Sukses

News & Entertainment

Sentuhan Tangan Dingin Marcello Sidharta dalam Interior Ruangan

Next

Marcello Sidharta

Di atas sofa nyaman yang berada di lounge kantor FIMELA.com, Cello, pria ramah ini biasa dipanggil, ia mulai menceritakan awal kariernya di dunia desain interior.

“Selain dari backgroundstudy arsitektur di Universitas Tarumanegara, setelah lulus saya kerja di sebuah konsultan arsitek. Selang setahun-2 tahun, saya mendapat tawaran dari teman-teman untuk mendesain apartemen atau kantor mereka. Tawaran itu makin banyak dan saya harus fokus, maka saya mulai untuk berdiri dengan nama sendiri. Kalau dihitung-hitung, dari hanya proyek teman sampai sekarang menjadi profesional, sudah berjalan hampir 5 tahun.”

Dalam menata ruang, Cello mengaku selalu menerapkan filosofi pribadinya. Apa itu?

“Dalam mendesain, saya selalu berpikir bahwa proyek itu adalah kolaborasi antara desain saya sebagai desainer dan keinginan klien. Makanya, saya selalu berusaha untuk melihat segala sesuatu dari kacamata klien, kebutuhan mereka apa, entah itu permintaan mereka dari sisi fungsi, bujet, atau apapun, itu selalu jadi pemikiran utama. Mungkin saya nggak seidealis teman-teman desainer lainnya, karena buat saya keberhasilan suatu proyek adalah dimana klien senang dengan hasil kerja saya. Misalnya untuk proyek rumah, buat apa saya bikin sekeren-kerennya menurut saya, tapi klien yang meninggali rumah itu merasa nggak nyaman. Belum tentu bagus menurut saya, tapi klien nggak suka. Biar bagaimanapun, saya harus mengikuti kemauan klien, karena yang akan mendiami tempat itu dia. Jadi, kolaborasi itu sangat penting, antara kemauan klien dan apa yang bisa berikan ke proyek tersebut.”

Ada anggapan bahwa portfolio seorang desainer interior bisa didapatkan dari hanya mengerjakan projek berbujet besar atau properti milik orang terkenal. Benarkah begitu?

“Bagi saya, hal seperti itu nggak wajib, tapi memang membantu, karena exposure-nya pasti besar bila mengerjakan sebuah proyek yang besar atau milik klien yang bereputasi tinggi. Walaupun, banyak arsitek lain yang saya kenal maupun yang saya lihat karyanya, justru terkenal karena mengerjakan low budget project. Jadi saya rasa, setiap desainer kembali ke dirinya masing-masing, mau diarahkan ke mana. Selama ini, saya banyak mengerjakan private project, karena karier saya bermula dati tawaran teman-teman. Seperti Restoran Mi Item, itu saya desain karena berteman dekat dengan Olivia dan Tia, pemiliknya. Tapi semakin ke sini, saya semakin selektif karena memilih klien berdasarkan kepribadian orangnya, apakah klien ini melihat pekerjaan saya sebagai bentuk penghargaan desain atau dia sama sekali nggak mengerti desain. Karena, kecenderungan orang yang nggak mengerti desain, dia akan kaget dengan bujet yang diperlukan. Mereka akan berpikir bahwa tanpa desainer interior berbiaya tinggi pun, mereka  bisa mengerjakan. Nah, orang-orang seperti ini yang mulai saya tinggalkan. Dulu sih saya masih mau memberi pengertian kenapa dengan bantuan desain interior biayanya bisa sebesar ini, kenapa menggunakan material ini, namun untuk sekarang saya harus mulai selektif.”

Jadi,  seseorang yang ingin menggunakan desainer interior harus mengeluarkan biaya besar?

“Kalau menurut saya, seseorang yang mau menggunakan jasa desainer interior harus orang yang bisa menghargai desain, dia tahu bahwa dengan desainer biayanya pasti akan lebih besar dibanding tanpa bantuan desainer. Tapi, yang perlu dicatat adalah, nggak selalu memerlukan bujet besar untuk bantuan desainer interior, karena seperti yang saya bilang tadi, ada beberapa desainer yang mengerjakan proyek dengan bujet rendah dan masih bisa memuaskan kliennya. Untuk saya pribadi, dari awal lebih suka dengan private project, karena hubungan saya dengan klien lebih terbangun.”

