktu dekat, sering mengalami kelelahan, sesak napas, atau perlu minum obat diuretiklebih dari 3 kali sehari, baru mengalami serangan jantung atau operasi jantung, atau mengalami gangguan irama jantung yang menyebabkan penderita tersebut harus mengonsumsi rutin obat anti aritmia.

Lantas, kapan penderita penyakit jantung boleh berpuasa? Penderita penyakit jantung diperbolehkan puasa atau tidak, berada di tangan dokter. Dr Rony M. Santoso, Sp.JP(K), FIHA, FAPSC, FESC, FCSAI, menyarankan untuk melakukan konsultasi dengan dokter 1 bulan sebelum Ramdan, terutama pasien dengan penyakit kronik. Namun, keputusan untuk berpuasa atau tidak, sepenuhnya adalah hak pasien.

Penderita dengan tekanan darah tinggi juga dapat ikut berpuasa, selama tidak memiliki komplikasi serius, tentu saja tetap minum rutin obat-obatan.

Cara Mengatur Konsumsi Obat Jantung Selama Berpuasa

Obat-obatan jantung harus tetap dikonsumsi secara rutin selama bulan puasa untuk menurunkan risiko terjadinya komplikasi akibat penyakit jantung. Ada beberapa obat-obatan yang perlu penyesuaian, tentunya harus konsultasi denga ndokter terlebih dahulu.

Cara Mengatur Konsumsi Obat Pengencer Darah Saat Puasa

Anti platelet atau pengencer darah seperti acetyl salicylic acid (ASA) bisa diberikan setelah makan sahur atau buka puasa. Namun untuk penderita dengan penyakit maag sebaiknya diberikan setelah berbuka puasa, dan dipilih tablet yang bersalut enterik (enteric coated) yang dapat melewati lambung. Bila perlu diberikan obat maag.

Cara Mengatur Konsumsi Obat Anti Kolesterol

Statin harus tetap dikonsumsi terutama pada penderita penyakit jantung koroner.Tidak hanya berfungsi untuk menurunkan kolesterol jahat, tapi juga untuk stabilisasi plak sehingga terhindar dari penyumbatan pembuluh darah dan serangan jantung. Statin sebaiknya diberikan pada malam hari karena enzim yang membuat kolesterol lebih aktif pada malam hari.

Cara Mengatur Konsumsi Obat Diuretik

Saat berpuasa, obat diuretik seperti furosemid bisa jadi dikurangi dosisnya selama berpuasa, tentu saja harus konsultasi dengan dokter jantung dan pembuluh darah yang mengetahui riwayatnya terlebih dahulu. Furosemide sebaiknya diminum saat berbuka puasa untuk menghindari dehidrasi dan lemas bila diminum saat pagi hari. Pembatasan cairan pada penderita gagal jantung juga penting sesuai dengan rekomendasi dokter.

Cara Mengatur Konsumsi Obat Anti Hipertensi

European Heart Journal (2018) menyebutkan minum obat tekanan darah tinggi dimalam hari lebih baik daripada pagi hari. Ahli dari Spanyol tersebut meneliti 19.000 penderita hipertensi yang rutin minum obat anti tekanan darah tinggi dari tahun 2008 sampai 2018.

Hasilnya, pasien yang minum obat sebelum tidur, risiko serangan jantung turun 44%, peluang gagal jantung turun 42%, risiko stroke turun 49%, dan risiko kematian karena penyakit kardiovaskular turun 45%. Dengan catatan ritme tidur yang teratur, seperti bangun tidur di pagi hari dan tidur malam tidak terganggu. Namun kembali lagi, pemberian obat anti hipertensikadang pula individual, bisa juga diminum pagi hari dan dipilih monodrug atau sekali sehari pada waktu yang sama.

Untuk pemberian bisoprolol penyerapan lebih baik pada pagi hari, jadi diberikan saat sahur. Penyesuaian obat selama berpuasa sebaiknya dikonsultasikan kepada dokter.

