Sukses

Peringatan Konten!

Artikel ini tidak disarankan untuk Anda yang masih berusia di bawah

18 Tahun

LanjutkanStop di Sini

Lifestyle

Kisah Perempuan Autis yang Menjadi Pekerja Seks

Fimela.com, Jakarta Hayley Jade memiliki teori bahwa orang autis tahu bahwa mereka autis, sama halnya dengan gay yang tahu bahwa mereka gay. Sebagai perempuan biseksual, Hayley tidak harus pergi ke psikolog untuk mengikuti tes dan meminta dokter untuk memberi tahunya apakah ia menyukai sesama perempuan atau tidak.

Untuk beberapa alasan, justru inilah yang dituntut masyarakat dari orang autis. Tanpa diagnosis di atas kertas, mereka tidak dikenali, meskipun diagnosis masih jarang membantu di masyarakat.

Setelah berjam-jam menceritakan kisah hidupnya pada psikolog, melakukan tes pilihan ganda tentang kepribadian, dan mengirim email tentang ciri-ciri yang diidentifikasi oleh Hayley sendiri, ia hancur oleh diagnosis dokter yang tidak menganggapnya autis. Lalu, Hayley tahu mengapa orang suka terlambat mendiagnosis seseorang dengan ADHD, karena bagi kebanyakan orang, autis berarti tidak akan bisa melakukan pekerjaan apapun.

Hayley berhenti bekerja di usia 20 tahun dan menjadi pendamping bagi orang-orang cacat, sakit kronis, dan sakit mental. Di usia yang ke 31 tahun, Hayley justru didiagnosis dengan gangguan kepribadian karena ia tidak menginginkan sebuah keluarga.

 

 

Hayley berusaha menyakinkan dokter dan orang-orang di sekitarnya bahwa ia autis

Kenyataannya, banyak psikolog dan dokter tidak percaya bahwa Hayley autis karena ia adalah seorang pekerja seks. Bagi Hayley, benar-benar tidak masuk akal untuk berpikir bahwa orang autis tidak bisa bekerja di mana mereka harus bersosialisasi.

Banyak pekerja seks yang kemudian membuka jati dirinya, yang kemudian membuat Hayley lebih percaya diri. Ia membuat video TikTok untuk menceritakan pengalamannya dan mendapatkan banyak tanggapan tentang pengalaman yang sama.

Mereka diberi tahu bahwa mereka terlalu pintar, terlalu pandai bersosialisaai, terlalu pandai melakukan kontak mata, bahkan terlalu cantik. Hayley sadar bahwa mungkin psikolog juga mempelajari autisme, tapi mereka tidak akan pernah benar-benar tahu bagaimana rasanya menjadi autis.

Untuk Hayley, menjadi pekerja seks adalah jenis pekerjaan yang sempurna bagi seseorang dengan ADHD dan autisme sepertinya. Hayley belajar tersenyum, menatap mata seseorang, dan mengangguk tanda mendengarkan.

Hayley lelah menghadapi stereotip tentang orang autis yang kerap kali salah

Inilah mengapa dunia tidak melihat Hayley sebagai orang autis, karena ia tidak selalu cocok dengan stereotip orang autis. Dan meskipun ini membantu mereka terlihat normal, hal itu juga merugikan karena mereka tapak cukup normal untuk tidak menjadi autis, tapi tidak cukup diberi akomodasi saat mereka tidak dapat melanjutkan sekolah, atau memiliki pekerjaan.

Hayley masih memiliki kecemasan sosial setiap kencan dengan kliennya, tapi itu sangat membantu mengetahui bahwa kencan tersebut adalah tentang mereka, bukan ia yang harus menavigasi isyarat sosial. Walaupun Hayley menyukai diagnosis, tapi ia menerima bahwa ia tidak membutuhkan diagnosis tersebut.

Hayley berharap saat ia semakin nyaman menjadi autis, kepercayaan dirinya juga akan terlihat dalam pekerjaannya. Bagaimanapun, bagian terbaik dari pekerjaannya adalah mendapatkan bayaran untuk menjadi dirinya sendiri.

#Elevate Women

Loading
Artikel Selanjutnya
Tips Bisnis Ala Pengusaha Sukses Asal Kota Blitar
Artikel Selanjutnya
Ada Eks Member GFriend, Ini 4 Artis Andalan Sublime Artist Agency