Sukses

News & Entertainment

Apa Kabar Soraya Haque?

Sore itu saat FIMELA.com menyambanginya di Balai Budaya, Menteng, Aya, panggilan akrab presenter kesehatan ini, sedang wira-wiri mempersiapkan pameran lukisan Samuel Santoso, seorang anak penderita down syndrome yang mempunyai bakat melukis. Keterlibatannya di bidang ini diakuinya sudah djalaninya selama empat tahun sebagai sukarelawan. Ia mengaku sudah tidak lagi mempunyai passion di  dunia model karena tidak ingin terjebak dalam masalah bentuk tubuh, muka yang muda, dan segala hal fisik yang sangat pendek umurnya, sehingga ia kembali ke minat awalnya yaitu manusia dan alam.

“Saya mulai modelling sejak berumur 16 tahun. Fase menyenangkan berprofesi di fashion catwalk adalah di bawah usia 30 tahun dan saya berhenti di umur 26 tahun. Setelah itu, saya fokus di modelling school, lalu saya naikkan fokus saya untuk berbicara tentang sumber daya manusia, dan kini saya tingkatkan lagi passion saya ke level manusia secara luas. Passion untuk ke dunia seni tidak akan pernah bisa mati dan seni itu sangat luas. Kan tidak harus tampil di televisi lewat sinetron stripping atau bernyanyi di depan kamera untuk berseni. Seperti bermusik, tidak ada kata pensiun untuk seorang musisi.  Tidak ada pensiun untuk bintang film, karena sebenarnya pasti ada jeda waktu seseorang untuk berubah. Memang ada waktunya untuk berubah dan saya siap untuk berubah. Saya bemertamofosis sesuai kebutuhan alam. Saya menjalani hidup ini bukan untuk terdorong menjadi apa yang saya mau dan berambisi terlalu besar. Banyak terdengar suara di kuping saya beberapa orang terjun ke politik di masa tuanya supaya ada kerjaan. Saya tidak mau diperbudak oleh kondisi karena ingin hidup saya senang,” papar perempuan yang dulu ingin menjadi astronot ini.

Soraya Haque ingin banyak membantu orang

Profesinya sebagai pengajar dalam bidang sumber daya manusia juga bisa memenuhi keinginannya untuk berbagi. Baginya, masalah manusia tidak akan habis dikupas dan bidang ini memberinya kesempatan untuk meninggalkan jejak-jekak yang berguna untuk orang lain. “Mungkin itu karena cita-cita saya ingin jadi dokter tapi tidak kesampaian, makanya minat saya terhadap kesehatan, manusia, dan alam semesta, sangat besar,” alasannya. “Saya adalah orang hukum yang mengerti tentang manusia, kesehatan, seni, dan ingin semua ilmu yang saya kuasai bisa berguna untuk orang lain,” timpalnya.

Lalu, apa yang harus kita tiru untuk mendapatkan semangat dan kesegaran seperti Aya di umur matangnya? “Orang kalau mau sehat, tidak bisa hanya memperhatikan salah satu makanan. Tidak bisa olahraganya saja yang digenjot. Coba perhatikan bagaimana orang yang tinggal di desa, mereka jauh lebih sehat dibanding warga kota. Seorang teman yang makanannya bagus dengan frekuensi olahraga yang tinggi, baru saja meninggal. Teman yang lain menjadi vegetarian, namun 15 tahun kemudian kena kanker. Jadi, yang bisa saya katakan di sini adalah hidup harus seimbang. Dan, pikiran yang menjadi fokus pertama, karena bila pikiran kita kemana-mana akan berefek pada hormon.  Maka, bekerja adalah jawabannya. Bergeraklah minimal 30 menit setiap hari, tidak usah repot pakai treadmill atau hal-hal rumit, bergeraklah untuk melakukan apa saja. Karena prinsip saya, bila manusia berbaring itu tanda ia sakit. Saya menganut prinsip orang desa saja,” ungkap perempuan yang penah menjadi Duta Helen Keller International ini.

;
Loading