Sukses

News & Entertainment

Soegija, Presentasi Kolosal Non Religius

soegija

Image by Rumahmimpi.net

Sepertinya susah mengharapkan agar sutradara Garin Nugroho untuk bisa menghasilkan film yang nggak perlu mikir bagi kita para penikmat film nasional. Garin memang terkenal sebagai sutradara yang gemar membuat film-film ‘berat’ kelas festival, film-film yang mengeksplorasi humanisme, absurditas hidup, dan sisi-sisi hidup yang setiap hari kita nafikan. Apa yang ingin diraih seorang Garin dari film terbarunya ini?

“Soegija” diangkat dari sosok pahlawan nasional Albertus Soegijapranata. Soegijapranata adalah Uskup pribumi pertama di era masa perjuangan kemerdekaan 1940an hingga awal 1950an dan film ini mengambil bahan dari jurnal yang dibuat Soegija semasa hidupnya. Meski memiliki judul dengan nama seseorang, film ini justru tidak berkisah sepenuhnya tentang Soegija, yang kemudian menjadi bahan kritikan karena dianggap sosok Soegija malah menjadi redup dan penonton semacam kekurangan bahan untuk mengenal sosok tersebut lebih lanjut.

Garin sendiri mengakui bahwa dengan beberapa karakter lain yang dihadirkan di film ini ia memang ingin berbicara tentang nilai multikulturalisme itu sendiri. Wawasan kesatuan dan kebangsaan yang akhir-akhir ini terkikis (dan bisa jadi sebagai cara agar film ini tidak berkesan terlalu religius dan diserang banyak pihak sebagai sebuah propaganda Kristenisasi). Soegija, menurut Garin, adalah tokoh yang menyampaikan nilai-nilai kemanusiaan dan nasionalisme yang tentunya masih relevan hingga sekarang. Sisi itu yang ingin ia sampaikan, agar menjadi perhatian banyak orang, bagi pemerintah yang menurutnya harus segera membereskan agenda satu ini.

Tokoh Soegija sendiri diperankan oleh penulis Nirwan Dewanto. Uniknya, ini adalah film pertama Nirwan, dan ia sendiri bukan penganut Katolik. Garin memilih Nirwan karena memang secara  fisik Nirwan sangat mirip dengan tokoh Soegija. Banyak persiapan yang harus dijalani Nirwan, karena tokoh Soegija yang juga adalah seorang penulis dan pemikir itu sempat mengenyam pendidikan di Belanda dan berbahasa Belanda, Latin, dan Jawa dengan fasih. Tuntutan mutlak bagi seorang aktor saat harus berperan dalam sebuah film tentang biografi tentang seseorang. Bukan hanya seseorang tapi tokoh.

Film yang mengambil era perang kemerdekaan sebagai latar belakang penceritaan ini memperlihatkan pada kita timeline sejarang bangsa Indonesia. Mulai pendudukan Belanda, Jepang, masa kemerdekaan, hingga datangnya sekutu. Tokoh teater dan budayawan Butet Kertarajasa dan aktris Olga Lydia juga bisa kita saksikan aktingnya di film ini. Entah untuk melengkapi paket promosi film, tapi penulis, jurnalis dan aktivis Ayu Utami juga baru saja merilis sebuah novel  dengan judul yang sama. Kabarnya novel ini menjadi novel tercepat yang pernah Ayu tulis. Hanya dalam waktu dua minggu. Tapi Ayu mengaku sebelumnya ia sudah pernah membaca banyak referensi tentang tokoh tersebut, yang kemudian memudahkan ia dalam proses penulisan.  Sudah lihat filmnya? Mungkin bisa sambil membaca bukunya. Kenali tokoh perjuangan ini dan nilai-nilai yang ia perjuangkan semasa hidupnya.

Loading