Sukses

News & Entertainment

Eksklusif Surya Saputra, Lebih Senang Jadi Orang Lain

Fimela.com, Jakarta Ada sejumlah aktor Indonesia dari era 90-an yang masih mampu eksis sampai saat ini. Salah satunya adalah Surya Saputra yang film barunya, Hujan Bulan Juni, akan segera rilis di bioskop. Jalan karier pria kelahiran Jakarta, 5 Juli 1975 ini juga termasuk unik.

***

Ibunya, Linda Hosein, adalah bintang film di tahun 70-an dan 80-an. Pernah tampil sekilas di beberapa film saat masih anak-anak, Surya Saputra justru mengawali kariernya di dunia hiburan lewat bidang musik.

Surya Saputra, salah seorang pemain film Hujan Bulan Juni. (Fotografer: Bambang E. Ros, Stylist : Indah Wulansari, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Ia sempat tergabung dalam boyband atau grup vokal Cool Colors bersama Ari Sihasale dan Teuku Ryan. Meski cukup sukses, Surya justru kembali mencoba dunia akting dengan terjun di bidang sinetron. Salah satunya adalah sinetron Cerita Cinta yang membuat namanya makin dikenal.

Setelah bermain di sejumlah sinetron, Surya bermain film layar lebar yang diawali lewat film Arisan! (2003) yang meraih sukses. Bahkan di film pertamanya itu, Surya langsung meraih Piala Citra sebagai Aktor Pendukung Terbaik di Festival Film Indonesia (FFI) 2004. Setelah itu, Surya Saputra makin eksis di dunia film maupun sinetron.

Suami dari Cynthia Lamusu ini di film terbarunya, Hujan Bulan Juni, menjadi pemeran pendukung. Surya merasa antusias karena film ini diadaptasi dari buku dan puisi karya sastrawan Sapardi Djoko Damono.

“Film ini menghibur dan menarik banget, apalag buat mereka yang punya rasa estetika tinggi. Selain dipenuhi kata-kata puitis, gambar-gambarnya juga sangat indah,” tutur Surya Saputra saat berkunjung ke kantor redaksi Bintang.com di kawasan Gondangdia, Jakarta Pusat, beberapa hari lalu.

Surya Saputra, salah seorang pemain film Hujan Bulan Juni. (Fotografer: Bambang E. Ros, Stylist : Indah Wulansari, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Yang menarik bagi Surya, di film Hujan Bulan Juni ia memerankan karakter yang sangat beda dengan karakter aslinya. Selain Surya, film produksi Sinema Imaji dan Starvision ini dibintangi oleh Adipati Dolken, Velove Vexia, Baim Wong dan Koutaro Kakimoto.

Lalu, peran apa yang dibawakan Surya dan beda dari yang pernah dilakoninya selama ini? Apa pesan yang ingin disampaikan di Hujan Bulan Juni? Setelah membintangi banyak film dan sinetron, apa lagi yang ingin dilakukan seorang Surya Saputra? Simak hasil wawancaranya berikut ini.

 

Surya Saputra Belajar Jadi Orang Manado

Film Hujan Bulan Juni terasa menarik bagi seorang Surya Saputra. Bukan hanya karena ia penyuka karya sastra termasuk puisi-puisi Sapardi Djoko Damono, tapi ada sejumlah hal yang membuatnya begitu antusias bisa bermain di film ini.

Bisa dijelaskan seperti apa jalan cerita Hujan Bulan Juni?

Ini film romance tentang seseorang keturunan Manado dengan orang keturunan Jawa. Film ini kisah cinta Sarwono dari Jawa dengan Pingkan dari Manado. Orang Sulawesi kan kekerabatannya sangat tinggi dan biasanya maunya menikah dengan yang sesuku.

Lalu bagaimana kisah cinta mereka?

