Sukses

Lifestyle

Perjalanan Memulihkan Patah Hati ke Posong Temanggung

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: CHZ

Ini tentang perjalanan menemukan diri sendiri, tepatnya dua tahun lalu sebelum pandemi. Saat itu aku berpikir ternyata sudah banyak yang aku lewati, tapi tidak kunjung kuhargai diri ini lebih.

Aku sibuk memilah dan memilih agar pandangan manusia lain sesuai ekspektasi. Sampai akhirnya, dengan mengorek sedikit rasa berani yang ternyata masih ada, aku berangkat pergi setelah matahari terbit.

Sebuah awal minggu yang terkesan acak saat itu, memesan tiket dadakan menuju stasiun Weleri. Menurut pencarian Google, stasiun ini suka melantunkan lagu Gambang Semarang kalau ada kereta yang berangkat.

Perjalanan dimulai dari Stasiun Pasar Senen yang masih penuh seperti biasanya, namun bangku sebelahku kosong seakan memberi waktu. Kuhubungi kawan yang mungkin bisa menampung seadadanya, dan nasib baik pun memihakku. Setelah bertemu di stasiun tujuan, kami melanjutkan perjalanan naik motor. Kami menuju Temanggung, sebuah kota kecil yang ternyata jadi titik balikku. 

Perjalanan yang Menjadi Titik Balik

Sebenarnya sebelum langkah ini dimulai, aku menemui sebuah persimpangan. Antara memperjuangkan (dengan sedikit memaksa), atau belajar mengikhlaskan. Ini tentang dia, dia adalah tokoh yg banyak kubayangkan dalam ceritaku di masa depan. Harapan mengalir mulai dari matahari terbit sampai terbenam.

Sayang, beberapa hal sepertinya diciptakan bukan untuk menjadi satu kesatuan. Aku ternyata lelah menjadi kuat dalam matanya, aku juga muak terus menciptakan kesempurnaan untuk sisi pandangnya. Aku bukan aku saat bersamanya. Jadi setuju ya kalau cerita ini punya latar belakang paling klise? Patah hati.

Beruntungnya aku, perjalanan selalu mempertemukanku dengan orangorang baik. Sesampainya di Temanggung, ada kehangatan di balik suhu yang menginjak 15 derajat. Biyung, sebutan untuk ibu dari kawanku, menyambut dan memeluk dengan erat. Bopo juga membuatkan secangkir kopi kesukaanku berdasarkan cerita kawanku. Bahagianya serasa pulang ke rumah, tapi untuk pertama kali.

Di sini, warganya banyak bercocok tanam. Keluarga kawanku adalah salah satu yang menanam tembakau, esok paginya aku diajak ke ladang. Katanya, tembakau adalah tanaman yang kuat hampir di segala musim. Bopo juga bilang, "Manusia jangan mau kalah sama tanaman. Yang bisa bikin tanaman tumbuh kan manusia, tapi ya manusianya harus sehat. Kayak bahagia, kitanya dulu yang bahagia, baru bisa bikin orang lain bahagia." Seperti tamparan kecil, tapi cukup membuatku tersenyum sambil menelan ludah.

Kembali Berbahagia

Esoknya selepas ibadah subuh, kawanku mengajakku naik motor melewati jalan utama yang cukup menanjak dan berkelok. Kurang lebih 30 menit perjalanan, kami memasuki jalan berbatu di tengah perkebunan.

Ternyata kami sampai di atas bukit dengan papan "Posong". Terasa asing buatku, tapi kawanku janji kalau aku takkan menyesal. Sembari menunggu matahari terbit menunjukkan jati diri, sepiring tempe mendoan dan secangkir kopi setia menemani.

Samar-samar sang fajar menampakkan diri, mengobati sedikit perih yang menggelitik. Secara bersamaan tujuh puncak gunung kusaksikan di atas tanah Posong. Gunung Sumbing, Merapi, Merbabu, Telomoyo, Andong, Ungaran dan Gunung Muria dengan gagah berdampingan.

Sesuai janji kawanku, hilang semua sesal. Rasanya Tuhan seakan sedang memelukku dan berkata, "Berbahagialah." Kemudian kupanjatkan syukur dalam-dalam, tanah air ini menyuguhkan sepersekian surga-Nya. Setengah berbisik, kuucapkan terima kasih pada kawan yang menghantarkanku pada jawaban.

Sepulang dari sana, aku dengan berani menginjak Jakarta. Kusampaikan lamat-lamat bahwa aku memaafkan diriku sendiri untuk jadi tidak sempurna. Aku pun berterima kasih pada dia untuk pernah ada di dalam ceritanya.

Akhirnya kami teguh berjalan membelakangi, bukan untuk saling meninggalkan tapi menuju kebahagiaan yang telah Tuhan sediakan. Dan ternyata manusia sekeras itu, bahkan aku butuh tujuh gunung di Posong hanya untuk menemukan satu keikhlasan. Kini setiap matahari terbit, tak ada yang tak bisa aku syukuri. Perjalanan membawaku pada bahagia yang tidak hanya aku inginkan, tapi juga aku butuhkan.

#ElevateWomen

Loading
Artikel Selanjutnya
Perjalanan ke Bali Kala Itu Memberiku Arti Pentingnya Membuka Hati
Artikel Selanjutnya
Satu Malam Seribu Kenangan, Pengalaman ke Bromo yang Tak Terlupakan