Makanan yang Sebaiknya Dikonsumsi Penderita Sakit Jantung Saat Berbuka dan Sahur

Saat sahur dan berbuka, penderita penyakit jantung disarankan untuk mengonsumsi sayuran dan buah-buahan karena mengandung kalium yang dapat mengurangi efek natrium atau garam pada tekanan darah. Beberapa jenis makanan yang mengandung banyak kalium adalah pisang, jeruk, melon, blewah, terong, mentimun, dan sayuran hijau. Namun makanan tinggi kalium juga harus diwaspadai pada penderita gagal ginjal kronik.

Pada penderita dengan hipertensi, tidak dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang kandungan garamnya tinggi, baik saat sahur maupun berbuka karena garam dapat memicu kenaikan tekanan darah secara cepat. Pembatasan asupan garam dalam makanan setidaknya 2 gram per hari, atau sekitar satu sendok teh.

Gandum utuh atau biji-bijian yang utuh adalah sumber serat yang sangat baik yang berperan mengatur tekanan darah dan kesehatan jantung. Sehingga bisa menjadi pilihan menu makanan saat sahur dan berbuka.

Mengurangi konsumsi lemak jenuh dan lemak trans saat berbuka dan sahur sangat penting untuk membantu mengurangi kolesterol di dalam tubuh. Tingginya kadar kolesterol bisa menimbulkan plak di pembuluh darah yang bisa meningkatkan risiko penyakit jantung atau stroke. Sebaiknya mengonsumsi sumber lemak yang dapat meningkatkan HDL (kolesterol baik) seperti alpukat, almond, minyak zaitun, minyak canola.

Sumber protein rendah lemak seperti daging tanpa kulit atau lemak, ikan, telur,kacang kedelai, tahu, tempe, susu skim atau rendah lemak dapat dipilih untuk mencegah meningkatnya kolesterol.

Pada penderita hipertensi sebaiknya membatasi konsumsi minuman berkafein, seperti kopi, teh, dan minuman bersoda.

Tips Olahraga Saat Berpuasa Untuk Penderita Penyakit Jantung

Saat berpuasa sebaiknya olahraga dilakukan dengan intensitas ringan sampai sedang, 30 menit 3-5 kali dalam seminggu. Penentuan intensitas ini bisa dilakukan dengan pengukuran nadi dengan rumus 70% x Maximal HR (heart rate = denyut nadi).

Rumus daripada maximal HR adalah 220-umur. Contoh, pada penderita usia 50 tahun, maka maximal HR adalah 220-umur (50 tahun) = 170. Jika intensitas sedang maka denyut nadi yang disarankan maksimal 70% x 170 = 119 kali permenit. Cara lain adalah dengan tes bicara, di mana dikatakan intensitas sedang bila dapat mempertahankan pembicaraan atau mengatakan kalimat tanpa terengah-terengah saat berolahraga, akan tetapi sudah tidak dapat bernyanyi.

Olahraga pagi boleh dilakukan asalkan intensitas ringan seperti jalan kaki, bisa saja dilakukan sore hari, namun hati-hati karena gula darah terendah saat menjelang berbuka. Olahraga juga dapat dilakukan malam hari 2 jam setelah makan.

Tips Aman Berpuasa Pada Penderita Jantung

Selama bulan puasa, sebaiknya konsumsi makanan secukupnya, porsi kecil, dan tidak melakukan ‘balas dendam’ saat berbuka puasa. Kurangi makanan berlemak dan banyak garam, seperti gorengan atau makanan cepat saji. Perbanyak sayuran dan buah-buahan, makanan berserat seperti gandum ataubiji-bijian.

Luangkan waktu untuk beristirahat dan tidur yang cukup, minum air setidaknya 8 gelas sehari, kecuali bila dokter menyarankan pembatasan cairan pada kondisi gagal jantung.

Selain itu, periksakan diri ke dokter bila terdapat keluhan atau konsultasi terhadap obat-obatan rutin yang dikonsumsi. Semoga puasa di bulan suci Ramadan membawa berkah dan manfaat, menjadikan tubuh lebih sehat dan terhindar dari penyakit yang tidak diinginkan.

Untuk informasi lebih lanjut, klik tautan ini.

Loading
Artikel Selanjutnya
Belajar dari Christian Eriksen dan Markis Kido, Ini Pertolongan Pertama untuk Serangan Jantung
Artikel Selanjutnya
Penting Diperhatikan, Ini Tanda-Tanda Jantung Bermasalah saat Olahraga