Inti dari film ini adalah kekuatan cinta, kekuatan puisi dari seorang Sarwono yang bikin Pingkan jatuh cinta. Lalu ada Katsuo, pria Jepang yang lagi belajar di UI dan jadi idola di sana termasuk Pingkan yang mengidolakannya. Jadi ada empat pilihan cinta buat Pingkan, siapa saja orangnya dan gimana ceritanya, ya tonton saja di film ini, hahaha.

Surya Saputra, salah seorang pemain film Hujan Bulan Juni. (Fotografer: Bambang E. Ros, Stylist : Indah Wulansari, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Apa peran kamu di film ini?

Saya jadi dosen namanya pak Tumbelaka di Unsrat, Manado. Dia ini sejak suka sama Pingkan pas pertama kali ketemu, apalagi begtu tahu Pingkan itu orang Manado juga seperti dia wah makim suka lah dia sama Pingkan.

Ada persiapan khusus buat mendalami karakter orang Manado?

Nah itu dia, saya deg-degan luar biasa, baru kali ini saya seperti ini selama main film. Saya belum pernah jadi orang Manado sebelumnya tapi persiapannya agak singkat. Nah, untungnya saya dibantu sama pemain-pemain Manado asli buat belajar logat, aksen sampai gestur orang Manado itu seperti apa. Ditambah dengan garis besar ceritanya yang sudah saya baca, jadilah karakter pak Tumbelaka di film ini.

Apa yang menarik dari film Hujan Bulan Juni?

Yang menarik, pastinya soal puisinya, Kalau kita punya rasa estetika yang kuat kita bakal menyukai film ini dan terhibur dengan puisi-puisi yang indah. Mata kita juga dihibur dengan gambar dan pemandangan yang indah luar biasa yang dihadirkan mas Hestu Saputra selaku sutradara. Hati kita juga dihibur pastinya. Bagi saya, ini film yang deeper, dalem banget.

Pernah baca buku Hujan Bulan Juni?

Saya belum baca bukunya, tapi sudah seirng baca puisinya pak Sapardi. Saya malah ingat ada lagu judulnya Aku Ingin di tahun 90-an yang diambul dari puisinya pak Sapardi. Nama penyanyinya saya lupa, tapi syairnya dan artinya dalem banget, kayaknya bagus juga kalo dibikin film, hehehe.

Surya Saputra, salah seorang pemain film Hujan Bulan Juni. (Fotografer: Bambang E. Ros, Stylist : Indah Wulansari, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Apa pesan dari film ini?

Pesannya, mungkin tentang kekuatan cinta, selain itu ada banyak hal yang bisa kita dapatkan di film ini. Misalnya lewat sebuah dialog ini, kata Sarwono, saya gak takut sama Benny, cowok Manado yang naksir Pingkan tapi sama Katsu. Lalu kata Pingkan, bikin dong Katsuo takut sama kamu, tapi kata Sarwono itu tugas kamu dong. Jadi maksudnya dalem banget, si ceweknya harus bisa menunjukkan sikap kalau hatinya sudah milik orang lain, wah ini dalem banget.

Apa harapan terhadap Hujan Bulan Juni?

Harapannya, mereka yang nonton bisa, terus makin cinta puisi/sastra Indonesia, lalu orang bakal lebih cinta Indonesia. Karena negara kita ini indah banget, jadi eksplor dulu negara kita sendiri sebelum keluar negeri. Oh iya, film ini juga syuting di Jepang selain di Manado dan Jakarta. Di film ini kita bisa lihat kalau Indonesia nggak kalah indah dari Jepang.

 

 

 

Rencana Surya Saputra di Belakang Layar

Surya Saputra sudah cukup lama berkiprah di bidang akting. Berbagai peran sudah pernah dilakoninya termasuk sebagai seorang dosen di film terbarunya, Hujan Bulan Juni. Lalu peran seperti apa lagi yang ingin dimainkannya dan apa rencana Surya ke depannya nanti?

Selain Hujan Bulan Juni, ada proyek apa lagi?

Proyek lain, ada sinetron baru di bulan November. Kalo film di bulan Desember, tapi belum bisa kasih tau sekarang, hahaha.

Kalau disuruh memilih, lebih enak mana main film atau sinetron?