Next

Marcello Sidharta

Sebagai seseorang yang memulai karier di usia muda dan kini sudah mulai menanjak, Cello nggak pernah melupakan motto bekerjanya.

Creative is a must. Kalimat itu sampai saya tulis di tembok kantor, agar terus memacu saya kalau sedang jenuh atau stuck. Selalu menjadi kreatif adalah keharusan untuk seorang desainer, karena kalau nggak kreatif, buat apa jadi desainer? Nah, ketika saya stuck ide, biasanya saya mengajak teman main billyard atau nonton, pokoknya mengerjakan sesuatu yang sifatnya fun. Biasanya, hal paling gampang untuk dilakukan saat sedang stuck adalah menarik salah satu karyawan dan saya ajak ngobrol apa saja. Kalau sudah merasa segar, saya kembali lagi ke ruangan kerja.”

Dengan makin ketatnya persaingan desainer interior di Indonesia, khususnya di Ibukota, Cello merasa perlu untuk memberikan citarasa khusus yang menjadi khasnya.

“Fungsional dan simple. Saya suka dengan kesan bersih dan bidang-bidang yang simple, nggak terlalu suka yang overdo. Makanya, kalau orang yang nggak sepemikiran dengan gaya saya, menganggap hasil pekerjaan saya belum tuntas, padahal untuk beberapa proyek hunian, memang sengaja saya nggak selesaikan, saya beri space atau ruang,supaya klien bisa ikut berkreasi, karena pastidia yang paling tahu mau dibikin seperti apa rumahnya. Personal touch dalam suatu proyek privat cuma bisa diberikan oleh klien yang bersangkutan, karena ya itu tadi, kolaborasi itu harus ada. Pokoknya, setiap kali saya mendesain, saya membayangkan seperti sedang melukis. Suatu proyek itu adalah kanvas.”

Dan ia pun memberitahu siapa desainer favorit yang menjadi sumber inspirasinya.

“Dari luar negeri, saya sangat suka SCDA dari Singapura, kalau lokal saya sangat mengagumi Andra Martin, karena bahasa yang mereka sampaikan melalui karya mereka sangat mengena buat saya. Setiap kali saya melihat hasil karya mereka, saya selalu merasa karya mereka berhasil. Kalau saya yang menjadi klien mereka, pasti saya senang banget. Itulah yang menginsiprasi saya untuk melakukan hal yang sama. Pesan yang coba disampaikanoleh kedua idola tersebut, saya tangkap dan pelajari. Dari karya-karya yang sudah saya kerjakan, saya bisa bilang bahwa proyek saya untuk Yamakawa Rattan Furniture shop di Kemang adalah yang paling memuaskan dan beruntung klien saya juga memahami dan berani mewujudkan desain yang saya kerjakan untuk tempat itu.”

Sebelum Cello beranjak pergi dan melanjutkan aktivitasnya, FIMELA.com meminta sarannya untuk mewujudkan hunian yang nyaman.

“Hunian yang nyaman itu harus spacious, serta bisa berinteraksi dan saling menyatu dengan eksterior di sekelilingnya, entah itu dari pencahayaan alami atau sistem udara, pokoknya bukan hunian yang menutup diri. Spacious di sini maksudnya bukan punya kamar yang besar dan luas, tapi perasaan yang didapat dan visual yang dilihat. Bisa saja kamar tidur hanya berukuran 3x3 atau 4x4, tapi di depannya diberi cermin dan ada halaman yang bisa dinikmati setiap saat. Perasaan dan kesan spacious bisa didapatkan dengan penataan yang pas, bukan membuang-buang lahan untuk membuat suatu ruangan yang super besar. Yang pasti sebuah hunian itu harus mempunyai nyawa dan yang menghidupkan tempat tersebut hanya yang mendiami rumah tersebut. Untuk memberikan nyawa tersebut, pemilik rumah sedikit banyak harus mau mempelajari tentang apa yang dia mau dan gaya yang diinginkan, dan Itu akan  terlihat dari furnishing-nya, baik dari peletakan artwork maupun pemilihan permainan warna. Dan, bila si pemilik rumah bahagia menempati hunian tersebut, maka nyawa tersebut sudah didapatkan.

;
Loading