Sukses

Lifestyle

Perjumpaan dengan Dua Perempuan yang Tak Pernah Kulupa

Fimela.com, Jakarta Setiap kali kita melakukan perjalanan, selalu ada cerita yang berkesan. Bepergian atau mengunjungi sebuah tempat memberi kenangan tersendiri di dalam hati. Tiap orang pastinya punya pengalaman atau kisah tak terlupakan tentang sebuah perjalanan, seperti tulisan Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Trip Story: Setiap Perjalanan Selalu Memiliki Cerita berikut ini.

***

Oleh: srijembarrahayu

Kisah ini kisah lama, tapi tak jua lekang dari ingatan. Malam belum pekat ketika Bus Jakarta-Yogya yang kutumpangi berhenti mendadak di tol kilometer entah ke berapa. Dua perempuan akhir 20an naik terburu-buru dari pintu depan. 

Pemandangan keduanya benar-benar menarik perhatian. Kondektur mengarahkan mereka ke deretan kursi paling belakang yang kebetulan masih kosong. 

Mereka melewati kursiku. 

Mbak berambut ikal menutup tubuhnya dengan sehelai jarik motif batik. Sementara celana panjang temannya robek-robek.

Kehebohan sementara saja. Penumpang di bagian depan sulit untuk terlalu kepo. Lebih baik melanjutkan tidur yang sempat terganggu. Lagi pula zaman dulu orang tak usil. Mereka segan mengorek kesusahan orang lain apalagi menyebarkannya atas nama simpati.

Kursiku tepat di depan kedua perempuan itu, kusebut saja mereka Mbak Siti dan Mbak Sari. Aku mendengar secara seksama cerita keduanya selagi diinterogasi kondektur.

Saat kumandang azan Maghrib menggema Mbak Siti dan Mbak Sari merayap ke kamar mandi. 

Penjagane pas pergi. Ta pikir itu satu-satune kesempatan buat kabur."

Semoga Kalian Baik-Baik Saja

Siti dan Sari datang dari kampung di daerah Tegal. Mereka dijanjikan untuk bekerja di luar negeri. Singkat cerita hampir sebulan  mereka disekap di ruangan sempit tanpa alas tidur dan makanan layak. Tak ada akses untuk keluar ruangan, bahkan mereka tak tahu di mana persisnya lokasi penampungan itu.

Perempuan sebaya Mbak Siti dan Mbak Sari bolak balik datang pergi tanpa kejelasan. Pekerjaan yang dijanjikan menjadi samar bagi mereka. Pilihan hanya menunggu nasib baik atau melarikan diri.

Beruntung Mbak Siti dan Mbak Sari mendapatkan keberanian untuk menyelamatkan hidup. Mbak Siti menemukan cara memanjat atap kamar mandi, membuka gentengnya dan meluncur turun dengan bantuan jarik. Mereka berdua lalu lari pontang-panting cukup jauh hingga tiba di pinggir tol. 

Semesta menolong mereka yang berusaha. 

Seorang kondektur dengan ketulusan hati meminta sopir menghentikan bus kala keduanya berteriak dan melambai-lambai mohon ikut.

“Bajuku suwek Sit, bolong gede. Badanku juga memar-memar,” kudengar Mbak Sari berbisik. “Iyo Mbak sabar. Kakiku juga berdarah. Haus banget aku, Mbak,” jawab Siti lirih.

Hatiku terenyuh. Segera kuberikan sebotol air mineral dan biskuit bekalku. Lalu kuambil ransel, kaos dan celana gantiku rasanya bisa mereka pakai. Nanti sampai di kota pelajar aku bisa pinjam kaos sahabatku. Aku hanya akan wisuda sebentar saja, jadi tak butuh ganti baju. Kuselipkan selembar Rp50 ribu, hanya itu yang bisa kubagikan. 

Mbak Siti dan Mbak Sari, semoga perjalanan kalian selamat tiba pada keluarga tercinta.

#ElevateWomen

Loading
Artikel Selanjutnya
Perjalanan ke Bandung Kala Itu Mempererat Sebuah Ikatan Persahabatan
Artikel Selanjutnya
Mendaki Gunung Merbabu bersama Suami, Perkuat Diri Jalani Kehidupan Rumah Tangga