Sukses

Lifestyle

Hanya Suami yang Mencari Nafkah, Istri Perlu Mengelolanya dengan Bijak

Fimela.com, Jakarta Setiap harinya kita berurusan dengan uang. Menghasilkan uang hingga mengatur uang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseharian kita. Bahkan masing-masing dari kita punya cara tersendiri dalam memaknai uang. Dalam tulisan kali ini, Sahabat Fimela berbagi sudut pandang tentang uang yang diikutsertakan dalam Aku dan Uang: Berbagi Kisah tentang Suka Duka Mengatur Keuangan. Selengkapnya, yuk langsung simak di sini.

***

Oleh: Qiqi Sabaqinqin

Aku ibu rumah tangga penuh waktu dengan dua orang anak. Seluruh waktu keseharianku adalah mengurus anak-anak dan rumah.

Dulu, sebelum menikah aku punya pekerjaan nyaman dengan gaji yang lebih dari cukup untuk menghidupi diriku sendiri. Tapi setelah menikah aku memutuskan berhenti bekerja, dan ikut bersama suami tinggal di desa. Segalanya berubah, aku harus adaptasi terhadap banyak hal, paling sulit adalah keuangan.

Awal pernikahan, memang masih ada tabungan yang bisa diandalkan untuk membeli ini itu kesenanganku sendiri. Tapi makin hari aku menyadari bahwa aku salah.

Suamiku masih kuliah, dia bekerja sebagai guru honorer. Kami langsung dikaruniai kehamilan yang tentu saja membutuhkan lebih banyak biaya dokter, membuat acara selamatan, persalinan dan lain-lain.

Dan dari titik itu aku mulai merasa harus berubah. Tidak boleh lagi bersikap egois dalam membelanjakan uang. Meskipun suami mempercayakan sepenuhnya pengelolaan keuangan, tapi yang diutamakan adalah kebutuhan bersama.

Mengatur Keuangan sebagai Istri

Yang dulunya setiap ada diskon apa pun pasti beli, sekarang beli yang untuk kebutuhan. Bolehlah membeli hal yang memang untuk kesenangan dan hobi, tapi tidak boleh sampai mengambil anggaran belanja lainnya.

Akhirnya aku menekuni hobiku mengoleksi kaktus, menjadi membiakkannya. Beberapanya bisa dijual dan menambah penghasilan. Terutama dalam masa pandemi yang hampir dua tahun ini.

Dulu beberapa kawan menyarankan aku untuk kembali bekerja. Tapi aku yakin dengan komitmen pernikahan kami. Suamikulah yang mencari nafkah dan aku mengurus anak-anak. Kami tidak ingin anak-anak kami merasakan berjauhan dengan orangtuanya, seperti masa kecilku dan suamiku.

Dan dalam sembilan tahun pernikahan, kami sudah memiliki rumah sendiri meski masih semi permanen. Tidak mudah menabung untuk memiliki rumah. Suamiku pernah bekerja mengajar di empat sekolah, menerima jasa dekor, menerima jasa lukis dan cat dinding, menggambar karikatur, membuatkan mars lembaga, hingga sekarang menjadi fotografer pernikahan.

Meski beberapa kali aku sering berbuat boros, tapi suamiku tetap mempercayakan keuangan padaku. Hingga aku malu jika melihat semua usahanya dibandingkan dengan usahaku mengatur keuangan.

Terima kasih sudah menjadi teman hidup, yang membersamai, mendidik, dan membuatku lebih baik.

#ElevateWomen

What's On Fimela
Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories: Aku dan Uang
Artikel Selanjutnya
Harapan Seorang Ibu untuk Masa Depan Anak setelah Perceraian