Lebih seru mana, sama-sama enak sih. Jujur aja, film yang paling saya senang itu ya persiapannya, itu yang bagus dan bikin film terasa lebih real, karena film itu lebih kepada bagaimana kita bisa ‘make believe’ atau membuat penonton percaya. Kayak di Iron Man misalnya, karakternya kan harus make believe, bahkan Star Wars pun harus make believe.

Kalau sinetron?

Sinetron beda, kita harus siap kapan saja, karena buat memenuhi tuntutan di jaman yang serba instan ini. Yah, masing-masing ada tantangannya sendiri, jadi i don’t wanna choose, saya pilih dua-duanya aja, hahaha.

Surya Saputra, salah seorang pemain film Hujan Bulan Juni. (Fotografer: Bambang E. Ros, Stylist : Indah Wulansari, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Sedikit flashback, ibu kamu seorang pemain film dan apa karena itu kami juga memilih dunia akting?

Iya, saya dari kecil memang sudah main film. Kebetulan ibu saya memang pemain film. Waktu kecil saya sudah diajak main film. Salah satunya jadi pemeran karakter yang diperankan Roy Marten waktu masih anak-anak. Saya cuma suruh nangis doang, ya cuma tampil sebentar aja, hehehe. Tapi setelah itu nggak ada minat buat jadi pemain film. Waktu kecil maunya main aja, sekolah dan naik kelas.

Lalu kamu pernah di bidang musik dan kemudian kembali lagi ke akting, kenapa?

Iya saya kan di grup vokal Cool Colors bareng Ari Sihasale sama Teuku Ryan. Kita lumayan sering dapat tawaran manggung tapi lebih sering ditolak karena waktu itu kan Ari sama Ryan sibuk syuting sinetron. Wah kalo kayak gini susah buat bermusik, ya udah saya coba syuting lagi deh.

Setelah itu langsung main sinetron?

Awalnya saya main di sinetron Starvision, judulnya Harkat Wanita. Saya bilang sama pak (Chand) Parwez, boleh nggak saya coba dulu karena takutnya mengecewakan. Tapi ternyata setelah dicoba sutradara dan produsernya suka. Saya waktu itu main sama yang lebih senior kayak mbak Ully Artha dan Asrul Zulmi, itu di tahun 1995. Dan meski sempat gugup ternyata banyak dipuji. Sejak itu saya seperti menemukan dunia yang saya suka.

Apa yang bikin kamu menyukai akting?

Karena di akting kita bisa jadi siapa saja, bisa jadi orang lain tapi setelah itu kembali jadi diri sendiri.

Surya Saputra, salah seorang pemain film Hujan Bulan Juni. (Fotografer: Bambang E. Ros, Stylist : Indah Wulansari, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Setelah ini, apa rencana dan harapan kamu ke depannya?

Saya ada rencana buat berkarya di belakang layar, pengin jadi sutradara. Tapi itu baru rencana, pelan-pelan dulu lah karena butuh waktu dan proses. Saya juga mesti belajar dulu mungkin dengan membuat film pendek dulu.

Sudah banyak peran pernah dibawakan, peran seperti apa lagi yang mau dimainkan?

Kalau peran, pengen peran yang beda dan nyeleneh, keluar dari zona nyaman. Kayak di Hangout, saya jadi karakter cowok metroseksual, anti-kotor meski tetep pake nama sendiri. Di situ saya mesti mengubah gestur, cara ngomong dan banyak lagi. Jadi peran apa aja sih, yang penting bisa keluar dari zona nyaman.

Dengan perjalanan karir yang sudah panjang dan melewati banyak pengalaman serta cerita, Surya Saputra masih mampu eksis sampai saat ini. Ayah dari sepasang anak kembar ini terbukti mampu beradaptasi dan tentunya mau belajar sehingga kemampuannya terus terasah dan tergali, Kita tentu masih akan melihat dan menunggu penampilan berikutnya dari Surya Saputra, termasuk di film terbarunya Hujan Bulan Juni.

 

Loading